Kegiatan

 

Walang Perempuan Mendorong Partisipasi Politik Perempuan Adat di Ambon

26 September 2018
Penulis: Drevina Andarini

“Perempuan punya pilihan. Apabila diberi ruang dan kepercayaan, dia akan mempersembahkan yang terbaik bagi negerinya,” ungkap Enggelina Fitione Angkotamony, Sekretaris Saniri Negeri (Desa) Hukurila, Kota Ambon, Maluku. Partisipasi aktif perempuan yang akrab disapa Mama Nona  ini dalam Saniri, sebutan bagi badan pemerintahan adat di tingkat desa, kini dimungkinkan berkat kerja Yayasan Walang Perempuan.

Bermitra dengan Program MAMPU dari tahun 2015 hingga Juni 2018 sebagai salah satu penerima dana hibah inovasi, Walang Perempuan mendorong penguatan kapasitas dan peran perempuan adat melalui penguatan institusi negeri adat. Selain di Negeri Hukurila, program juga berjalan di Negeri Laihari, Hatalai, Kilang, dan Latuhalat. Hasilnya, para tetua adat di kelima negeri dampingan mengalami perubahan cara pandang terhadap penerapan aturan adat, dan perempuan adat menjadi lebih percaya diri untuk berpartisipasi aktif dalam lembaga-lembaga di tingkat negeri.

Capaian Yayasan Walang Perempuan:

  • Keterwakilan perempuan dalam kepengurusan Saniri di Negeri Hukurila, Hatalai, dan Kilang
  • Terbitnya Peraturan Negeri dan turunannya, yaitu Peraturan Raja, yang mengatur sistem pemilihan Saniri Negeri dan partisipasi perempuan di dalamnya, di 5 negeri dampingan
  • Terbitnya Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Kegiatan dan Penganggaran (RKP) Negeri di 5 negeri dampingan, dokumen perencanaan di tingkat negeri pertama di Kota Ambon
  • Pembuatan modul pelatihan penyusunan RPJM, yang kemudian digunakan oleh Pemerintah Kota Ambon untuk pelatihan di 25 desa lainnya.
  • Berdirinya Badan Usaha Milik Negeri (BUMNeg) di 5 negeri dampingan
  • Terbentuknya Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) yang aktif melibatkan perempuan di 5 negeri dampingan