Cerita

YEP Bekerja Sama dengan Polres dan Pastur Berantas Perdagangan Manusia di Batam

“Sebenarnya shelter-nya sudah ada, tapi sekarang sudah mau roboh, sudah nggak ada atapnya,” demikian tukas Iptu Said, Kanit PPA (Ketua Unit Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Barelang, Batam, ketika berkisah tentang rumah tempat penampungan korban dalam kasus-kasus perdagangan manusia atau human trafficking yang kerap terjadi di Pulau Batam.

Dalam kasus-kasus trafficking, biasanya proses penyidikan memakan waktu sekitar 6 bulan. Setelah semua berkas rampung, kepolisian harus mengajukan berkas-berkas ke Kejaksaan. Jika masih ada berkas yang belum lengkap, mereka pun memerlukan tambahan waktu untuk melengkapinya. Selama proses inilah, korban perlu ditampung di rumah aman—atau shelter.

“Ya, kita tidak ada anggaran yang cukup untuk membuat shelter,” ujar Iptu Said. “Sebenarnya sekarang ada P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak), tapi untuk anggaran 2015 belum ada.”

Beberapa minggu berselang, Polres Barelang baru saja menemukan korban anak-anak di bawah umur yang dijadikan pekerja seks di sebuah tempat hiburan malam di Kota Batam. “Mereka orang Bandung,” ujar Iptu Said. “Kebetulan kemarin kita minta bantuan Yayasan Embun Pelangi (YEP) untuk mencari identitas para korban, karena mereka di bawah umur dan nggak ada identitasnya. Setelah itu YEP juga bersedia menampung korban di shelter mereka sampai pemulangan ke daerah asal korban, jadi kita koordinasi di situ.”

“Ya, ini juga jadi beban YEP, ya, karena duitnya dari mana,” Kang Irwan dari YEP tertawa miris. “Harusnya Pemerintah Kota kita lebih berdaya.”

“Ya, dan karena YEP shelter-nya di perumahan, masyarakat banyak yang komplain, karena ramai itu anak-anak,” ujar Iptu Said. “Karena orang dunia malam, mereka nggak bisa tidur, paling cepat jam 4 atau jam 5 baru tidur. Ribut terus. Makanya masyarakat komplain, karena letaknya di perumahan.”

“Dan kadang mereka itu karena biasa diberi makan enak ketika kerja di tempat hiburan malam, suka nggak mau juga kalau dikasih makan seadanya,” ujar Kang Irwan. “Jadi ya, kita kadang-kadang harus bawa mereka juga makan enak di restoran, kalau nggak nanti mereka kabur atau lari, malah repot. Tapi ya itu, biaya makan aja bisa jadi besar. Apalagi kalau mereka lama nunggu pemulangannya.”

Brigadir Toni, yang biasa membantu Iptu Said dalam menyidik kasus-kasus trafficking, juga terkadang merasa miris karena korban yang diselamatkan malah berbalik membencinya. “Ya, mereka kan kita selamatkan karena mereka masih di bawah umur, tapi ada juga yang kemudian berpikir bahwa kita membuat mereka kehilangan pekerjaan. Mereka marah karena diselamatkan, dan malah minta dikembalikan supaya bisa bekerja kembali, seperti kita yang jadi orang jahatnya,” ia bertutur.

Selain berkoordinasi baik dengan Kepolisian Kota Batam, YEP juga bekerja sama dengan pastur dan gereja.

“Di sini itu banyak korban trafficking yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, itu kan kebanyakan orang Katolik,” ujar Kang Irwan. “Jadi kalau mereka disekap atau mengalami kekerasan dan mau melarikan diri, biasanya mereka lari ke mana lagi kalau bukan ke Gereja.”

Beberapa korban trafficking yang melarikan diri memang biasanya akan tertangkap kembali oleh para bodyguard di tempat hiburan malam. Mereka kebanyakan didatangkan dari luar Batam, sehingga ketika mereka melarikan diri, mereka tak tahu arah mana yang harus mereka tuju ketika mereka lari. Akhirnya mereka hanya berputar-putar tanpa tujuan.

Karena itu, gereja yang kemudian dianggap sebagai tempat berlindung ini dilihat YEP sebagai peluang baik. “Daripada mereka lari nggak jelas ke mana, lebih baik ke Gereja, jadi nanti kita bisa bantu kalau ada laporan dari Pastur,” ujarnya.

YEP pun kerap berdiskusi dengan Pastur mengenai berbagai persoalan seputar kekerasan terhadap perempuan dan perdagangan manusia. “Lucunya kan bukan hanya korban trafficking saja yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, tapi bodyguard di tempat-tempat hiburan malam itu kan kebanyakan juga dari sana—dan mereka masih sangat menghormati sosok Pastur.”

Kang Irwan berkisah mengenai sebuah penyelamatan (rescue) terhadap korban trafficking, di mana Pastur ikut berperan besar. Ketika para bodyguard mengancam, Pastur-lah yang kemudian pasang badan. Karena mereka tumbuh besar dengan didikan untuk menghormati Pastur, secara naluriah, para bodyguard pun ciut ketika Pastur telah menatap mereka dengan galak. Meski siap dengan berbagai senjata tajam, mereka tak berani menghalangi sang Pastur menyelamatkan korban. (***)