Cerita Perubahan

Semangat Berbagi Seorang Penyintas

12 November 2018
Penulis: Puji Maharani

Pertama bergabung dalam Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) Griya Citra Mas pada 2014, Nurhaeda mendapati sebagian besar anggotanya masih segan mendiskusikan kesehatan reproduksi (kespro) secara terbuka. Sebagai koordinator, Nurhaeda menjawab tantangan ini dengan memfasilitasi penyuluhan seputar kespro dalam pertemuan rutin kelompok. Pengalamannya sebagai seorang penyintas kanker payudara turut membekalinya untuk menyebarluaskan pesan tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara dan serviks.

“Saya semangat menyebar pentingnya tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat), supaya ikut mengurangi kematian ibu,” ungkap perempuan asal Desa Biraeng, Kecamatan Minasate’ne, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, ini.

Selain dalam hal pendampingan kesehatan, perempuan yang biasa dipanggil Eda ini aktif mendorong kegiatan ekonomi bagi perempuan di kampungnya. Pada September 2015 lalu, ia resmi diangkat sebagai Anggota Majelis Ekonomi Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Pangkep.

Semangat Nurhaeda terpupuk lewat sejumlah kegiatan pelatihan BSA yang difasilitasi ‘Aisyiyah, mitra MAMPU untuk tema peningkatan kesehatan dan gizi perempuan. Dari sanalah Nurhaeda memperoleh banyak ilmu baru mengenai kespro, termasuk metode deteksi dini SADARI (periksa payudara sendiri) dan gejala-gejala penyakit menular seksual hingga kanker.

Ia meyakini betul, pengetahuan adalah salah satu bekal penting bagi perempuan untuk menaklukkan berbagai tantangan dalam hidupnya. Di usianya yang sudah masuk kepala lima, Nurhaeda tak berhenti belajar, dan tak hanya untuk mencerdaskan dirinya sendiri.

“Kami ini kebanyakan hanya tamatan SD atau SMP. Jadi, harus ikut banyak pelatihan supaya dapat menambah ilmu untuk anak-anak kami ke depannya,” kata ibu tiga anak ini.

Nurhaeda mengakui, ajakan melakukan deteksi dini kanker seperti tes IVA maupun pap smear bagi perempuan yang aktif secara seksual tak selalu ditanggapi positif. Tes IVA yang pertama kali diadakan oleh BSA Griya Citra Mas hanya diikuti oleh tiga dari 20 anggota, termasuk dirinya. Menyadari bahwa mereka mungkin malu membicarakan masalah kespro di depan orang banyak, ia pun mencoba berbagai cara.

“Kalau ada kesempatan, saya main ke rumah mereka. Saya katakan, ‘Jangan malu, karena ini untuk kesehatan Ibu’. Kanker serviks itu penyakit nomor satu pembunuh perempuan,” tandasnya.

Kegigihan Nurhaeda membuahkan hasil. Saat ‘Aisyiyah Pangkep melaksanakan tes IVA, pap smear,  dan sadanis (periksa payudara klinis) massal gratis dalam rangka Hari Kanker Payudara Sedunia pada Oktober 2017, tak hanya hampir seluruh anggota BSA Griya Citra Mas yang ikut serta. “Dari luar anggota BSA juga ada yang ikut,” beber Nurhaeda bangga.

 

Deteksi Dini yang Mengubah Hidup

Sebagai penyintas kanker payudara, Nurhaeda gigih memberikan penyadaran pentingnya deteksi dini kanker. Ia telah dua kali menjalani operasi karena ditemukan benjolan di payudara kanannya, masing-masing tahun 2012 dan 2015. Pengalaman tersebut kerap digunakan Nurhaeda dalam menguatkan perempuan di sekitarnya untuk melakukan deteksi dini, yang tak jarang kemudian mengubah hidup mereka.

Melalui pemeriksaan deteksi dini gratis, dua anggota BSA Griya Citra Mas yang terdeteksi mengidap kanker serviks dan penyakit menular seksual dapat segera memperoleh penanganan lanjutan. Untuk anggota yang terdeteksi kanker, Nurhaedah dan seluruh kader BSA di Kelurahan Biraeng bahu-membahu menggalang donasi yang dinamakan Gerakan IVA Sayang Ibu, yang kemudian digunakan untuk membiayai operasinya.

Konsistensi Nurhaeda mengampanyekan deteksi dini kanker lewat BSA berbuah banyak pengalaman mengesankan baginya. Lewat tes IVA, seorang perempuan yang didampingi Nurhaeda akhirnya mendapati bahwa ia menjadi korban malpraktek bidan yang menangani proses kelahiran anaknya. Akibat kesalahan jahitan pasca melahirkan, ia sering mengalami kesulitan saat berhubungan intim. Dengan ditemukannya pangkal permasalahan, kerenggangan hubungannya dengan suami pun dapat ditanggulangi.

Demikian pula saat Nurhaeda mendorong sesama anggota BSA untuk memeriksakan diri ketika merasakan nyeri payudara, dan meyakinkan mereka agar tak takut dioperasi apabila memang harus. Berkaca pada pengalaman pribadinya, Nurhaeda meyakini bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati, namun ketika dibutuhkan, pengobatan medis tetap perlu ditempuh.

“Saya tidak ingin ada yang terlambat dalam melakukan pemeriksaan dini untuk penyakit kanker payudara ataupun kanker serviks. Saya tidak ingin perempuan lain mengalami hal yang sama seperti saya,” pungkasnya, mantap.