Cerita

Peserta Konferensi Nasional MAMPU Tegaskan Perempuan Harus Satu Visi Berantas Kemiskinan

Ada satu hal yang menarik di dalam Konferensi Nasional MAMPU Perempuan Inspirasi Perubahan pada Mei tahun 2015 lalu. Semangat para peserta yang ditunjukkan di dalam sesi dari diskusi kelompok formal hingga sesi informal, sangat memberikan semangat baru.

“Semangat ini yang harus terus dipertahankan ketika kembali ke daerah masing-masing. Selalu ada hal yang bisa dipelajari dari kebersamaan di dalam konferensi”, ujar Emma Yohana, anggota DPD RI asal Sumatera Barat ketika ditanyakan tentang hal yang berkesan dalam penyelenggaraan Konferensi Nasional MAMPU.

Emma paham bahwa semangat para peserta untuk bersama-sama membangun bangsa, mengentaskan kemiskinan, terutama melalui program-program pemberdayaan perempuan harus terus terjaga, karena setiap orang akan menghadapi tantangan yang berbeda-beda ketika kembali ke daerah masing-masing.

Perempuan, Pemimpin yang Sensitif dan Penuh Tantangan

Satu hal yang digarisbawahi oleh Emma adalah bahwa perempuan harus satu visi, yaitu bersama-sama berupaya untuk bersinergi dengan tujuan mengentaskan kemiskinan dengan memberdayakan perempuan miskin, khususnya di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

“Saat ini keterwakilan perempuan di parlemen masih belum signifikan, jumlah pemimpin perempuan belum ada 30%, sehingga jika ada suara yang berbeda, ini akan mengurangi kesolidan suara,” ungkapnya.

Emma percaya bahwa ketika perempuan memimpin dalam bentuk apapun, maka kebijakan-kebijakan yang dilahirkannya akan sangat sensitif. Perempuan tidak hanya menggunakan logika mereka, tetapi ada empati besar yang juga bermain di dalam kepemimpinan mereka. Perempuan ketika akan melakukan kesalahan, mereka berpikir berulang-ulang kali karena tidak ingin mempermalukan orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Tantangan yang dihadapi oleh perempuan sebagai pemimpin sangat besar. Ketika akan berkiprah di luar rumah, sudah pasti akan menemui banyak pertanyaan yang dikaitkan dengan stereotip tanggung jawab perempuan sebagai pengelola rumah tangga.

Setiap mencalonkan diri, perempuan harus siap ditanya bagaimana rumah tangga mereka, siapa yang akan mengurus dan merawat keluarganya. Sementara pertanyaan seperti itu tidak akan ditanyakan kepada para calon pemimpin laki-laki.

Tidak Ada Solusi Tunggal

Kembali ke konteks konferensi nasional, idealnya semangat yang ditunjukkan pada saat berada di dalam konferensi itu, tidak berhenti sampai di situ saja.

“Ketika teman-teman kembali ke daerah masing-masing, hendaklah petakan permasalahan di daerah mereka. Indonesia adalah negara yang sangat luas, jadi tidak ada solusi tunggal yang instan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa. Bahkan jika perlu, konferensi-konferensi semacam itu diadakan secara lokal di tiap-tiap regional,” ungkap Emma.

Beliau pun melihat Indonesia bisa dibagi menjadi tiga wilayah, yaitu; Barat, Tengah dan Timur melihat permasalahan di tiap wilayah tersebut kurang lebih sama.

Ada satu hal yang dicermati oleh Emma yaitu bahwa antusiasme anggota dewan perempuan ini menurun belakangan ini.

“Dulu di awal-awal perjuangan perempuan sampai ada istilah partai balkon, saking para perempuan bersemangat menyuarakan diri. Sekarang sepertinya ketika sudah terpilih semangatnya menurun,” Emma mengungkapkan kekhawatirannya.

Hal ini yang oleh Emma sekali lagi ditekankan, perempuan harus mempertahankan semangat memperjuangkan sesama perempuan, terutama dalam upaya pengentasan kemiskinan.

“Mengapa harus perempuan? Karena berbicara tentang kemiskinan, perempuanlah yang paling merasakan akibatnya. Perempuan menjadi wajah-wajah kemiskinan tersebut. Jadi jika bukan sesama perempuan, maka siapa lagi yang akan memperjuangkan upaya pengentasan kemiskinan,” tegas Emma.

Menurut pandangan Emma program-program pengentasan kemiskinan dengan pemberdayaan perempuan yang dilakukan oleh baik pemerintah maupun organisasi kemasyarakatan lain adalah program yang paling tepat. Banyak forum yang dibuat untuk upaya pengentasan kemiskinan, keberlangsungan forum-forum untuk mengawal setiap program pengentasan kemiskinan yang harus sama-sama dijaga oleh setiap orang.

“Perempuan harus satu visi, jangan saling menjatuhkan! Semangat dan terus berjuang bersama,” tegas Emma sembari menutup wawancara dengan MAMPU.