Cerita Perubahan

Perempuan-Perempuan Desa Sisobaoho, Sumatera Utara Tak Lagi Tabu Bahas Kesehatan Alat Kelamin

9 Mei 2018
Penulis: admin

PEREMPUAN-PEREMPUAN itu datang untuk menabung. Mereka berkumpul di sebuah rumah sederhana yang menjadi pusat kegiatan Unit Fariawosa di Desa Sisobaoho, Nias Barat, Sumatera Utara. Sebulan sekali, mereka menyetorkan uang hasil pendapatan mereka kepada pengurus unit. Sebagian juga mengajukan permohonan untuk meminjam uang.

“Setelah 6 bulan menabung, baru peserta bisa memohon pinjaman,” ujar Kak Berliana, salah satu pendamping lapangan dari Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA) yang hadir siang itu.

“Itu pun akan disurvei dulu, memastikan pinjamnya hanya untuk biaya usaha atau untuk biaya sekolah anak. Jadi tidak bisa kalau dipakai untuk beli beras, misalnya. Untuk meminjam pun ada surat permohonan yang harus diisi, dan harus ada penjaminnya. Kita ini sistemnya tanggung-renteng. Jadi penjamin punya tanggung-jawab untuk mendesak anggota kalau dia tidak bayar; mengapa sampai belum dibayar? Jadi tanggung jawab penjamin lebih seperti itu. Kalau tanggung jawab membayarkan hutang sih siapa yang mau!” kelakar Kak Berliana, disambut tawa perempuan-perempuan Unit Fariawosa.

Siang itu, tawa memang mendominasi pertemuan kelompok Desa Sisobaoho. Ada sekitar dua puluh perempuan tua dan muda yang berkumpul sambil mengobrol, bercanda-canda, dan menyanyikan lagu mengenai perjalanan menuju kebun karet. Menyadap karet memang menjadi salah satu pekerjaan utama perempuan-perempuan di sana. Namun, bukan karet yang mereka perbincangkan hari itu; tetapi perihal tabu dan kutu.

Dibantu Kak Dian—anggota PESADA asli Nias, Kak Berliana menjelaskan mengenai cara-cara menjaga kebersihan alat kelamin perempuan kepada perempuan-perempuan Desa Sisobaoho. Kak Dian membantu menerjemahkannya ke dalam bahasa Nias; bagi perempuan-perempuan yang lebih tua, yang tak terlalu lancar berbahasa Indonesia.

Kak Berliana menjelaskan pentingnya ibu-ibu mencuci bersih alat kelamin masing-masing ketika mandi. “Jangan disabuni atau jangan dibedaki, ya,” kata Kak Berliana. “Vagina cukup dicuci saja dengan air agar bersih, lalu dihanduki hingga kering. Karena sabun itu PH-nya berbeda, tidak bagus. Pakai saja air atau air rebusan daun sirih.” Kak Berliana pun meminta ibu-ibu untuk mengganti pakaian dalam dua kali sehari, pagi dan sore.

“Ah, repot sekali! Mana sempat!” seorang Ibu berseloroh dalam Bahasa Nias, disambut tawa ibu-ibu lainnya. “Paling ya ganti pakaian dalam sekali sehari saja!”

“Bagaimana itu cuma ganti sekali saja? Kita sudah seharian di sawah, di dapur, di kebun, berkeringat, kena lumpur dan pakaian dalam cuma ganti sekali! Alat kelamin kita itu kan tersembunyi, tidak pernah kita jemur-jemur dia kena matahari, kan? Jadi dia kalau kena keringat atau basah itu nanti dia lembab. Kalau tidak dibersihkan dan kotor nanti dia bisa berkutu!”

Perempuan-perempuan Desa Sisobaoho terpekik ngeri sambil menahan tawa. “Berkutu!” mereka berseru! “Bisa begitu, apa?”

“Eh, bisa!” ujar Kak Berliana serius. “Bisa sekali itu berkutu nanti sebabkan gatal dan penyakit. Maka itu kita punya rambut-rambut di alat kelamin itu juga harus dipotong, supaya bersih, jangan dibiarkan terlalu lebat begitu!”

“Potongnya bisa di salon?” seorang Ibu terkikik, disambut tawa geli dari perempuan-perempuan lain yang berkumpul di sana. “Hiii, siapa yang mau potong itu, ya?” Dan perempuan-perempuan Desa Sisobaoho pun tertawa membayangkannya. Namun di sela tawa itu, para perempuan pun jadi bersemangat untuk bertanya dan berdiskusi lebih jauh mengenai kesehatan reproduksi mereka.

“Ya, di sin kami masih malu kalau lancang bicaranya; apalagi kalau ada anak laki-laki. Kalau mereka dengar kan malu. Tadi saja baru masalah kutu dan gatal-gatal itu sudah sampai berteriak tertawa-tawa kami,” kata Ibu Jasarianghia, salah satu pengurus Unit Fariawosa.

“Di sini [nama alat kelamin] tidak boleh dibilang-bilang. Tapi setelah ada sosialisasi begini baru kami mengerti. Dulu kalau disebutkan [nama alat kelamin] di kampung kita itu tidak boleh. Bisa didenda potong babi.”

Kini, Ibu Jasarianghia menyadari pentingnya mengetahui berbagai informasi seputar kesehatan reproduksi, terutama untuk disampaikan kepada anak-anak gadis di Desa Sisobaoho. Mereka sadar bahwa di saat mereka ‘menjaga adat’ dengan tidak membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan seks dan reproduksi, anak-anak mereka telah membuka Internet untuk mencari tahu. Banyak juga kasus di mana remaja-remaja perempuan di Nias berpacaran hingga hamil, menyebabkan bertambahnya kasus kehamilan yang tidak diinginkan di pulau ini.

“Di sini, dulu kalau perempuan hamil di luar nikah, dia tidak dinikahkan dengan pelaku, tapi dilelang. Jadi dikawinkan dengan siapa yang mau, misalnya kakek-kakek atau lelaki yang rendah kecerdasannya, jadi seperti obral begitu. Akhirnya dia menjadi korban kedua kalinya,” Kak Berliana menjelaskan.

Ibu Rosilina Daeli, dukun beranak di Desa Sisobaoho pun, menyadari pentingnya informasi yang ia dapatkan lewat sosialisasi-sosialisasi kelompok semacam ini. “Dulu ibu-ibu melahirkan di sini diurut pakai minyak,” ujarnya. “Sebelum ada pengertian itu, kalau ibu-ibu mau melahirkan, begitu sakit sedikit disuruh dikejan. Tapi setelah ada pemahaman dari ibu-ibu di Credit Union, baru ada pengertian kalau melahirkan memang biasa itu sakit dahulu. Itu anak bergerak. Nanti ada waktunya bayi sudah mau keluar, baru kita mengejan. Jadi sekarang ibu hamil di sini tidak terlalu capek lagi kalau melahirkan. Dulu baru sakit sedikit saja sudah dipaksa supaya itu bayi cepat keluar.”

Menurut Ibu Rosilina, kini sudah tak ada lagi perempuan Desa Sisobaoho yang berprofesi sebagai dukun beranak. Ia sendiri mempelajari pengetahuannya dari seorang Nenek yang sudah sejak lama menjalani profesi itu. “Capek. Seperti medis kan itu, dipanggil ke mana-mana kapan saja. Hanya Nenek ini yang masih kuat, di mana orang panggil dia datang, dan selama dia menangani tidak pernah ada yang meninggal.”

Ada macam-macam lagi pertanyaan yang dilontarkan perempuan-perempuan Unit Fariawosa siang itu. Mulai dari anak gadis yang tidak pernah mengalami haid hingga usia dewasa, sampai kanker payudara.

“Tapi kami dengar dari bidan, kanker payudara hanya menyerang anak gadis saja,”salah seorang perempuan berkata.

“Wah, tidak benar itu,” ujar Kak Berliana. “Kanker payudara bisa menyerang laki-laki dan perempuan. Dan perempuan semua bisa kena, tua, muda, yang sudah menikah ataupun belum. Jadi tidak benar informasi itu. Kita semua tetap harus menjaga kebersihan payudara dan memperhatikan makanan yang kita konsumsi, beli makanan bergizi agar bisa lebih sehat.”

“Tak ada uangnya!” seorang ibu berseloroh, disambut gelak tawa yang lain.

“Siapa bilang tak ada uangnya!” Kak Berliana menyanggah. “Kalian itu ada uang, tapi dipakai laki-laki sejuta habis buat beli rokok dan tuak saja. Padahal sejuta itu bisa untuk beli susu dan daging, sudah sehat. Itu harus dijelaskan ke bapak-bapak, karet kalian hasilnya banyak, tapi pengelolaan ekonomi rumah tangga kalian harus dicek. Pesta kalian itu berapa, ngawinkan anak itu berapa puluh ekor babi, berapa juta? Kalau dibelikan makanan untuk kalian dan anak-anak, sebenarnya ada uang kalian itu!”

Gumam setuju langsung terdengar dari seluruh penjuru ruangan. Perempuan-perempuan Desa Sisobaoho pun saling berpandangan dan mengangguk-angguk penuh pengertian. Dua orang lelaki desa yang kebetulan mengikuti pertemuan hari itu pun nampak tersipu malu. (***)