Cerita

Perempuan Kepala Keluarga NTT Berdaya lewat Program PEKKA

Perempuan kepala keluarga di Nusa Tenggara Timur (NTT) kian bertambah seiring dengan merantaunya para suami ke daerah lain atau ke luar negeri. Sebagian besar dari mereka tak kembali dan tak menafkahi istri beserta anak-anaknya di kampung halaman. Keadaan ini mendesak para perempuan, yang otomatis menjadi kepala keluarga, untuk memikul tanggung jawab menghidupi diri sendiri juga anak-anaknya.

Banyak program pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat yang masuk ke desa – desa di NTT, salah satunya ke Desa Kolipadan, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata. Bantuan yang diberikan rata-rata hanya cukup untuk kebutuhan jangka pendek, seperti beras miskin (raskin), serta pinjaman uang tunai berbunga dan pembangunan fisik, seperti jalan dan penampungan air hujan. Bantuan tersebut membuat sebagian masyarakat tak bergerak, kurang kreatif dan bermental mengandalkan bantuan. Setelah bantuan habis, tak berdaya lagi.

Melihat kondisi ini, PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga), sebuah organisasi yang tersebar di seluruh Indonesia yang didukung oleh MAMPU, berinisiatif untuk membentuk kelompok kader sebagai wadah untuk memberdayakan para perempuan kepala keluarga. Bernadete Deram (45) adalah salah satu fasilitator pertama di PEKKA yang bergabung sejak 2001. Ia menangani permasalahan organisasi dan menerima konsultasi kelompok. Ia menjadi koordinator kelompok PEKKA untuk Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata. Amanah yang diembannya dilaksanakan dengan totalitas, sehingga tak heran jika komunitas kian berkembang dan anggota PEKKA di daerah binaannya bergabung atas motivasi mereka sendiri. Hal ini dilandasi oleh kebutuhan ilmu, informasi dan relasi. Bernadete dan tim kerap memberikan berbagai pelatihan seperti paralegal, pembukuan dan pengembalian pemahaman tentang kebersamaan, gotong royong serta ketahanan pangan.

Perubahan signifikan terlihat setelah program MAMPU masuk melalui PEKKA, yang memfasilitasi diskusi rutin. Diskusi tersebut memberikan pemahaman yang lebih dalam untuk kemandirian dan memunculkan kreativitas. Dalam diskusi MAMPU, juga diberikan pemahaman tentang hak-hak perempuan kepala keluarga yang sama dengan kepala keluarga laki-laki, seperti berhak diakui secara sah dan berhak memiliki kartu keluarga sendiri untuk kepentingan segala urusan. Dikatakan Bernadete, bahwa selama ini, budaya patriarki masih sangat kuat di wilayah NTT, termasuk di daerah binaannya sehingga mayoritas perempuan kepala keluarga tidak mendapatkan pengakuan.

“Jika ada diskusi, kami sekarang selalu melibatkan pemerintah daerah, kepala adat dan masyarakat luas sehingga dapat memberikan pemahaman yang tidak satu arah. Termasuk pemahaman tentang ketahanan pangan dan pentingnya dokumen kartu keluarga dan lain-lain untuk para perempuan kepala keluarga” , kata Bernadete.

Hasna Bengang (48) anggota PEKKA yang bertugas sebagai sekretaris di Kelompok Kabenasipe, merasakan perubahan yang baik setelah mengikuti diskusi rutin MAMPU yang diadakan empat kali dalam sebulan.

“Program MAMPU benar-benar memberikan saya kehidupan yang lebih baik dengan bantuan berupa pemahaman. Lebih dari sekadar diberikan bantuan beras, uang atau lain-lainnya. Sebab dengan bantuan pemberian pemahaman, membuat saya mendapatkan lebih apa yang saya butuhkan. Saya jadi semangat bekerja dan berkarya. Penghasilan pun selalu ada” , ujar Hasna.

Ketulusan pernyataannya tergambar saat ia menjelaskan bahwa program MAMPU memperkuat misi yang digerakkan PEKKA, seperti ketahanan pangan. Sebelumnya mereka membeli kebutuhan pokok dari luar, namun sekarang mereka sudah memanfaatkan lahan untuk ditanami jagung, kacang hijau, singkong, pisang dan lain-lain. Lumbung bersama pun disediakan sebagai cadangan jika diperlukan. Dengan demikian, penghasilan mereka berputar di desa tersebut dan perempuan kepala keluarga selalu ada solusi untuk kebutuhan sehari-harinya.

Setelah ditinggal suaminya, Fajaria Jari (42) yang kini menjabat sebagai ketua di Kelompok Kabenasipe, awalnya sering meratapi nasib dan nyaris putus asa. Setelah bergabung di PEKKA dan ikut program MAMPU, Ia tak menjadikan alasan statusnya untuk meratapi nasib.

“Hidup harus dilanjutkan, anak saya hanya bergantung pada saya, apapun saya lakukan untuk mempertahankan hidup. Saya jualan ikan, kacang hijau, menjadi nelayan dan bertenun. Saya lakukan semuanya untuk anak. Kini, anak saya sedang kuliah di Akademi Kebidanan di Jayapura, empat bulan lagi selesai” , ujar Fajaria tanpa menyembunyikan rasa haru.

Selaku ketua pengurus koperasi simpan pinjam dan asuransi berbasis masyarakat di Kelompok Kabenasipe, Fajaria menjelaskan, “Dengan adanya program ini, masyarakat tak lagi dibebani pinjaman berbunga. Asas gotong royong yang diterapkan. Setiap anggota yang berjumlah 25 orang menyetor simpanan wajib sebesar Lima Puluh Ribu Rupiah satu kali saja. Selanjutnya menyetor mulai dari seribu rupiah sampai lima ribu rupiah sebagai simpanan sukarela, tergantung kesanggupan masing-masing anggota. Selanjutnya setiap anggota dilihat apa kebutuhannya dan akan dipenuhi dari hasil simpanan mereka dalam bentuk sembako. Sedangkan untuk asuransi, anggota menyetor kas sebesar lima belas ribu rupiah untuk setiap tahunnya. Jika ada yang sakit, mereka berhak memperoleh biaya sampai rawat inap dengan biaya empat ratus ribu rupiah.”

Maria Barek (58) anggota dari Kelompok Gawe Gere, Desa Beutaran, Kecamatan Ile Ape juga merasakan perubahan setelah mengikuti perkumpulan PEKKA dan hadir di diskusi rutin MAMPU.

“Pikiran saya tidak beku dan tidak terus hanyut dalam persoalan hidup setelah ditinggal suami. Dengan ikut kegiatan di Gawe Gere, saya jadi banyak teman untuk curhat dan banyak hal bermanfaat yang bisa dilakukan, seperti bekerja di kebun bersama, masak dan makan bersama” , kata Maria.

Pernyataan Maria Barek dibenarkan oleh Yustina Ola (46) selaku Bendahara Kelompok Gawe Gere. Menurutnya, anggota kelompok semuanya diberdayakan, “Tidak ada yang menganggur dan rata-rata mereka bekerja maksimal dan berhasil membuat Desa Beutaran sebagai penghasil kacang hijau terbesar. Semua hasil kerjasama dan gotong royong antar anggota.” Yustina memberikan penjelasan.

Beralih ke Desa Tanjung Batu, Kecamatan Ile Ape. Program MAMPU di sana memberi pemahaman luas dalam mengoptimalisasikan mata pencaharian. Kelompok Kasih Ibu memberdayakan anggotanya untuk mempunyai alternatif dalam mencari penghasilan.

Menurut Mariam Mahmud (53) selaku ketua Kelompok menyatakan , “Dari hasil diskusi rutin bersama MAMPU, semakin memperkaya pemikiran masing-masing anggota. Kami menjadi lebih kritis dan berhasil menciptakan inovasi dalam berkarya. Contohnya dalam usaha tenun bersama, kami menekankan menggunakan bahan alami, mulai dari bahan baku sampai pewarna. Walau prosesnya lama, itu sudah menjadi komitmen kami. Tujuannya supaya punya ciri khas.” Kata Mariam.

Mariam juga menjelaskan bahwa mengembalikan tradisi menenun dengan bahan alami diterapkan ke muda mudi sebagai upaya regenerasi. Selain dari menenun, sumber penghasilan anggota komunitas Kasih Ibu juga berasal dari berkebun jagung, kacang hijau, kacang tanah dan menjadi nelayan. Jika musim paceklik tiba, menenun adalah kegiatan alternatif bagi mereka. Jadi, selalu ada solusi dalam mencari mata pencaharian. Koperasi simpan pinjam, lumbung bersama dan asuransi kesehatan di Komunitas Kasih Ibu sama prosedurnya dengan Komunitas Kabenasipe dan Komunitas Gawe Gere.

Ditulis oleh: Ani Berta (PEKKA)