Cerita Perubahan

Pengalaman Membawa Pelajaran untuk Migrasi Aman

18 Desember 2018
Penulis: Puji Maharani

Ke mana pun Husnul Hidayah pergi, ia selalu membawa buku Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Lombok Tengah No. 1 Tahun 2017 dan Peraturan Desa (Perdes) Gemel No. 11 Tahun 2017. Keduanya menjadi bekal bagi Husnul menjelaskan pentingnya migrasi aman bagi pekerja migran. Ada rasa memiliki yang besar pada diri Husnul, karena ia ikut terlibat dalam proses advokasi hingga pengesahan perdes.

Husnul adalah seorang mantan pekerja migran asal Desa Gemel, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Pengalaman buruk saat menjadi pekerja rumah tangga di Arab Saudi dan Abu Dhabi mendorongnya untuk aktif di Kelompok Gemel Bersatu sejak 2016. Kelompok Gemel Bersatu merupakan wadah bagi mantan pekerja migran dan keluarga mereka, hasil binaan Perkumpulan Panca Karsa (PPK) Mataram. PPK Mataram bermitra dengan Migrant CARE, mitra program MAMPU untuk tema perlindungan pekerja migran.

Sejak bergabung dengan Kelompok Gemel Bersatu, Husnul mendapatkan berbagai pengetahuan baru, mulai dari sosialisasi migrasi aman ke luar negeri bagi perempuan pekerja migran hingga pelatihan menjadi paralegal. Mulanya gentar berbicara di hadapan orang banyak, kini Husnul kerap diundang menjadi narasumber seputar isu pekerja migran di Lombok.

Tak lelah melakukan sosialisasi, Husnul sadar betul bahwa mengubah pandangan orang-orang di sekitarnya tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah seorang tetangganya bersikukuh merantau ke Arab Saudi, meskipun Husnul telah memberi tahunya bahwa Arab Saudi termasuk
negara yang terkena moratorium pengiriman pekerja migran Indonesia sejak tahun 2011. Dengan demikian, keberangkatan pekerja migran ke sana pasti dilakukan secara ilegal dan tanpa jaminan perlindungan.

“Benar saja. Dia diangkut berdesakan dalam satu mobil, dan mereka harus ngumpet-ngumpet waktu dipindahkan ke penampungan agen. Berita terakhirnya, mereka masih di penampungan, belum disalurkan ke majikan,” cerita Husnul. Walau demikian, ia terus berkomunikasi dengan
sang tetangga. “Kalau ada keadaan darurat, langsung lapor ke saya, nanti saya carikan bantuan ke teman-teman di Desbumi dan PPK,” tambah Husnul.

Sebagai inisiatif lokal untuk mewujudkan perlindungan terhadap pekerja migran sejak awal fase migrasi mereka, Desa Peduli Buruh Migran Indonesia (DESBUMI) bernaung di bawah pemerintah desa. Struktur kelembagaannya turut melibatkan masyarakat sipil seperti kader desa,
mantan pekerja migran, bintara pembina desa (Babinsa), dan pemangku kepentingan desa lainnya.

“Dulu saya orangnya tertutup, bergaul dengan lingkungan sekitar juga jarang. Setelah menerima pelatihan, ada keinginan menyuarakan pendapat di pertemuan kelompok. Lewat pelatihan, saya bisa tahu sistem migrasi yang aman. Dari situ saya berkeinginan supaya teman-teman lain tidak mengalami seperti saya,” cetus Husnul.

Belajar dari Pengalaman
Saat pertama kali meninggalkan kampung halamannya pada 1999 untuk pergi ke Arab Saudi, Husnul sama sekali asing dengan pentingnya migrasi aman. Ia hanya bertekad merantau demi mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Sebelumnya, cita-cita Husnul untuk menuntut ilmu di Universitas Brawijaya, Malang, setelah diterima tanpa tes, harus kandas karena orang tuanya tak sanggup membiayai perjalanan dan kebutuhan hidupnya di sana.

“Saya lihat cerita sukses orang lain yang bisa meneruskan kuliah sampai S2 walaupun terlambat kuliah. Saya ingin seperti itu,” cetus Husnul.

Dua tahun tujuh bulan bekerja di luar negeri, penghasilannya yang ia kirimkan ke kampung halaman untuk ditabung justru habis untuk kebutuhan sehari-hari. Sejak itu, Husnul pun bolak-balik pergi ke luar negeri untuk menjadi pekerja rumah tangga. Sempat kembali ke Arab Saudi,
ia kemudian merantau ke Abu Dhabi.

Sayangnya, selama menjadi pekerja migran, Husnul bolak-balik dihadapkan pada pengalaman buruk. Selain mengalami kekerasan fisik dari majikannya di Arab Saudi, yang membuatnya melarikan diri hingga berhasil kembali ke tanah air, Husnul diabaikan oleh majikannya di Abu
Dhabi saat ia sakit keras selama tiga bulan. Memutuskan untuk tak lagi menjadi pekerja migran, Husnul kini meyakini betul sosialisasi tentang migrasi aman bagi calon pekerja migran dan keluarganya.

“Saya tidak akan berhenti menyuarakan hal yang benar,” tegas Husnul, menyadari tantangannya bahwa kesadaran masyarakat akan migrasi aman masih relatif kurang. “Tapi, setidaknya mereka yang nekad berangkat, sudah lebih siap siaga menghadapi apa yang terjadi di sana setelah mendapat sosialisasi dari saya,” tambahnya, mantap. (***)