Cerita Perubahan

 

Meningkatkan Kesadaran Kontrasepsi dengan Melibatkan Suami

6 Mei 2018
Penulis: admin

Herawati merupakan pekerja sosial di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dia adalah seorang pengelola panti asuhan ‘Aisyiyah di kota Cianjur. Hera, demikian dia biasa dipanggil, menikah dengan Wawan yang juga merupakan seorang pekerja sosial. Mereka dikaruniai dua orang anak.

Setelah melahirkan anak keduanya, Hera memutuskan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Hera mengetahui ada dua jenis alat kontrasepsi, yaitu pil dan suntik. Pertama kali dia menggunakan alat kontrasepsi pil. Namun akhirnya Hera memutuskan berhenti mengkonsumsi pil karena dia sering bepergian dan tidak membawa pil-pil tersebut. Padahal pil harus dikonsumsi setiap hari.

Dari pil, Hera beralih ke metode suntik. Itu pun ternyata tidak lepas dari masalah. Hera kerap tidak teratur untuk suntik ulang karena terkendala kesibukan. Saat menggunakan metode kontrasepsi suntik, Hera kerap mengalami pusing.

Pada bulan Juli 2014, Hera bergabung dalam tim manajemen program ‘Aisyiyah- MAMPU Cianjur. Program ‘Aisyiyah MAMPU merupakan program penguatan kepemimpinan perempuan untuk penanggulangan kemiskinan yang dikelola ‘Aisyiyah. Tema program adalah “Penguatan Kepemimpinan Perempuan untuk Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan Reproduksi Perempuan melalui Model Layanan Kesehatan Reproduksi yang Terjangkau dengan Pendekatan Hak-hak Perempuan.” Terdapat lima isu kesehatan reproduksi yang disasar oleh ‘Aisyiyah. Yaitu promosi pemberian air susu ibu (ASI), promosi pencegahan kanker serviks, promosi akses jaminan kesehatan nasional, mengeliminir praktek sunat perempuan, dan penguatan program Keluarga Berencana.

Ketika bergabung dengan program MAMPU, Hera mendapatkan informasi tentang beragam jenis alat kontrasepsi. Pada saat itu lah dia baru tahu bahwa ada alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD. Hera tertarik untuk mencoba IUD karena menurutnya lebih praktis. Lebih sesuai dengan dirinya yang disibukkan dengan berbagai kegiatan. Dengan alasan-alasan tersebut, maka Hera kemudian memutuskan untuk beralih ke metode IUD. Namun, dia tidak pernah menggunakan metode tersebut. Mengapa?

Menjadi bagian dari tim manajemen program membuat Hera sering berkunjung ke lokasi program dan bertemu dengan para motivator, kader, dan anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah. Wawan, sang suami, beberapa kali menenami istrinya melakukan kunjungan lapang. Pada saat kunjungan itu, mereka mendengar para ibu mengeluhkan efek dari alat kontrasepsi hormonal. Antara lain; tidak mengalami menstruasi dalam jangka waktu cukup lama atau bahkan menstruasi terus menerus sehingga badan menjadi lemas karena banyak darah keluar, mengalami pusing, mual, dan keluhan-keluhan lainnya.

Hera menjadi tersadar bahwa ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami ketidaknyamanan akibat penggunaan alat kontrasepsi hormonal. Kesadaran itu dialami pula oleh Wawan. Wawan tersadar bahwa begitu banyak risiko yang harus ditanggung para ibu untuk mencegah kehamilan. Begitu pula yang dialami istrinya, yang telah lama menggunakan alat kontrasepsi dengan beragam dampak. Mereka lalu bersama-sama berkonsultasi ke dokter.  Wawan lalu memutuskan bahwa dia yang akan menggunakan alat kontrasepsi, yaitu kondom.

Sejak itu Hera merasa lega karena akhirnya ia dapat beristirahat setelah satu dekade (10 tahun) lebih menggunakan alat kontrasepsi hormonal yang memerlukan keteraturan dan mempunyai efek tidak menyenangkan bagi tubuhnya. “Perubahan yang paling penting dari program MAMPU yaitu suami mengambil keputusan untuk menjadi akseptor KB”.

Hera berharap semakin banyak perempuan mampu mengomunikasikan keluhan-keluhan dalam  menggunakan alat kontrasepsi kepada suaminya. Dengan begitu semakin banyak pula suami yang memiliki kesadaran untuk menggunakan alat kontrasepsi, sehingga perempuan tidak harus menanggung resiko dan dampak penggunaan alat kontrasepsi.

***

Berdasarkan cerita ini tampak bahwa program MAMPU bukan saja memberikan perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat atau tepatnya perempuan miskin, namun juga bagi pengelola program MAMPU itu sendiri. Contohnya Hera. Berkat program MAMPU dia memiliki informasi dan paham tentang berbagai alat kontrasepsi, paham mengenai dampak penggunaan alat kontrasepsi hormonal terhadap tubuh dan kesehatan perempuan, paham mengenai hak-hak reproduksi perempuan, dan pada akhirnya mampu mendiskusikan kesehatan dan hak reproduksi kepada suami dalam semangat kesetaraan (RS).