Cerita Perubahan

Memerangi Kekerasan Dalam Rumah Tangga dengan Pendampingan dan Advokasi

9 Mei 2018
Penulis: admin

Emiliana Suci Suborini (53) yang akrab disapa Suborini, berasal dari Krobokan, Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah aktivis perempuan di PKK dan Organisasi Wanita Katolik. Sejak bergabung di KJHAM pada Divisi Pendidikan dan Keterampilan Olah Limbah dan Sampah, aktualisasi dirinya bertambah. Pada tahun 2009, Suborini pernah mendapat Lencana Wakil Presiden atas kepeduliannya terhadap lingkungan dan penghijauan.

Pemahaman dirinya terhadap hak-hak perempuan serta segala jenis tindakan kekerasan seksual pada perempuan, diawali dari keikutsertaan dalam forum diskusi rutin yang diadakan MAMPU melalui KJHAM. Program MAMPU masuk mulai Bulan Juni 2014 yang bertujuan untuk memberi pemahaman kepada perempuan-perempuan kaum marginal agar memperoleh wawasan, pengetahuan terkait kekerasan seksual dan hak-haknya. Diharapkan mereka dapat mengungkapkan aspirasinya serta berani mengemukakan pendapat sehingga setiap permasalahannya menemukan solusi. Setelah mengikuti pertemuan ke empat, Suborini terpacu untuk lebih terlibat dalam penanganan kasus pelecehan seksual dan KDRT di lingkungan rumahnya.

Suborini semakin fokus menjadi aktivis anti kekerasan seksual dan KDRT. Sejumlah keluarga dan perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual serta KDRT berhasil diadvokasinya ke KJHAM. “Saya biasa menampung pengaduan perkosaan, KDRT dan kekerasan seksual lainnya di lingkungan saya. Mereka biasanya lebih leluasa mengungkapkan masalahnya. Jika masalah masih bisa saya selesaikan, akan saya bantu semaksimal mungkin. Tetapi jika dirasa berat, saya akan meminta tolong KJHAM.” Kata Suborini.

Pengalaman pahit Suborini saat remaja yang mengalami pelecehan seksual dari orang yang tak dikenalnya, masih menyisakan trauma hingga saat ini. Kejadian tersebut, membuatnya berusaha bangkit dan bertekad bahwa dirinya harus berbuat sesuatu agar perempuan-perempuan lainnya, khususnya remaja perempuan tak mengalami kejadian buruk seperti dirinya. Ia mulai gencar mendampingi siapapun yang membutuhkannya.

Jika tak ada yang mengadu ke rumahnya, Suborini akan mendatangi keluarga yang bersengketa dengan memberikan banyak pemahaman kepada suami atau istrinya. Caranya melakukan pendekatan dengan lemah lembut, sedikit becanda dan memberi tahu, bahwa kapasitasnya mendampingi adalah salah satu tugas yang dilimpahkan organisasi dan pemerintah. Jadi, tak ada alasan dirinya melakukan pembiaran terhadap keluarga yang bersengketa dan pihak istri yang terpojokkan.

Setelah mendalami pemahaman dalam setiap diskusi MAMPU, Suborini merasa dirinya belum terlambat untuk bergerak membantu sesama perempuan melalui proses pendampingan terhadap korban. “Saya sempat menyesal, mengapa baru mengetahui masalah kekerasan seksual baru sekarang, padahal kasus-kasus seperti itu sering saya temui sebelumnya. Kini saya sudah mengerti dan paham, oleh karena itu saya punya komitmen untuk tetap terlibat dalam upaya anti kekerasan seksual pada perempuan.”Ujar Suborini.

Suborini tak bergerak sendiri, Ia bersama lainnya, Endang Cici Widayati (43) Pujiwati (45) dari Organisasi Sekartaji, kini aktif sebagai pendamping. Cici dan Puji mendapatkan banyak pemahaman terkait isu kekerasan seksual pada perempuan melalui Program MAMPU. Pengalaman mereka yang mengalami KDRT, selalu dibagikan kepada korban dampingannya dengan memberitahukan langkah apa yang harus dilakukan. Setelah para korban dampingannya pulih, biasanya mereka kemudian ikut bergabung melakukan pendampingan untuk korban lainnya. Kondisi ini, sangat menguntungkan, sebab pendamping yang asalnya korban, ketika mendampingi korban lainnya, memiliki rasa empati yang semakin besar dan solusi permasalahan semakin terbuka. Oleh karena itu, korban dianggap sebagai Mitra.

Suborini, Cici dan Puji, melakukan perjuangan tak setengah-setengah, dengan pemahaman yang diperolehnya, baik dari berbagai pelatihan maupun diskusi rutin MAMPU, mereka semakin percaya diri bersama-sama LRC-KJHAM beradvokasi ke pemerintah untuk melindungi korban kekerasan seksual dan mendorong terjaminnya kesehatan reproduksi.

Dalam pendampingan di kelompoknya, Suborini, Cici dan Puji tak hanya memberikan pemahaman terkait isu kekerasan seksual dan KDRT saja. Mereka juga giat dalam upaya pemberdayaan ekonomi, dengan pengolahan limbah dan sampah, membuat kerajinan tangan dan membantu Mitra dalam proses pendampingan berupa dukungan kepada korban ketika menjalani proses pengadilan. Selain itu, mereka juga membentuk Forum Suara Perempuan se-kota Semarang, yang memiliki misi mengangkat kesehatan reproduksi dan kekerasan seksual yang terbentuk dari empat kelurahan.

“Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Oji dari Semarang  di Provinsi Jawa Tengah”