Cerita

Memberdayakan Buruh Migran Wonosobo dan Menyalurkan Aspirasi lewat Komunitas Mbakyu Blogger

Wening Tyas Suminar (25) adalah founder Komunitas Mbakyu Blogger dan guru di sebuah sekolah menengah kejuruan di Wonosobo. Hatinya tergerak untuk lebih peduli terhadap buruh migran di daerahnya. Dirinya termotivasi setelah menyimak paparan Narasumber Tyas Retno Wulan dari Universitas Jenderal Soedirman, dalam seminar yang diprakarsai Program MAMPU melalui SARI Solo dan Migrant CARE.

Kontribusi Wening dimulai dengan menyalurkan aspirasi dan informasi terkait buruh migran melalui tulisan-tulisan yang dipublikasikan melalui blog pribadinya. Harapannya, Ia bisa menyebarkan informasi yang benar bagi para buruh migran di manapun berada dan aspirasinya dapat terbaca oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Sebelum mengenal Program MAMPU, Wening kurang peduli dengan masalah buruh migran di daerahnya sendiri. Dirinya dikenalkan dengan Program MAMPU oleh Anissa, teman satu komunitasnya. Konsistensi diri mulai dijalankan Wening setelah mengikuti beberapa kali diskusi yang diadakan MAMPU.

“Dengan adanya MAMPU, saya merasa ada wadah yang tepat untuk menyalurkan aspirasi saya dalam memperjuangkan nasib buruh migran. Saya melihat kondisi buruh migran yang kompleks permasalahannya, yang memerlukan bantuan berupa informasi dan pendampingan. Pokoknya, adanya MAMPU membuat saya tak merasa berjuang sendiri” , ujar Wening.

Wening tak berjalan sendiri, Ia mengajak teman-temannya di Komunitas Mbakyu Blogger untuk sama-sama bergerak memberdayakan eks buruh migran di daerahnya. Workshop gratis dengan menghadirkan narasumber kompeten dari berbagai bidang ilmu berbasis skill untuk dibagikan kepada peserta yang mayoritas eks buruh migran, salah satunya menulis tulisan di blog pribadi. Wening menjelaskan bahwa dengan menuliskan aspirasi atau harapan setiap buruh migran atau yang sudah eks, mereka dapat menemukan solusi bagi dirinya sendiri atas kesulitan yang dihadapinya. Menulis dapat menjadi hiburan atau sarana refreshing di tengah kemelut yang dihadapi terkait kompleksnya permasalahan.

Tak hanya workshop menulis, suaminya Erwin Abdillah ikut mendukung aksi Wening. Erwin ikut memberikan kontribusi dengan memberikan pelatihan desain grafis servis komputer hardware dan software di rumahnya. Ia juga kerap berkomunikasi dengan sebuah komunitas buruh di Kuching, Malaysia.

“Setidaknya, dengan pembekalan keterampilan ini, mereka bisa merintis usaha sendiri dan tidak perlu bolak balik ke luar negeri lagi” , kata Erwin.

Erwin pekerjaan sehari-harinya adalah jurnalis di sebuah surat kabar lokal. Dirinya sering mengadakan gathering gabungan dengan komunitas Mbakyu Blogger. Pesertanya yang mayoritas eks buruh migran, bisa saling bertukar pendapat dan informasi sehingga pikiran dan pemahamannya terbuka untuk lebih memberdayakan diri. Peserta juga sering diajak menghadiri diskusi MAMPU.

Dian Laksmi Arwati (22) salah satu binaan komunitas Mbakyu Blogger merasakan manfaat konsisten menulis. Dian merasa leluasa jika menyampaikan pemikirannya dalam tulisan. Konten blog Dian juga banyak berisi tulisan tentang buruh migran, sebagai aksi dukungannya terhadap para buruh migran.

Wening dan suaminya Erwin, membina komunitas lain untuk bersinergi, yaitu Komunitas Sanggar Kinanti yang diketuai oleh Siti Masrifah (35). Sanggar Kinanti sudah berbadan hukum dan melakukan kegiatan rutin pertemuan bulanan dengan anggota komunitas yang ingin belajar merias pengantin dan salon, komputer dan menjahit.

“Peserta yang ikut, di antaranya adalah eks buruh migran. Mereka yang masih punya modal dari hasil kerjanya di luar negeri, bisa mengalokasikan ke usaha rumahan dengan bekal keterampilan dari sanggar kami”, kata Siti.

Wening Tyas Suminar menyatakan bahwa perjuangannya dalam memberdayakan eks buruh migran akan berkelanjutan, karena hal ini merupakan tanggung jawab semua pihak.

“Kita harus bisa memulai dari apa yang mampu, memutuskan rantai kemiskinan dengan memberdayakan buruh migran dengan melakukan pembinaan di komunitas adalah salah satu solusi yang mudah diimplementasikan”, ujar Wening semangat.

Saat ini, Wening beserta komunitasnya melakukan pendekatan ke pemerintah daerah Wonosobo agar segera mengeluarkan Raperda terhadap jaminan perlindungan buruh migran.

Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Agus dari Wonosobo di Propinsi Jawa Tengah