Cerita Perubahan

Maria Hartaningsih Beri Saran agar Media Peduli Isu Keperempuanan

9 Mei 2018
Penulis: admin

Puluhan tahun menjadi jurnalis dan dikenal sebagai jurnalis yang kritis, membuat Maria Hartiningsih, salah seorang narasumber di dalam Konferensi Perempuan Inspirasi Perubahan, yang diadakan tahun 2015 lalu, memiliki pandangan-pandangan yang juga kritis terhadap para peserta dan konferensi tersebut.

Sebagai jurnalis senior, menanggapi pertanyaan tentang bagaimana media bisa bersinergi dan membantu percepatan pengentasan kemiskinan, Maria berbalik bertanya. Apakah para CSO dan anggota Parlemen mau berpartner atau mau menjadikan media sebagai bagian dari mereka?”

“Kalau mau menjadikan media sebagai bagian dari mereka, supaya mengiyakan semua pendapat mereka, itu mudah. Tetapi jika mau media menjadi partner, maka kedudukannya harus setara. Tidak boleh ada pertukaran keuntungan di dalamnya, sehingga media akan lebih kritis, kembali ke tujuan awalnya, yaitu sebagai watchdog.” Ungkapnya

“Kalau selama ini anggota Parlemen dan CSO menganggap bahwa media kurang berpihak pada isu-isu yang mereka kerjakan, maka artinya perlu menjalin relasi yang lebih erat dengan media,” tambahnya. Selain itu, Maria juga menuturkan bahwa di meja redaksi, setiap jurnalis harus memperjuangkan tulisan mereka. Mereka harus berjuang dan meyakinkan sidang redaksi bahwa isu yang mereka bawa, adalah yang paling penting untuk naik.

“Perjuangan ini sendiri tidak mudah. Maka teman-teman CSO dan parlemen dapat membantu dengan memberikan data dan gambaran yang lengkap pada jurnalis. Karena jurnalis yang baik tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang disampaikan oleh narasumber. Mereka akan mengejar dan memverifikasi kebenarannya dari berbagai sumber yang ada.” Katanya.

Ada hal yang menurut Maria penting untuk dipahami oleh CSO dan parlemen. Isu-isu yang diangkat di dalam konferensi ini, memang bukan isu yang akan disodorkan oleh meja redaksi. Isu-isu sosial yang menyangkut perjuangan perempuan mentas dari kemiskinan ini harus juga diperjuangkan oleh jurnalis. Ia juga menceritakan pengalamannya. Sampai saat ini, ia masih terus berjuang untuk mengangkat isu-isu tertentu.

“Rampas ruang yang bisa menjadi alat perjuangan.” Demikian pesannya. Parlemen dan CSO bisa menjadi narasumber untuk isu-isu sosial tertentu. Jangan sampai media baru turun menulis jika sudah terlambat. Misalnya saja, bicara mengenai isu kesehatan reproduksi, ini bisa masuk dari berbagai sudut. Tetapi kerap kali media baru berbondong-bondong menulis ketika sudah ada anak yang dikeluarkan dari sekolah karena hamil, angka kematian ibu melahirkan yang tinggi, atau kasus sensasional lain.

Selama ini sering kali muncul anggapan bahwa yang peduli pada masalah perempuan hanya perempuan. Hal ini tidak selamanya benar. Saat ini di Indonesia jumlah jurnalis perempuan hanya 10 – 15 persen dari total jurnalis yang ada.

“Kalau mengandalkan hanya mereka, lama sekali isu feminisasi kemiskinan ini akan terangkat. Wartawan laki-laki juga dapat menjadi wartawan yang kritis dan peduli pada isu perempuan, asalkan mereka diajari. Tidak perlu belajar feminisme, tetapi ajak mereka melihat. Memang terjadi feminisasi kemiskinan di dunia ini. Kita tidak sedang mengada-ada, ini adalah fenomena global, terjadi dimana-mana.” Tutur Maria

Maria juga menyarankan CSO untuk sering mengajak wartawan melihat langsung ke lapangan. Cara termudah untuk membuat wartawan tertarik menulis isu yang diangkat adalah dengan mengajak mereka melihat langsung ke lapangan. Kalau cuma mendapatkan cerita dari satu pihak, mereka masih kurang diyakinkan. Wartawan butuh melihat gambaran nyata dari sebuah cerita, data dan narasumber yang dapat menceritakan pengalaman mereka, demikian ungkapnya.

Turun ke lapangan membuat wartawan jadi banyak berlatih. Maria mencontohkan untuk fenomena Buruh Migran Perempuan. “Kalau kita lihat fenomena TKW, pahlawan devisa orang menyebutnya. Padahal harusnya yang dilihat perempuan sampai kerja ke luar negeri itu karena dia sudah terbelit-belit banyak hal. Di sini dia harus ngurusin keluarganya. Mungkin harus sampai 4 – 5 kali mereka baru bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Mungkin terbelit hutang renternir pas mau berangkat. Di sini mereka subordinat rendah di bawah laki-laki. Tapi harus menyelesaikan masalah dan maju ke depan ketika suami atau ayahnya tidak ada pekerjaan. Mereka di sana sebagai orang asing harus kerja di belakang dengan ancaman kekerasan berlipat. Kalau pisaunya feminis, jelas sekali. Harusnya negara berhutang banyak pada para TKW.” Ujar Maria berapi-api.

Sebagai penutup, Maria mengingatkan agar kita mau lebih banyak belajar dan terus melihat fakta. Jangan pakai kekuasaan saja dan hanya melihat konstituennya saja, tapi lihat ini untuk kesejahteraan bersama, untuk seluruh rakyat Indonesia”,pungkasnya.