Cerita Perubahan

Mahir Bernegosiasi dan Paham Hak Sosial lewat Sekolah Perempuan

8 Mei 2018
Penulis: admin

Siti Fatimah akrab dipanggil Fatimah berasal dari Gresik, Jawa Timur. Keseharian ibu dua anak kembar ini selain menjadi ibu rumah tangga, Ia pun membantu ekonomi keluarga dengan berjualan makanan ringan di depan rumahnya. Sewaktu-waktu Ia membantu suaminya mencari jamur lumut di sawah atau kebun untuk dijual.

Sejak November 2013, Fatimah aktif mengikuti kegiatan di Sekolah Perempuan binaan KAPAL Perempuan dan KPS2K yang difasilitasi MAMPU. Perempuan yang menyelesaikan pendidikan sampai bangku SMP ini merasa banyak perubahan dalam dirinya setelah bersekolah di Sekolah Perempuan. Awalnya dia tidak mengerti apa-apa tentang berbagai permasalahan perempuan. Sekarang Ia ingin berjuang untuk melawan isu-isu perempuan. Ia adalah siswa yang rajin hadir dalam setiap pertemuan Sekolah Perempuan, semangatnya mendorong peserta lain untuk terus bersemangat. Ia pun menjadi ketua kelompok di Sekolah Perempuan tingkat dusun.

“Saya bersyukur sekali bisa ikut Sekolah Perempuan. Jadi paham hak-hak sosial perempuan. Saya di sini suka diskusi sama yang lain di Sekolah Perempuan. Kita pengen dan harus berbuat sesuatu untuk perempuan-perempuan miskin lainnya di sekitar kita. Makanya saya selalu mencatat setiap materi Sekolah Perempuan. Agar saya bisa ingat semua pelajaran dan bisa dibagi kembali ke perempuan lain.”

Fatimah sekarang semakin terasah kepercayaan dirinya. Ini sangat berbeda dengan sebelum mengikuti Sekolah Perempuan. Fatimah sangat pemalu, jangankan untuk berbicara di depan banyak orang, untuk bernegosiasi dengan suaminya pun Ia segan karena takut.

“Saya lebih berani soalnya di sekolah diajarin gimana cara negosiasi yang baik, komunikasi yang tepat. Kita pun diajarin gimana menjadi perempuan yang bisa bermanfaat untuk lingkungan sekitar.”

Fatimah juga menambahkan bahwa sejak mendapatkan materi tentang kesehatan reproduksi, Ia paham bahwa alat reproduksi perempuan harus dijaga dengan baik. Selama ini Ia suka menyepelekan dan mengingat pentingnya kesehatan reproduksi, Negosiasi dengan suami untuk menunda hubungan badan pun sudah bisa Ia lakukan.

Selain itu, Fatimah juga sudah mampu memberi pengertian kepada suaminya terkait kegiatan sosial lainnya yang dia lakukan, seperti aktif di Sekolah Perempuan. Sebelumnya suaminya kurang mendukung kegiatan Fatimah di luar rumah.

“Sekarang suami saya sudah mengizinkan saya ikut kegiatan di Sekolah Perempuan, bahkan ketika saya tak berangkat sekolah, suami saya menyuruh saya untuk berangkat dengan alasan sayang jika terlewat pelajarannya. Untuk menjaga kepercayaan suami saya, saya utamakan dulu pekerjaan rumah dan mengurus anak. Jika semua sudah beres, saya baru berangkat.”

Kontribusi Fatimah di Sekolah Perempuan termasuk menonjol, selain memberikan banyak pengaruh kepada perempuan di sekitarnya dalam memberi pemahaman tentang hak sosial, juga menularkan hobi menulis kepada anggota Sekolah Perempuan lainnya, Fatimah menjadi salah satu penanggungjawab Koran Gema Perempuan Pedesaan surat kabar yang dikelola oleh peserta Sekolah Perempuan untuk lingkup internalnya. Fatimah semakin rajin nonton berita dan berbincang dengan banyak orang berpengalaman agar tak kehabisan ide untuk menulis.

Tekad Fatimah selanjutnya adalah ingin memajukan semua perempuan miskin di desa nya dan tak menimbulkan jarak dengan pejabat desa saat ingin menyampaikan aspirasi masing-masing. Maju terus, Fatimah!

 

Penyempurnaan Cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Ira di Kabupaten Gresik Provinsi Jawa Timur