Cerita Perubahan

Mahasiswa University of Sydney Kunjungi Balai Perempuan KPI Kampung Rawa, Jakarta

9 Mei 2018
Penulis: admin

Pada Jumat, 15 Juli 2016 yang lalu, sebanyak 14 orang mahasiswa dan dosen dariUniversity of Sydney, Australia melakukan kunjungan lapangan ke Balai Perempuan – Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) di Kampung Rawa, Jakarta Barat. Kunjungan ini merupakan salah satu kegiatan dari rangkaian program Sydney South East Asia Centre(SSEAC) yang bertajuk Pemberdayaan Perempuan di Indonesia (Women’s Empowerment in Indonesia) selama 2 pekan (dari 11 – 22 Juli 2016), bekerjasama dengan Program MAMPU dan didukung oleh DFAT.

Mahasiswa yang berpartisipasi dalam program tersebut merupakan mahasiswa S1 University of Sydney dari berbagai latar belakang jurusan. Mereka akan belajar secara langsung tentang pemberdayaan perempuan di Indonesia dari berbagai lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat sipil yang bergerak di isu perempuan.

Kunjungan ini dihadiri oleh 20 orang anggota Balai Perempuan Kampung Rawa, 1 orang perwakilan dari DFAT, 4 orang perwakilan dari KPI Sekretariat Nasional dan wilayah Jakarta, serta 2 orang perwakilan dari Program MAMPU.

Untuk memulai kegiatan kunjungan, perwakilan dari Sekretariat Nasional KPI, Ibu Melda Imanuela, menjelaskan Pengorganisasian Perempuan (PO) Sekretariat Nasional KPI. Koalisi Perempuan Indonesia merupakan salah satu gerakan massa perempuan yang ada di Indonesia, yang berfokus pada advokasi kebijakan publik terkait perempuan. Saat ini, anggota KPI berjumlah 41.207 orang yang tersebar di 14 provinsi di seluruh Indonesia. Balai Perempuan menjadi basis gerakan KPI di tingkat desa/ kelurahan.

Penjelasan dilanjutkan oleh Sekretaris Wilayah Jakarta yaitu Ibu Nunung. Saat ini ada sekitar 11 Balai Perempuan di seluruh wilayah Jakarta, yang terdiri dari 9 Kelompok Kepentingan. Dalam penjelasannya, Ibu Nunung menyampaikan isu yang menjadi fokus advokasi KPI wilayah Jakarta adalah terkait reklamasi pantai dan pulau, penggusuran serta hak penyandang disabilitas.

Selanjutnya, Sekretaris Balai Perempuan (BP) Kampung Rawa, Ibu Ermi memaparkan kegiatan rutin yang dilakukan BP Kampung Rawa, yaitu berupa diskusi bulanan. Adapun isu utama yang menjadi bahan diskusi adalah seputar kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), serta isu penggusuran Kampung Rawa.

Setelah paparan seputar KPI dilakukan, diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab. Dua orang mahasiswa University of Sydney menyampaikan pertanyaan tentang bagaimana peran KPI Jakarta dalam menghadapi isu penggusuran di Kampung Rawa dan juga bagaimana mekanisme penggalangan dana untuk membiayai kegiatan KPI dan Balai Perempuan.

Ibu Nunung menanggapi pertanyaan penggusuran. Secara keseluruhan, di Jakarta terdapat 5 Balai Perempuan yang terancam terkena penggusuran. Untuk mengatasinya, KPI Jakarta membantu advokasi dan bekerjasama dengan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan lembaga lain untuk memberi pemahaman kepada warga tentang hak sebagai warga negara. Selain itu, KPI dan LBH mengajak warga untuk secara aktif dan inisiatif mencari tahu tentang penggusuran secara mandiri.  KPI juga membantu advokasi para nelayan perempuan terkait isu reklamasi di Jakarta.

Adapun terkait penggalangan dana kegiatan, Ibu Imelda menjelaskan bahwa sumber dana berasal dari iuran anggota bulanan, dan ada pula donasi dari donatur individu. Di tingkat nasional, KPI menggalang dana dengan cara pembuatan merchandise dan kerajinan tangan yang dibuat oleh anggota KPI untuk dijual. Namun KPI menekankan bahwa kegiatan yang diadakan BP dan KPI berlandaskan asas kerelawanan, sehingga walaupun tidak ada dana yang memadai, aktivitas pemberdayaan perempuan dan diskusi tetap dilakukan.

Untuk memeriahkan dan mencairkan suasana, diadakan permainan partisipatif tentang pengenalan diri. Para mahasiswa University of Sydney dan anggota Balai Perempuan Kampung Rawa sangat antusias dalam permainan tersebut.

Sebagai penutup dari kegiatan kunjungan dan diskusi ini, perwakilan mahasiswaUniversity of Sydney menyampaikan kesan dan pesan mereka.

“Saya merasa sangat senang bisa bertemu dan berdiskusi di sini. Sungguh luar biasa melihat para perempuan dengan tugas yang begitu banyak, tetap bisa meluangkan waktu untuk berkumpul dan berdiskusi di sini. Pengorganisasian perempuan itu tidaklah mudah. Maka, kegiatan di balai harus jalan terus. Terus bersemangat!”, ujar Sean, mahasiswa University of Sydney yang berasal dari Texas, Amerika Serikat.

Kesan serupa disampaikan oleh Piyusha. “Saya sangat berterima kasih atas sambutan hangatnya, dan juga saya sangat senang bisa melihat langsung kegiatan komunitas. Berharga sekali bisa belajar dari ibu tentang isu perempuan di sini. Juga budaya Indonesia”.

Setelah satu minggu di Jakarta, Program kunjungan lapangan dan diskusi Sydney South East Asia Centre (SSEAC) dilanjutkan di Makassar, Sulawesi Selatan.