Cerita Perubahan

Lembaga Pemberdayaan Perempuan Tingkatkan Partisipasi Pemuda Perjuangkan Isu Perempuan

6 Juli 2018
Penulis: admin

SEBAGAI pemuda lajang usia 20an, wajar rasanya jika Agustan—atau yang biasa dipanggil Agus, tak pernah tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan rapat di desanya.

Saya dulu menganggap urusan kantor desa di Desa Baliengtoa, kan sudah diserahkan sepenuhnya kepada Kepala Desa,” kata Agus, yang dulu lebih senang menghabiskan waktunya di rumah saja.

Namun, entah mengapa, hari itu, ketika Kepala Desa mengundangnya untuk hadir dalam rapat, Agus mengiyakan. “Saya kan mahasiswa jurusan Pendidikan Kewarganegaraan. Dari kampus juga terkadang meminta kita untuk ikut berpartisipasi dalam acara-acara seperti itu,” ujar Agus.

Dalam rapat pertamanya itulah, Agus mengaku mendapatkan pencerahan. “Waktu itulah ada kawan-kawan dari Lembaga Partisipasi Perempuan (LPP) Bone menjelaskan mengenai isu-isu yang sebelumnya tidak saya ketahui. Saya tahu ada kemiskinan di desa saya, tapi saya baru tahu bahwa misalnya, bahwa perempuan lebih banyak diidentikkan dengan kemiskinan.”

Sejak kecil, Agus yang besar di Desa Baliengtoa, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan ini, kerap mengamati bagaimana perempuan-perempuan di desanya masih mengikuti budaya orang tua mereka dahulu. “Biasanya kalau laki-laki itu bekerja, sementara anak perempuan hanya menunggu saja di rumah—menunggu hasil yang dibawa para lelaki. Dalam keluarga juga begitu, biasanya yang bekerja di sawah itu hanya para lelaki.”

Sebagai seorang lelaki, Agus mengaku tertarik akan perubahan pola pikir yang ia dapatkan setelah lebih banyak mendalami isu-isu yang diusung LPP Bone—termasuk isu-isu pemberdayaan perempuan. “Ya, yang penting ada pembagian peran saja antara laki-laki dan perempuan,” katanya.

“Saya lihat sekarang di desa saya, setelah adanya pelatihan-pelatihan dari LPP, perempuan-perempuan yang dulunya hanya di rumah saja, sekarang sudah mau mengikuti rapat-rapat desa.” Agus sendiri punya seorang kakak perempuan—satu-satunya perempuan dari 6 bersaudara yang semuanya lelaki. Kakak perempuannya juga aktif dalam kelompok bentukan LPP.

Sejak itulah Agus lebih banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan LPP Bone untuk berpartisipasi dalam membangun perempuan-perempuan di desanya. Tugasnya bisa dikatakan serabutan saja: terkadang ia pergi mengantarkan surat, menyampaikan undangan, mengangkat barang-barang dan mengurus logistik, atau menjadi fotografer dadakan.

“Atau ya, diminta dorong-dorong absen,” katanya sambil tertawa. Namun, Agus tak berkeberatan dengan tugas-tugasnya itu. Ia tetap bangga bisa terlibat dalam kegiatan-kegiatan LPP Bone, meskipun mengaku kerap terlambat bangun jika acara dilangsungkan di pagi hari.

“Saya lihat, perempuan-perempuan yang rajin ikut pelatihan itu lebih berani bertindak,” ujar Agus.  “Kalau ada kekurangan di desa, misalnya tentang perkebunan, mereka bisa membuat proposal untuk difasilitasi Kabupaten atau dinas-dinas. Kalau ada yang tidak punya kartu-kartu, teman-teman yang tahu tentang kartu untuk kesehatan dan jaminan sosial akan membantu. Mereka bantu buat surat pengantar ke Kepala Desa. Masyarakat yang tidak pernah ketemu pejabat kan takut biasanya. Apalagi mereka yang tidak punya pendidikan tinggi. Mereka takut sekali. Jadi kalau tidak punya KTP pun diam saja, tidak berani bilang. Masiri, istilah di Bone sini. Malu bertemu orang yang punya jabatan. Tapi kalau mereka yang sudah ikut pelatihan, sudah berani.”

Jika para lelaki di Desa Baliengtoa bekerja sebagai petani atau peternak, para perempuan biasanya pergi bekerja di pabrik gula tak jauh dari sana, di desa tetangga. Perempuan-perempuan ini rupanya rela tak masuk kerja demi mengikuti pelatihan yang diselenggarakan kawan-kawan dari LPP Bone. “Biasanya kan hanya 1-2 kali sebulan, jadi tidak apa-apa,” Agus tersenyum. “Mereka senang sekali, karena kan tidak selamanya bisa dapat pelatihan seperti ini. Di desa juga jarang ada kegiatan semacam ini untuk mereka.”

Mulai dari pembentukan kelompok konstituen, pembentukan kelompok, sosialisasi Undang-undang Desa, sampai penjelasan mengenaii fasilitas-fasilitas apa saja yang dijamin pemerintah, isu-isu ini digulirkan satu per satu.

“Sebelum ada pelatihan LPP, saya juga tidak tahu dari mana bisa dapat informasi semacam ini,” kata Agus. “Misalnya kita tahu ada kemiskinan, ada Jamkesmas, tapi baru tahu setelah pelatihan bahwa ternyata ada yang berhak dapat dan ada yang tidak.”

Satu sesi pelatihan LPP biasanya diikuti 35-40 orang peserta—kebanyakan memang perempuan, tetapi ada juga kaum lelaki yang tertarik ikut serta. Sesi ini bisa berlangsung seharian. Di sesi-sesi istirahat, para perempuan bisa pulang sebentar ke rumah masing-masing untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

“Biasanya kan setiap pelatihan ada kuota peserta 40 orang, jadi terkadang ada juga kaum perempuan yang cemburu, mengapa saya tidak diajak?” Agus tertawa. “Padahal ya, karena memang sudah memenuhi batas kuota.”

Agus bukan satu-satunya anak muda yang aktif terlibat dalam kegiatan di LPP. Ada 10 orang mahasiswa lainnya yang juga sudah ikut terlibat. Biasanya, ketika tengah nongkrong-nongkrong, para pemuda lain bertanya kepada Agus mengenai kegiatan-kegiatan LPP—karena perempuan yang biasanya sering diajak mengikuti pelatihan-pelatihan ini.

“Kan laki-laki sering membahas perempuan, ujar Agus jenaka. Jadi kita juga bicara soal akses perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan lain-lain. Tapi ya, ada juga teman-teman lelaki yang masih berpikir bahwa biar bagaimanapun lelaki memang lebih utama—walau mereka mengakui perempuan juga punya potensi.”

Agus kini telah lulus sebagai sarjana dari STKIP Muhammadiyah Bone, dan tengah mendaftar untuk mengambil S2 di jurusan Hukum dan Kewarganegaraan. Ia berharap bisa bekerja di LPP Bone sambil menjalankan kuliah S2-nya.

—–

*Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Indah dari BaKTI LPP (Lembaga Pemberdayaan Perempuan) Bone di Provinsi Sulawesi Selatan.