Cerita

Kisah Desa Lakarinta Lindungi Korban Kekerasan Seksual di Sulawesi Tenggara

ESUATU membuat Wa Lisa membuka mata dari lelap tidurnya. Tubuh gadis berusia dua belas tahun itu terasa berat. Seseorang tengah menindihnya. Lamat-lamat, Wa Lisa mengenali sosok itu. Ia telah tinggal bersama lelaki itu sejak kecil: pamannya, yang sudah biasa ia panggil ‘Bapak’. Wa Lisa berusaha mendorong lelaki itu, namun ia lebih besar dan lebih kuat. Malam itu, sang paman menyetubuhi Wa Lisa untuk yang pertama kalinya. Wa Lisa hanya bisa menangis; itu pun tak berani dilakukannya keras-keras, karena sebilah pisau telah dilayangkan di dekat wajahnya, memaksanya untuk diam.

Sudah lama Wa Lisa tinggal bersama paman dan bibinya di Desa Lakarinta, Kabupaten Muna. Kedua orangtua Wa Lisa bekerja di Kendari, sehingga mereka pun menitipkan Wa Lisa untuk tinggal bersama adik dari ibu kandung Lisa serta suami dan anak-anak mereka—yang kebetulan masih seusia dengan Wa Lisa. Segalanya berjalan biasa saja bagi Wa Lisa, yang seperti anak-anak seusianya, gemar bersekolah dan bermain-main, hingga malam ketika sang paman menyetubuhinya.

Malam itu adalah awal bagi malam-malam lain di mana Wa Lisa terbangun dari tidurnya dengan sang paman telah menindih tubuhnya. “Bibiku biasanya sedang menginap jaga kebun. Kebun jauh dari rumah,” ujar Wa Lisa. “Anak-anak yang lain sedang tidur. Kamarku tidak ada pintunya.” Kejadian ini terjadi berulang kali, dan selalu diakhiri dengan ancaman agar Wa Lisa tak bercerita kepada siapa pun.

Hingga suatu hari, sang paman mendekatinya. “Kau jangan bilang siapa-siapa, itu kau sudah ada perubahan. Kau sudah hamil,” ujar lelaki itu. Wa Lisa tak sepenuhnya mengerti bahwa ia sungguh sedang hamil. Ia hanya tahu bahwa ia sudah beberapa lama tak mendapatkan haid, walau tak pernah merasakan mual-mual. Sang paman pun mengajak Wa Lisa untuk bersetubuh—katanya, agar janin dalam kandungannya bisa keluar. Namun, Wa Lisa menolak.

Beberapa hari berselang, sang paman pun menjemput Wa Lisa di sekolahnya. “Katanya mau ajak jalan-jalan,” ujar Wa Lisa, yang dibawa sang paman ke BauBau. Hari itu hari Sabtu. Sang paman berjanji bahwa mereka akan kembali pada hari Minggu, karena di hari Senin, Wa Lisa harus mengikuti ujian. Namun, di hari Minggu itu, tak ada tanda-tanda bahwa sang paman akan mengajak Wa Lisa pulang.

Bibi Wa Lisa yang menunggu di rumah pun cemas, ia tak tahu mengapa Wa Lisa tak pulang-pulang dari sekolah. Ia pun menelepon Ibu Wa Lisa di Kendari. “Saya telepon Wa Lisa, lalu dia serahkan sama pelaku itu (pamannya), kata pelaku itu kita mau bunuh diri. Saya bilang kau kalau mau bunuh diri sendiri saja, jangan bunuh anak saya,” ujar Ibu Wa Lisa cemas.

Malam itu, Ibu Wa Lisa pun menumpang kapal menuju BauBau untuk menjemput Wa Lisa. Ia menemukan Wa Lisa tengah menangis, ditinggalkan sendirian di depan sebuah rumah sakit. Katanya sang paman meninggalkannya di sana, kemudian pergi naik ojek seraya melambaikan tangan. Saat itu, Ibu Wa Lisa menemukan bahwa anaknya telah hamil 4 bulan—dan sang paman melarikan diri.

Inilah awal pertemuan Wa Lisa dengan kawan-kawan dari Yayasan Lambu Ina, yang bersama La Riami, Kepala Desa di Desa Lakarinta, berusaha menolong Wa Lisa.

“Kemarin itu memang sangat memprihatinkan kondisi dari Wa Lisa ini,” ujar La Riami. “Saya komunikasikan dengan warga, mari kita saling menolong.”

Sebagai Kepala Desa, La Riami pun mengumpulkan masyarakat agar dapat ikut prihatin dan berinisiatif mengumpulkan bantuan untuk biaya Wa Lisa berobat dan melahirkan. Bukan itu saja, La Riami juga memutuskan menghibahkan sebidang tanah di Desa Lakarinta untuk Wa Lisa dan keluarganya, agar ia bisa memiliki rumah tinggal.

“Dia kan dulu numpang di rumah orang, dan ini kejadiannya kan karena dia juga tinggal di rumah pelaku. Nah, kita lalu harus cari solusi. Karena ada lahan kosong di sini, kita hibahkan kepada dia supaya dia bisa bikin rumah di situ,” ujar La Riami.

Keluarga pelaku pun sempat mendatangi rumah Wa Lisa di tengah malam untuk memberikan ancaman. Ini karena orang tua Wa Lisa tak mau ‘berdamai’ secara adat, dan tetap bertekad untuk membawa kasus Wa Lisa ke ranah hukum, agar pelaku dijerat hukuman yang setimpal. Untungnya, pada saat ancaman itu terjadi, La Riami sedang melakukan patroli keliling desa. Ia pun bisa mengusir pihak keluarga pelaku yang membuat keributan malam itu. Perlindungan Kepala Desa dan masyarakat Desa Lakarinta inilah yang membuat Wa Lisa dapat tinggal di desanya dengan aman dan nyaman.

“Kita usahakan, lah, supaya dia aman tinggal di sini. Jangan korban yang harus lari tapi kita yang buat korban nyaman,” ujar La Riami. “Kita pun akan bantu dia bisa sekolah lagi.”

La Riami pun menekankan pentingnya tindak pencegahan agar hal serupa tak terulang lagi pada Wa Lisa yang lain. Bersama Lambu Ina, setiap bulan pemerintah desa melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar jangan ada lagi tindakan kekerasan, terutama terhadap anak-anak. Ia juga tegas memberlakukan sanksi sosial bagi masyarakat yang melanggar.

“Misalnya pelaku Wa Lisa itu, sekarang masih DPO (Daftar Pencarian Orang), kalau pulang dia akan diusir, nggak boleh tinggal di sini lagi,” ujar La Riami. “Sekarang ini juga anak-anak yang menganggur dan tidak sekolah, harus sekolah. Karena hanya dengan pendidikan itu mereka tahu mana yang benar, agar Wa Lisa ini kejadian terakhir.”

Saat ini, Wa Lisa tinggal bersama ibunya di rumah panggung yang dihibahkan Kepala Desa La Riami. Ia pun nampak telaten mengurus anak lelakinya—anak dari paman yang telah menyetubuhinya. Wa Lisa tak menyebutnya sebagai ‘anak’, ia memanggil sang anak ‘adik’. Tahun ini, dengan bantuan kawan-kawan Lambu Ina, Wa Lisa bertekad untuk kembali ke sekolah, dan melanjutkan kelas delapan.

“Sekolah jauh dari sini, 7 kilo jalan kaki,” ujar Wa Lisa seraya tersenyum. Ia nampak senang akan kembali bersekolah, dan tak terlalu risau akan jarak yang harus ia tempuh.