Cerita

KH Husein Muhammad Lawan Kemiskinan dan Kekerasan terhadap Perempuan Lewat Jaringan Keagamaan

Menjadi narasumber di dalam konferensi-konferensi tentang kemiskinan dan perempuan, bukan hal baru bagi Kyai Husein Muhammad. Tetapi Konferensi Perempuan Inspirasi Perubahan yang diselenggarakan MAMPU pada Mei 2015 lalu, menurut beliau seperti mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan untuk perempuan masih sangat panjang. Perjuangan mengubah peradaban.

Bagaimana Islam Melihat Kemiskinan

“Di dalam teks-teks Hadits, juga tafsir-tafsir para pemimpin Islam, berkali-kali ditekankan bahwa kemiskinanakan mendekatkan umat pada kekafiran. Kemiskinan adalah kematian kecil, sebuah kondisi yang dapat mengalahkan moral,” ungkap Kyai Husein.

Contoh kematian kecil pertama yang beliau sebutkan adalah prostitusi. Beliau kemudian mengajak melihat kembali korban-korban prostitusi yang sebagian besar adalah perempuan, khususnya perempuan miskin.

“Delapan puluh persen di antara perempuan yang menjadi korban prostitusi adalah perempuan miskin. Walau hampir setiap manusia dewasa memahami bahwa zina dilarang oleh agama, ketika tidak ada pilihan lain untuk menghidupi keluarga, perut lapar, ada anak yang perlu dihidupi, maka hilang akal dan moral,” ungkapnya.

Kyai Husein juga mengangkat isu perkawinan anak sebagai contoh kedua.

“Di daerah-daerah tertentu, anak-anak perempuan segera dikawinkan setelah mereka mengalami menstruasi. Ini adalah upaya untuk mengurangi beban di dalam keluarga. Lalu muncul isu lain karena perkawinan usia anak, seperti kehamilan di usia yang sangat dini, kematian ibu dan anak, perceraian, penyakit menular seksual dan masalah sosial lainnya. Lagi-lagi perempuan yang lebih sering menjadi korban,” ungkapnya.

Beliau menyayangkan jarangnya lembaga-lembaga keagamaan yang berfokus melihat permasalahan ini dan menganggap permasalahan yang dihadapi oleh perempuan adalah masalah perempuan saja, bukan masalah semua orang.

Kyai Husein melihat sesuatu yang dapat memberi harapan baru di dalam konferensi Perempuan Inspirasi Perubahan MAMPU yang diadakan di Gedung DPR/MPR.

“Konferensi Nasional ini mengangkat isu perempuan dari sisi yang paling mudah diterima, kekerasan terhadap perempuan dan isu kemiskinan,” ungkap Kyai Husein yang memahami sulitnya untuk membuka cakrawala pandang tentang isu perempuan di mata para pemimpin yang mayoritas berjenis kelamin laki-laki.

“Isu-isu tersebut pun disampaikan oleh lembaga-lembaga yang memang bergerak di bidang itu selama bertahun-tahun,” tambahnya. Kyai Husein melihat bahwa kemiskinan dan kekerasan dapat menjadi salah satu pintu untuk memperjuangkan kesetaraan gender, namun harus dipahami bahwa mengritik kebijakan yang maskulin, sangatlah sulit.

Menurut pendiri Institut Fahmina di Cirebon ini, ketika mengritik laki-laki dan kearogansian mereka, pengritik diperlakukan seolah-olah sedang mengritik Tuhan. Dalil-dalil keagamaan akan dipakai sebagai pembenar, dan ini hanya memicu perdebatan tanpa akhir.

Beliau percaya pembahasan isu gender melalui sesuatu yang semua orang punya keprihatinan sama, seperti kemiskinan dan kekerasan, itu prosesnya akan jauh lebih mudah.

Namun, Kyai mengingatkan untuk memikirkan cara agar gerakan-gerakan yang dilakukan ini tidak kuratif, yaitu hanya ramai ketika sudah terlambat dan hanya mengobati permukaan.

“Harusnya setiap pemimpin diajak untuk dapat berpikir lebih jauh, mengapa ada kemiskinan yang berwajah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan dicari akar permasalahannya. Jika hanya mengobati luka yang tampak, ini akan terjadi siklus. Selama cara pandang terhadap perempuan masih sama, maka siklus kekerasan dan kemiskinan akan terus terjadi. Perempuan akan terus menjadi korban,” tegasnya.

Kebijakan diskriminatif

Di dalam Konferensi Nasional MAMPU, salah satu topik yang juga menjadi perhatian Kyai Husein adalah adanya Peraturan Daerah – Peraturan Daerah (Perda) diskriminatif.

“Negara ketika ditagih kewajibannya untuk melindungi warga negara, khususnya perempuan, sering kali menjawab dengan Perda yang justru mengurung perempuan. Idealnya bentuk perlindungan yang diharapkan oleh perempuan adalah perlindungan yang tidak proteksionistis,” ungkap Kyai. Beliau berkata bahwa perlindungan proteksionistis muncul karena sering kali yang dipahami oleh kebijakan melindungi adalah dengan mengurung. Beliau mempertanyakan keberadaan perlindungan yang tidak membatasi eksistensi, kapanpun di manapun, tetapi aman.

Beliau kemudian mengajak untuk melihat kenyataan yang sekarang terjadi dimana perempuan banyak beraktifitas untuk mencari nafkah. Pembatasan akses perempuan untuk mencari nafkah di luar rumah akan mengakibatkan banyaknya keluarga yang harus hidup berkekurangan.“Kemiskinan perempuan adalah kemiskinan keluarga, masyarakat dan bangsa,” tegasnya.

Di bagian akhir wawancara, Kyai Husein mengingatkan bahwa perjuangan kesetaraan ini tidak pernah mudah. Menurutnya, hal ini disebabkan karena perjuangan ini bukan hanya perjuangan perempuan, tapi perjuangan peradaban. Perjuangan ini akan memakan waktu berabad-abad, karena yang sedang berusaha diubah adalah sebuah tradisi.

“Pandangan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan ini sudah berlangsung begitu lama. Awalnya pandangan ini merupakan produk pemikiran keagamaan, tetapi karena direproduksi terus menerus maka seolah-olah ini adalah produk agama itu sendiri. Maka meluruskan pandangan tentang perbedaan laki-laki dan perempuan itu bisa dianggap seperti kita sedang mengritisi Tuhan. Padahal bukan demikian yang sesungguhnya terjadi,” ujar Kyai Husein.

Beliau pun mengingatkan bahwa banyak pihak yang tidak menyukai perubahan karena hal itu mengganggu kemapanan. Namun beliau berpesan agar para pejuang kesetaraan tidak berhenti berjuang. Jika para pejuang berhenti, maka upaya kesetaraan, pengentasan kemiskinan, serta penghentian kekerasan terhadap perempuan, tidak akan pernah tercapai tujuannya.