Cerita

Guru di Batam Tangkal Bahaya Narkoba dan Kekerasan terhadap Perempuan di Sekolah Bersama Yayasan Embun Pelangi

Berbicara mengenai permasalahan kekerasan terhadap perempuan di Batam, hal ini selalu terkait dengan permasalahan penggunaan narkoba dan prostitusi terselubung. Kedua hal ini adalah rahasia umum di wilayah ini. Pulau Belakang Padang, Batam dimana Ibu Guru Dewi Mesra mengajar pun tidak bebas dari permasalahan ini. Ibu Dewi sedikit-banyak mengetahui mengenai gejolak yang terjadi di sana. Sudah empat tahun setengah Ibu Dewi mengajar di SMA 2 Batam Belakang Padang—sekolah yang harus ditempuhnya dengan menaiki perahu dari Batam setiap pukul 6 pagi.

“Itu cuma bukti-buktinya saja yang nggak ada,” ujar Ibu Dewi. “Kalau rahasia umum sih semua memang sudah tahu. Di sana kan memang pengguna narkoba itu banyak. Saya kan merangkap guru BP (Bimbingan & Penyuluhan). Jadi yang ngaku penggunan narkoba banyak juga. Biasanya saya pancing, kalau kamu mau kasih info sama Ibu, Ibu lindungi kamu, deh. Supaya saya bisa tahu pengedarnya siapa. Tapi kebanyakan anak-anak itu takut.”

Untuk Ibu Dewi, mengajar di Belakang Padang memang menjadi tantangan tersendiri. Selain tempat ini terkenal sebagai tempat ‘transit’ untuk segala macam jenis narkoba, anak-anak yang telah terekspos dengan pergaulan bebas pun kerap tak peduli akan budi pekerti dan tata-krama. “Kebebasan berpacaran seperti sudah hal biasa, nggak malu lagi nampaknya,” ujar Ibu Dewi. “Dari narkoba sampai pacaran sudah nggak malu lagi.”

Pada suatu kesempatan, Ibu Dewi akhirnya menghubungi Yayasan Embun Pelangi (YEP), salah satu mitra Program MAMPU atas saran salah satu rekan kerjanya sesama guru. Kiprah YEP dalam memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada para guru di Batam sehubungan dengan narkoba dan kesehatan reproduksi, membuat Ibu Dewi merasa perlu menghadirkan YEP untuk memberikan penyuluhan kepada murid-muridnya. “Memang ini sudah direncanakan, dan karena ini berhubungan dengan materi sekolah oleh Kepala Sekolah dianggarkan biayanya.”

Irwan dari YEP bercerita kalau mereka segera merespon permintaan Ibu Dewi. “Ya, waktu itu kita respon langsung,” ujar Irwan dari YEP. “Kita mengirimkan tim kita, Yoris dan Boboy. Boboy kasih penyuluhan terkait trafficking dan seks dibawah umur, Yoris tentang HIV/AIDS dan narkoba. Anak-anak muridnya Ibu Dewi ini pintar-pintar semua, kok. Aktif-aktif.”

“Kita sudah memutuskan akan terus melakukan pendampingan di sekolah kami,” tambah Ibu Dewi. “Saya sebagai guru PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) dan moral sangat setuju sekali pendampingan ini. Pihak sekolah dan YEP juga kerja sama untuk pembentukan satgas (satuan tugas). Satgas ini sosialisasi tentang kesehatan reproduksi, kekerasan terhadap perempuan dan bahaya narkoba kepada guru-guru dan anak murid, ada 40 anggota satgas. Super aktif mereka.”

Meskipun menerima laporan dari anggota satgas mengenai penggunaan narkoba di sekitar lingkungan sekolah, Ibu Dewi masih tetap kesulitan untuk mendapatkan informasi lengkap dari anak-anak muridnya; terutama terkait para pengedar. “Kemarin juga kata anak-anak, kalau saya pancing, gimana mau nangkap sementara itu yang nakal polisinya juga. Rupanya baru ada yang diciduk itu polisi yang ngedar-ngedar barang, kata anak-anak sekolah.”

Secara mandiri, Ibu Dewi pun sigap mengamati perubahan perilaku anak-anak muridnya di sekolah. Ia tahu bahwa ada beberapa ciri-ciri penggunaan narkoba yang bisa menjadi indikasi. “Biasanya saya panggil kalau ada yang ciri-cirinya mulai nggak bagus. Misalnya dia mulai terlalu bandel di kelas. Suka pemarah. Suka minder. Sensitif. Itu saya panggil dan saya tanya,” ujar Ibu Dewi. Semangat Ibu Dewi ini diharapkan menular ke guru-guru lain di berbagai wilayah Indonesia (***)