Foto

Pelatihan Most Significant Change untuk Mitra MAMPU di Ambon, Maluku

8. Beta jd percaya diri, sbg perempuan, beta hrs berwawasan luas, berani & saling dukung dng suami agar maju - Rachel 7. Hak perempuan dan laki-laki sekarang sama, tidak boleh dibeda-bedakan - Buce, Kepala SOA Tomuhuat 6. Vera lagi latihan wawancara nih! Skrg Opa Dang tokoh adat dari Negeri Latuhalat jadi narasumbernya 5_7 5. Ingrid latihan mewawancara Noni, menggali perubahan yg paling bermakna bagi Noni u ia tuliskan 3. Tadi beta bertanya ke Opa Dang, ketua adat. Beta malah ditanya balik. Asik! - Sherly dr Desa Hatalai 2. Nona Vera fasilitator desa dr Desa Adat Hatalai, Ambon catat perubahan2 yg ingin dicapai di desanya 1. Yan dari Arika Mahina, ceritakan mimpi besar & program Arika Mahina utk masyarakat dampingan program
<
>

Pada tanggal 20 – 22 September 2016, Program MAMPU mengadakan pelatihan Most Significant Change untuk Mitra MAMPU di Ambon, Maluku, yaitu Arika Mahina dan Walang Perempuan. Most Significant Change (MSC) atau Teknik Cerita Perubahan Bermakna adalah suatu metode pengumpulan dan analisis cerita tentang perubahan-perubahan yang terjadi terutama di tingkat penerima manfaat. Pelatihan ini diikuti oleh staf Mitra dan juga perwakilan dari setiap desa dampingan Mitra.

MSC merupakan teknik monitoring dan evaluasi kualitatif yang partisipatif, menggunakan pengumpulan dan analisis tentang cerita-cerita perubahan, baik yang positif maupun negatif. Pemilihan cerita-cerita tentang perubahan bermakna dilakukan oleh ‘panel’ di tingkat masyarakat dan organisasi adalah aspek penting dari metode ini. Dengan demikian, teknik ini membuka ruang bagi berbagai pihak untuk terlibat melakukan pemantauan, menentukan jenis perubahan yang dianggap penting, dan menganalisis perubahan-perubahan tersebut.

Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah agar para Mitra MAMPU dan para anggota dampingannya, dapat memahami prinsip-prinsip MSC, memiliki keterampilan untuk melaksanakan MSC dan termotivasi untuk menggunakan MSC dalam monitoring dan evaluasi program, serta mendukung bergulirnya proses MSC di internal lembaga.

Selama pelatihan, para peserta diberikan pembekalan teori dan praktik terkait MSC, serta praktik lapangan untuk mengumpulkan data, wawancara dan menuliskan cerita MSC.

Yan, perwakilan dari Arika Mahina, menceritakan bagaimana rencana, mimpi besar dan program Arika Mahina untuk masyarakat dampingan program. Adapun Nona Vera, fasilitator desa dari Desa Adat Hatalai Ambon, dalam kesempatan pelatihan ini mencatat perubahan-perubahan yang ingin dicapai di desanya.

Saat kunjungan lapangan, para peserta tidak hanya mewawancarai para penerima manfaat program, tetapi juga tokoh-tokoh masyarakat yang turut berperan dalam pelaksanaan program. Salah satunya, Vera, mewawancarai Opa Dang yang merupakan tokoh adat dari Negeri Latuhalat. Dari wawancara tersebut, Vera mendapatkan testimoni dari Opa Dang.

“Dengan adanya 2 organisasi (Arika Mahina dan Walang Perempuan) yang masuk ke Latuhalat, ini telah memperkuat pemantauan sistem pemerintahan di desa, dan saya sangat berterima kasih untuk itu”, ujar Opa Dang.

Peserta lainnya, mewawancarai Ibu Rachel, penerima manfaat program. Ibu Rachel menyampaikan manfaat yang ia dapatkan dari keterlibatannya dalam kegiatan program MAMPU. “Beta jadi percaya diri. Sebagai perempuan, beta harus berwawasan luas, berani dan saling dukung dengan suami agar maju.”

Dilaporkan oleh: Dyana Savina Hutadjulu (Innovation Officer – Program MAMPU)