Cerita Perubahan

KAPAL Perempuan Selenggarakan Workshop Penghidupan Berkelanjutan Berbasis Gender

2_21 3_15 1_7 4_19
<
>

Pada 27 – 30 Agustus 2016, KAPAL Perempuan bersama 5 lembaga mitranya, mengadakan workshop Pengembangan Kerangka Konsep Penghidupan Berkelanjutan Berperspektif Gender dan Inklusif, serta rancangan Implementasi di enam wilayah Program Gender Watch. Workshop ini bertempat di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat. Workshop ini difasilitasi oleh Ibu Titik Hartini (ahli di bidang ekonomi perempuan) yang juga menyusun Panduan Livelihood Berkelanjutan dan Berperspektif Gender dan Inklusif.

Dalam workshop dijelaskan bahwa “Sustainable Livelihood” atau penghidupan berkelanjutan dapat dlihat dalam lima aspek berikut: 1) adanya peningkatan pendapatan 2) dapat mempertahankan kedaulatan pangan 3) mengurangi kerentanan 4) adanya SDA yang lestari dan berkelanjutan. Jadi peningkatan pendapatan semata-mata tidak dapat dilihat sebagai peningkatan livelihood.

Sebagai contoh: dengan pendapatan yang sama, tetapi ada akses terhadap perlindungan sosial yang lebih baik misalnya, dapat mengurangi pengeluaran yang diakibatkan kerentanan yang selalu/akan terjadi. Rancangan implementasi kegiatan livelihood yang akan dihasilkan juga harus dapat meningkatkan kontrol dan akses perempuan pada aset dan tidak menimbulkan beban ganda bagi perempuan dalam pelaksanaannya.

KAPAL Perempuan dan mitranya kemudian melakukan pemetaan dan analisa mengenai aset yang ada di wilayah kerjanya, baik berupa SDM, SDA, Sumber Daya sosial dan keuangan. Selanjutnya dipetakan juga bentuk-bentuk kerawanan yang selama ini yang dipengaruhi faktor internal (individu/ keluarga) maupun faktor luar (perubahan yang berasal alam atau perubahan norma masyarakat). Hal terakhir yang dipetakan dan dianalisa adalah struktur/ kebijakan, organisasi dan proses-proses yang ada di masyarakat yang selama ini telah mempengaruhi penghidupan yang ada di masyarakat (misalnya lahirnya kredit mikro dari LSM/ Pemerintah, ada Perda soal pertambangan dll).

Setelah memetakan tiga hal di atas, para peserta workshop kemudian membuat strategi-strategi livelihood dan apa yang dapat dilakukan di wilayah masing-masing. Misalnya di Jakarta, dengan wilayah yang sempit, untuk menangani kerentanan akibat harga pangan dan akses program dari Pemerintah daerah, maka lahir ide agar ibu-ibu Sekolah Perempuan bisa melakukan pertanian hidroponik di rumah, khususnya untuk komoditi yang harganya sering naik turun, seperti cabai dan bawang merah.

Di akhir sesi, fasilitator juga memberikan tambahan wawasan mengenai panduan Uji Kelayakan Usaha. Salah satu hal yang ditekankan adalah usaha akan lebih mudah dilakukan jika berangkat dari apa yang dibutuhkan pasar, daripada apa yang kita miliki.

Sebagai tindak lanjut, masing-masing mitra membuat rencana tindak lanjut. Hampir semua mitra akan mengonsultasikan hasil workshop ini ke lembaga masing-masing dan juga menambahkan data-data yang diperlukan agar strategi yang dibuat bisa tepat sasaran. Setelah itu, fasilitator akan melakukan kunjungan ke masing-masing mitra KAPAL Perempuan untuk melakukan mentoring dan membantu penyempurnaan dokumen livelihood yang telah dibuat.

Dilaporkan oleh: Dewi Damayanti (Partner Engagement Officer – Program MAMPU)