Cerita Perubahan

Dengan Pelatihan MAMPU, Mantan Buruh Migran Bangun Industri Rumahan

9 Mei 2018
Penulis: admin

Mantan Buruh Migran yang sudah diberi pemahaman dalam memberdayakan dirinya di tempat sendiri, sekarang sudah mampu membuat usaha sendiri dengan membuat aneka makanan ringan yang dikemas dan dijual. Ada pula yang menanami lahan di rumahnya dengan tanaman salak, durian, kayu albasiah dan tanaman lainnya yang dapat diolah dan dikomersilkan.

Hadirnya Program MAMPU memberikan sarana untuk pertemuan rutin yang dimanfaatkan untuk menggali kemampuan dan wawasan mereka sehingga dapat berwirausaha bersama sepulang dari luar negeri. Tak harus pergi lagi.

Mantan Buruh Migran yang diberi pelatihan dan penyuluhan kemampuan membuat industri rumahan, dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok rata-rata berjumlah enam atau tujuh anggota. Misalnya, ada kelompok yang membuat kerajinan Batik, Tempe, Tiwul Instant, Lilin, dan Salak in Syrup.

Pengerjaan proses dilakukan di rumah masing-masing. Khusus untuk pewarnaan batik, dilakukan seminggu sekali di rumah Ibu Muliah, seorang mantan Buruh Migran Korea.

Anissa Hanifa, salah satu pendamping ex Buruh Migran mengatakan bahwa untuk memproduksi makanan ringan, bahan-bahannya dipastikan berkualitas dan aman. Walau dibuat secara industri rumahan, tetapi mempunyai standar yang harus dipatuhi oleh peserta. Misalnya, untuk bahan pemanis Salak in Syrup, gulanya harus dibeli khusus, dan pembelian gula ini harus menggunakan surat rekomendasi dari Departemen Kesehatan. Gula yang dibeli merupakan gula Raffinasi yang bersertifikat sehingga terjamin kesehatan dan keamanannya.

Pengemasan makanan pun dilakukan secara hygienis. Maka dari itu, pengemasan dilakukan di koperasi karena peralatannya masih terbatas.

Pemasaran sampai saat ini masih dijual melalui toko atau warung, dengan cara dititipkan. Sebagian dijual melalui pameran, bazaar dan event-event terbuka lainnya. Banyak juga yang memasarkan sendiri hasil karyanya. Misalnya dari kalangan teman-teman, perkumpulan dan relasi lainnya.

Banyak juga mantan Buruh Migran perempuan di Wonosobo yang memiliki rumah makan dan warung. Di antaranya Ibu Maria, yang menjual hasil karya mantan Buruh Migran lain di warungnya. Sedangkan Tuti Astuti menggunakan penghasilannya dari bekerja sebagai Buruh Migran untuk berjualan jajanan anak dan menjadi penjahit pakaian di rumahnya.

Anissa Hanifa, mantan Buruh Migran dari Malaysia kini selain menjadi aktivis Buruh Migran. Ia pun mempunyai usaha salon di rumahnya yang selalu ramai pelanggan. Ia tak segan untuk berbagi skill kepada para ibu-ibu mantan Buruh Migran agar mereka pun dapat melakukan usaha sepulang dari luar negeri.

“Ada yang berhasil membuka salon sendiri, ada juga yang menerima order sesuai pesanan”, kata Anissa.

Kelompok usaha kecil ini dibina oleh Siti Mariam Ghozali. Siti adalah koordinator kelompok usaha kecil mantan buruh migran di Wonosobo. Setiap hari, ia mengontrol warung yang menampung hasil industri rumahan.

Selain dijual di warung ini, hasil karya mantan buruh migran dijual di bazaar dan door to door”, ujarnya.

Siti pun bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti koperasi, Balai Latihan Kerja dan Lembaga Kursus Pelatihan.