Cerita

Yanti: Manfaat Koperasi Simpan Pinjam Bagi Kelompok Pekerja Rumahan

Memfi Dianti atau Yanti adalah seorang penjahit dompet berusia 34 tahun yang tinggal di desa Paya Bakung, Deli Serdang. Keterampilan menjahit didapatnya dari berlatih bersama tetangganya selama 3 bulan dengan membayar Rp. 300.000,-. Setelah mahir, ia mulai dipercaya untuk mengerjakan pesanan jahitan dari produsen dompet di Deli Serdang.

Saat ini, ia sudah 8 tahun bekerja sebagai penjahit dompet. Upah yang didapatnya sekitar Rp. 30.000,- hingga Rp. 50.000 ,- dengan waktu kerja 9 jam per harinya. Dengan upah tersebut, ia mampu menyekolahkan ketiga anaknya. Ia sangat bersyukur karena mendapat uang tambahan dari menjahit dompet, mengingat pendapatan suaminya sebagai kuli bangunan tidaklah menentu.

“Saya cukup beruntung, meskipun gaji saya tidaklah besar, tapi cukup untuk kebutuhan sehari – hari,” ucapnya.

Ia bercerita bahwa kesejahteraannya ini tidak akan didapatkan tanpa bantuan Yayasan Bina Keterampilan Pedesaan Indonesia (BITRA), salah satu mitra MAMPU. Sekitar 2 tahun lalu, seorang perwakilan BITRA mengunjungi desanya dan berdiskusi mengenai isu – isu yang dihadapi oleh pekerja rumahan. Dengan dampingan BITRA, ia dan para pekerja rumahan membentuk Serikat Pekerja Rumahan (SPR) Sejahtera. Anggota SPR Sejahtera kerap mengikuti berbagai pelatihan dan diskusi mengenai isu – isu ketenagakerjaan. Yanti sendiri sekarang menjabat sebagai pengurus Serikat Pekerja Rumahan Sejahtera (SPR Sejahtera) di Deli Serdang.

“Kami berharap, pekerja rumahan di wilayah kami betul – betul mendapatkan kesejahteraan melalui SPR Sejahtera,” harapnya.

Selain memberikan wadah untuk berdiskusi dan mencari solusi dari permasalahan pekerja rumahan di wilayahnya, SPR Sejahtera juga memberikan pengaruh positif bagi pribadinya. Begabung dengan SPR Sejahtera telah menambah pengetahuan dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Sebelumnya, ia tidak memiliki kepercayaan diri karena pendidikannya yang tidak tinggi. Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia bekerja sebagai buruh pabrik seperti anak – anak lain di desanya.

Kurangnya kesadaran warga desa Paya Bakung tentang pendidikan inilah yang menyebabkan anak – anak di desa tersebut banyak yang putus sekolah dan memilih untuk mencari pekerjaan sebagai kuli bangunan dan buruh pabrik. Hal ini menyebabkan kehidupan di desa tersebut tidak meningkat. Perekonomian masyarakat disana hanya berada di skala menegah ke bawah. Tidak terkecuali dengan pekerja rumahan. Kondisi perekonomian mereka yang kurang layak membuat para pekerja rumahan sering meminta bantuan pada rentenir. Padahal, bunga yang diberikan oleh para rentenir ini sangat tinggi, sebesar 20% dari jumlah pinjaman yang diajukan.

Menyadari kondisi yang cukup memprihatinkan ini, SPR Sejahtera membentuk Koperasi Simpan Pinjam Paya Bakung pada Januari 2016. Koperasi ini sudah beranggotakan 11 orang. Besaran simpanan pokoknya adalah Rp 30.000,- dan simpanan wajibnya sebesar Rp 10.000,-. Kini jumlah saldo yang dapat digunakan untuk pinjaman para anggotanya adalah sebesar Rp. 1000.000,-. Bunga pinjaman yang diberikan pun tidak besar, hanya sebesar 2%.

Kini, para anggotanya dapat meminjam uang untuk memenuhi keperluan sehari – hari dan membiayai pendidikan anak mereka dengan bunga rendah. Mereka tidak harus berhadapan lagi dengan rentenir. Selain membantu perekonomian warga, koperasi ini juga membawa pengaruh positif bagi para anggotanya.

“Kehadiran Koperasi Simpan Pinjam Paya Bakung ini semakin mempererat hubungan diantara para pekerja rumahan di desa kami,” ujar Yanti.

Para pekerja rumahan di wilayahnya kini aktif berorganisasi. Mereka sangat antusias mengikuti setiap pertemuan bulanan yang diadakan SPR Sejahtera dan Koperasi Simpan Pinjam Paya Bakung.

“Kami berharap Koperasi Simpan Pinjam ini dapat berjalan lancar dan bermanfaat bagi anggotanya. Selain itu, SPR Sejahtera juga tetap konsisten untuk memperjuangkan hak – hak pekerja rumahan di wilayah kami,” ujarnya penuh harap.

 

* Penyempurnaan dari cerita Most Significant Changes yang ditulis oleh Dewi Bernike Tampubolon