Cerita

MAMPU Diskusikan Hasil Penelitian akan Kebutuhan Perempuan Asli Papua

Pada 7 Juni 2016 yang lalu, Program MAMPU mengadakan kegiatan sharing sessiondan diskusi terkait hasil Kelompok Kerja Papua (Papua Working Group) melalui penelitian aksi partisipatif Perempuan Asli Papua. Diskusi yang dilaksanakan di Kantor MAMPU dan diikuti oleh para staf Program MAMPU ini, difasilitasi oleh perwakilan Tim Asia and Justice Rights (AJAR) yaitu Ibu Galuh Wandita (Direktur Indonesia and Regional Programs) dan Ibu Selviana Yolanda (Tim AJAR). AJAR merupakan mitra Program MAMPU dalam kerjasama pelaksanaan penelitian di Papua tersebut.

Pendekatan yang digunakan Kelompok Kerja Papua adalah dengan metode partisipatif untuk menangkap suara perempuan Papua dan memetakan tantangan, sumber-sumber daya yang sudah ada saat ini, celah dan identifikasi solusi yang memungkinkan.

Metode ini mengajak para perempuan asli Papua untuk berbicara dan menulis apa yang menjadi permasalahan mereka sehari-hari. Dalam proses penelitiannya, AJAR bekerjasama dengan berbagai organisasi perempuan Papua dan memberikan pelatihan riset partisipatif serta proyek video di tingkat komunitas.

Sebelum membuka diskusi, Ibu Galuh menayangkan video dokumentasi penelitian aksi yang berjudul “Perempuan Papua Bicara”. Video yang berdurasi sekitar 26 menit ini, menunjukkan secara langsung suara-suara perempuan asli Papua yang terlibat dalam proses penelitian aksi parsitisipatif di 5 Kabupaten/ Kota, seperti Sorong, Jayapura, Keerom, Merauke dan Wamena.

Dari hasil penelitian tersebut, dipetakan beberapa permasalahan utama para perempuan asli Papua, yaitu:

  1. Mama-mama Pasar, terkait masalah perlindungan, akses pada modal, dan transportasi.
  2. Ketersediaan air bersih, terkait dengan pengaruh cuaca (kemarau), dan akses terhadap air (jarak yang jauh, jumlah air yang terbatas, dan kualitas air yang buruk).
  3. Kekerasan terhadap perempuan, terkait layanan dan akses keadilan.
  4. Kesehatan perempuan, terkait akses terhadap BPJS, obat yang mahal, rujukan, kespro primer dan masalah HIV/ AIDS.
  5. Hak kepemilikan dan pengambilan keputusan atas tanah adat dan hutan, terkait ekonomi tunai, proyek pembangunan, dan eksploitasi komoditas alam untuk komersial.
  6. Akses terhadap program pembangunan dan otonomi khusus Papua.

Penelitian aksi partisipatif tentang Perempuan Asli Papua ini dimaksudkan untuk mengetahui secara lengkap bagaimana kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh mereka.

Saat ini, MAMPU telah mencakup 2000 desa di 28 Provinsi di seluruh Indonesia, namun belum termasuk Papua dan Papua Barat. Melalui penelitian ini diharapkan MAMPU mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang isu yang dihadapi perempuan miskin yang ada di Papua, serta mengidentifikasi langkah mana yang paling tepat bagi MAMPU melalui Kelompok Kerja Papua.