Cerita

Sekolah Perempuan Tingkatkan Pemahaman Ivani atas Hak-Hak Perempuan

Elizabeth Yunita Ivani (27 tahun), biasa dipanggil Ivani, berasal dari Nusa Tenggara Timur dan sudah menetap selama lima belas tahun di Surabaya dan Gresik. Suaminya berasal dari Desa Kesamben Kulon. Mereka kini mempunyai seorang anak laki-laki.

Perjalanan hidup Ivani yang tak mulus sejak remaja, menempa hidupnya menjadi sekuat baja. Jauh dari orang tua dan keluarga di kampung halamannya, tak membuatnya putus harapan. Hidup dijalani sepenuh hati dengan upaya yang dimilikinya.

Kehadiran Program Gender Watch yang didukung MAMPU melalui KPS2K (Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan) disambutnya dengan baik. Pada awalnya Ivani ragu tetapi Ia penasaran dan selalu hadir di pertemuan-pertemuan rutin di Sekolah Perempuan. Bahasan yang diberikan ternyata membuat Ivani ketagihan, karena sangat dekat dengan kondisi kehidupan sehari-harinya, yaitu tentang kemiskinan yang harus diberantas, hak-hak sosial yang harus diperjuangkan dan tentang kepemimpinan perempuan serta Kesehatan Reproduksi.

Saya tadinya tidak percaya dengan pihak KPS2K yang mengajak saya untuk ikut Sekolah Perempuan, tetapi setelah saya ikut kegiatan-kegiatannya, malah menjadi ketagihan dan menganggap materi-materi yang disampaikan sangat penting diketahui”, ujar Ivani.

“Saya selalu mempelajari kembali modul-modul pelajaran yang diberikan pihak Sekolah Perempuan, saya ingin banyak belajar supaya dapat membagikan kembali ilmu yang saya dapat kepada orang lain”, tambahnya.

Sejumlah pelatihan dari Program MAMPU sudah Ia ikuti, di antaranya pelatihan di Pacet, Tretes Raya dan Surabaya. Hasil penempaan diri di Sekolah Perempuan dan semua pelatihan itu, membuat perubahan pada diri Ivani. Selain piawai berbicara di depan forum, Ia juga dapat bernegosiasi dengan pemerintah desa dan Ketua RT terkait hak-hak sosial yang selama ini kurang tersalurkan kepada yang lebih berhak menerimanya. Dulu, Ivani segan dan takut jika ingin berbicara dengan perangkat desa atau Ketua RT, apalagi Ia bukan orang asli desa tersebut. Tetapi sekarang Ia menyadari bahwa di manapun berada, Ia tetap mempunyai hak sosial dan hak untuk mengemukakan pendapat.

Ivani kerap diundang setiap ada rapat desa, keterlibatan Ivani dalam rapat desa tersebut membuatnya semakin leluasa untuk memberikan pemahaman lebih jauh kepada lingkungannya tentang hak-hak sosial seperti Beras Miskin, Jamkesmas, BOS dan lain-lain. Pemerintah Kabupaten Gresik pun melibatkan Ivani sebagai Tim Pemantau Komunitas di desanya, yang disahkan dengan SK (Surat Keputusan). Salah satu tugasnya adalah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Pogram Perlindungan Sosial yang diberikan pemerintah di desanya. Selain itu, Ivani juga dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Koran Gema Perempuan Pedesaan, Koran yang terbit setiap dua bulan sekali di lingkup Sekolah Perempuan yang didukung oleh MAMPU.

Ivani bercita-cita menjadi fasilitator andal agar dapat memotivasi perempuan-perempuan untuk lebih maju dan punya pemahaman kuat dalam menyikapi hak-hak perlindungan sosial, terutama perempuan-perempuan miskin agar bisa lebih bangkit dan berusaha. Ia juga mempunyai harapan untuk Sekolah Perempuan tempatnya berkegiatan selama ini, bisa diakui sebagai sekolah non-formal oleh pemerintah dan masyarakat serta sebagai wadah pemberdayaan dan pemberian pemahaman terhadap perlindungan sosial. Karena menurut Ivani, kegiatan di Sekolah Perempuan dapat membantu tugas pemerintah juga.

Penyempurnaan Cerita Most Significant Changes yang ditulis oleh Rumi dari Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur