Cerita

Kisah Pengrajin Tikar Berdayakan Pekerja Rumahan di Desa Lewat MWPRI

Rohana adalah pengrajin tikar mendong berusia 33 tahun yang tinggal di desa Gadingrejo, Jawa Timur. Ia sangat mahir dalam membuat tikar. Keterampilannya membuat tikar mendong, ia dapatkan dari orang tuanya. Ia biasa mengerjakan tikar berukuran 160 x 110 cm selama lima hari. Proses pengerjaannya dimulai dari menjemur tikar selama dua hari dan kemudian diwarnai dan dipipihkan. Setelahnya, Rohana menganyam mendong yang telah diwarnai untuk menjadi tikar. Tikar ini dihargai sebesar IDR 20.000 ,- untuk per lembarnya. Ia mendapatkan keuntungan IDR 4.000,- dari menjual tikar tersebut.

Kehidupan Rohana sebagai pekerja rumahan cukup memperihatinkan hingga ia bertemu dengan Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia  (MWPRI) pada 2015 lalu. Awalnya, ia adalah seorang pribadi yang pemalu dan tidak percaya diri. Saat itu, ia belum handal menyuarakan pendapatnya. Sampai akhirnya, MWPRI memberikan pengetahuan mengenai kepemimpinan dan kesetaraan gender. Dari sinilah kepercayaan diri Rohana mulai tumbuh. Ia juga menyadari bahwa ia dapat berperan lebih dalam membangun komunitasnya.

Dengan dampingan MWPRI Jember, salah satu mitra Program MAMPU, Rohana bergabung dengan Komunitas Simpan Pinjam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di desa Gadingrejo. Semenjak bergabung dengan komunitas tersebut, Rohana kerap mengikuti pelatihan, salah satunya adalah pelatihan relawan pendamping untuk pekerja rumahan yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial. Dalam pelatihan 3 hari tersebut, ia diajarkan untuk mendampingi dan menyemangati pekerja rumahan serta bagaimana mengatasi masalah dalam pembiayaan layanan kesehatan.

Berkat pengetahuannya ini, ia berhasil membantu pekerja rumahan lain yang membutuhkan perawatan medis lebih lanjut. Semula, keluarga pekerja rumahan ini kebingungan karena pihak Puskesmas tidak dapat membantu akibat terbentur dengan biaya perawatan. Ia yang berempati segera berkomunikasi dengan fasilitator lapangan MWPRI Jember dan Tenaga Kesejahteraan Masyarakat Kecamatan (TKSK) guna mencari solusi untuk biaya pengobatan dan transportasi. Selain mendampingi pekerja rumahan dalam memperoleh layanan Asuransi Kesehatan (ASKES), Rohana juga mengusahakan sarana transportasi ke Rumah Sakit Suebandi di Jember. Beberapa hari kemudian, pekerja rumahan ini diperbolehkan pulang dengan keadaan yang lebih baik.

Setelah peristiwa tersebut, Rohana merasakan perubahan dalam dirinya. Ia berubah dari pekerja rumahan yang pemalu menjadi seorang yang percaya diri dan berani bertindak untuk menolong masyarakat yang membutuhkan. Ia kini banyak membantu warga yang membutuhkan dampingan untuk mendapatkan akses kesehatan. Selain itu, ia juga aktif mengikuti pertemuan dan kegiatan Komunitas Simpan Pinjam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di desa Gadingrejo untuk menyuarakan pendapatnya.

* Penyempurnaan dari cerita Most Significant Changes yang ditulis oleh Nadifah Khoiroh (Fasilitator Lapangan MWPRI)