Cerita

Remaja Sumatera Barat Kenali Kesehatan Seksual dan Reproduksi Lewat Kegiatan Wirid

PERTAMA kali mengalami menstruasi, ibu Kiki sedang tak ada di rumah. Remaja perempuan asal Batu Gadang ini pun kemudian memberitahukan situasi yang ia alami pada kawannya. “Lalu sama kawan dikasih tahu, disuruh beli pembalut.”

Meski tak diberi tahu bagaimana cara menggunakan pembalut, Kiki mengaku tak bingung. “Ya, saya lihat saja di kemasan itu kan ada petunjuk pemakaiannya.”

Wulan, remaja putri Batu Gadang lainnya yang baru hendak naik kelas 2 SMA juga masih mengingat kala pertama ia mendapatkan menstruasi. Waktu itu, ia sempat berteriak-teriak juga walau sudah mendapatkan pengetahuan tentang menstruasi dari sekolah. “Lalu ya bilang sama Mama, sama Mama dikasih pembalut. Kata Mama, ya itu baca saja petunjuk cara pakainya.”

Diskusi seputar hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) memang masih membuat remaja-remaja di Padang merasa canggung. Mereka tak terbiasa bertanya mengenai hal-hal yang mengusik keingintahuan mereka ini dengan orangtua masing-masing. Malu, ujar mereka. Meskipun di sekolah mereka mempelajari sistem reproduksi lewat pelajaran biologi, guru pun tak bisa menjadi tempat mereka bertanya.

“Nggak berani, paling kita hanya mendengarkan kalau sama guru,” ujar Mesya—yang juga baru akan naik ke kelas 2 SMA.

Kawan juga bukan teman yang paling pas untuk membicarakan masalah ini. Kebanyakan kawan perempuan mereka tak punya informasi lengkap yang bisa memuaskan keingintahuan mereka. Beberapa lagi malah tak suka jika ditanya-tanya masalah seputar seks dan reproduksi. “Ngapain sih ngomongin kayak gituan,” ujar Wulan, menirukan reaksi kawan-kawannya ketika ia bertanya perihal sakit kala menstruasi.

“Cari di Internet juga malas. Pusing harus baca banyak, dan kadang yang keluar nggak sesuai dengan yang kita cari. Lebih enak tanya saja langsung,” Mesya menambahkan.

Untuk remaja-remaja putri di Batu Gadang, kedatangan Kak Ayu dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) menjawab kegelisahan mereka. “Waktu itu Kak Ayu bilang mau ngajak ngobrol tentang masalah kewanitaan, karena kurang tahu masalah itu, rasa ingin tahunya tinggi, jadi ingin ikut, gitu,” Wulan tersenyum malu-malu.

Dari situlah, remaja-remaja putri ini kemudian membentuk kelompok Bugenvil. Kelompok ini bertemu dengan Kak Ayu secara rutin untuk membahas berbagai isu seputar kesehatan seksual dan reproduksi. Bersama Kak Ayu, remaja-remaja ini merasa lebih bebas untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang sering mengusik rasa keingintahuan mereka.

Kak Ayu sendiri mengenal remaja-remaja putri ini lebih dekat setelah mengisi acara wirid remaja. “Kalau remaja putri itu kan setahu saya tidak ada ruang mereka berkumpul. Habis pulang sekolah ya mereka di rumah. Salah satu acara tempat mereka berkumpul ya wirid remaja itu. Beberapa sekolah kan mewajibkan muridnya ikut wirid remaja, jadi pasti mereka datang ke sana. Waktu saya datang itu, ternyata bukan hanya ada remaja perempuan tapi juga remaja lelaki,” Kak Ayu tertawa. “Ya sudah, tidak ada apa-apa. Malah sekalian, kan. Karena lelaki juga kan aktor dalam masalah ini, jadi mereka juga perlu dapat pengetahuan.”

Kak Ayu mulai dengan mendekati panitia wirid remaja di mushola tempat diadakannya acara. “Saya tanya siapa guru pembimbing wirid remajanya. Ternyata Ibu Ninda, lalu saya jelaskan sama dia apa yang ingin kita lakukan dan outputnya apa, dia senang sekali dan menyambut baik. Karena Ibu itu juga sadar ini penting dan dia senang ada yang bisa mendampingi remaja, karena Ibu itu sendiri sebenarnya guru pendamping SD, jadi dia pun bingung bagaimana kalau mendekati remaja SMP SMA karena beda, kan,” ujar Kak Ayu.

Namun untuk remaja kelompok Bugenvil, bertukar cerita di antara remaja-remaja putri saja memang terasa lebih nyaman. “Soalnya kalau ada anak cowok mereka banyak ketawanya, jadi nggak terlalu serius, lebih enak dipisah,” kata Wulan.

Bersama Kak Ayu, kelompok Bugenvil sudah membahas mengenai seksualitas, menggambar organ reproduksi laki-laki dan perempuan, juga berbicara mengenai menstruasi. Kebanyakan di antara mereka punya pertanyaan seputar rasa sakit ketika menstruasi; dan ingin tahu apakah remaja putri lain juga mengalami rasa sakit yang sama.

“Katanya juga kan kalau lagi halangan nggak boleh potong kuku, tapi kata Kak Ayu kalau untuk kebersihan, kalau sudah panjang masa seminggu nggak dipotong. Jadi itu nggak apa-apa kalau dipotong,” Wulan bercerita. “Lalu kalau alat kelamin perempuan kan ada bulu halusnya itu boleh dipotong atau nggak. Kata Kak Ayu boleh tapi jangan dipotong sampai habis karena itu ada manfaatnya juga.”

“Sekarang juga lebih menjaga kebersihan, karena sudah tahu. Kalau menstruasi itu ganti pembalutnya jadi lebih sering, biasanya kalau pagi sampai sore hanya 2 kali ganti, sekarang bisa 3-4 kali ganti,” ujar Mesya malu-malu.

“Lalu di pertemuan kita berikutnya kalian ingin tahu tentang apa?” tanya Kak Ayu.

“Tentang masalah penyakit reproduksi itu, Kak,” Wulan menjawab, disambut anggukan kawan-kawannya yang lain. “Ada beberapa yang kita nggak tahu penyebabnya, hanya tau dari keluarga dan nonton TV, tapi nggak menjelaskan kenapa sampai terjadi itu.”

Jika remaja-remaja putri di Batu Gadang memiliki Kak Ayu sebagai tempat bercerita, remaja-remaja di Kuranji memilik Kak Eva.

“Di kampung kan wawasan orang tua kurang,” ujar Kak Eva, yang aktif di LP2M dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya. “Misalnya kalau ada masalah anak langsung dimarahi, bukan didengarkan curhatnya. Anak juga takut sama orang tua karena orang tua suka marah. Sebenarnya teman yang paling baik itu kan orang tua, tapi orang tua susah nampung curhat anak karena keterbatasan mereka juga.”

Sama seperti Kak Ayu, Kak Eva—atau biasa dipanggil Ete (kakak perempuan dalam bahasa Padang) Eva juga masuk melalui kegiatan wirid remaja. “Pas wirid remaja itulah curhat mereka ditampung dan diberi solusi. Biasanya curhat anak muda terkait masalah teman spesial,” Kak Eva tertawa. (***)