Cerita

Ibu Rumah Tangga Menyuarakan Kesetaraan Gender Lewat Sekolah Perempuan

Rahayu Muslimah (23) merasakan perubahan berarti dalam hidupnya setelah aktif dalam Sekolah Perempuan yang merupakan Program Gender Watch dari KPS2K (Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan) yang didukung oleh program MAMPU. Sekolah Perempuan yang diikutinya bertempat di Dusun Dlangu, Desa Mondoluku, Kecamatan Wringinamon, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Ia sekarang bukan hanya seorang ibu rumah tangga yang monoton. Kini setiap waktu luangnya selalu dimanfaatkan untuk mengais ilmu dari berbagai sumber, terutama di Sekolah Perempuan, sehingga Ia mendapatkan pemahaman tentang Kesetaraan Gender, Kesehatan Reproduksi dan pemahaman hak-hak sosial lainnya. Sebelum mendapatkan pemahaman masalah kesetaraan gender, Rahayu segan mengemukakan pendapat kepada orang lain termasuk kepada suaminya sendiri. Ia selalu takut pendapatnya salah. Kini Rahayu lebih percaya diri berbicara di depan banyak orang, dalam perkumpulan-perkumpulan di desa tempat tinggalnya pun Ia kerap memberikan pendapat dan menyuarakan ide.

Kalau sekarang, saya berani bicara karena saya sudah mendapat banyak pemahaman tentang apa yang ingin saya suarakan, misalnya pengetahuan tentang beras miskin, yang sebenarnya adalah hak setiap warga dan itu bukan bantuan” , kata Rahayu.

Kegiatan Ibu satu anak ini, sebelumnya hanya mengurus rumah, ke sawah dan mengantar anak sekolah. Namun, sekarang Rahayu sudah punya aktualisasi diri yang diharapkan bermanfaat untuk orang lain. Selain aktif di Sekolah Perempuan, Ia juga membantu KPS2K mengumpulkan data penduduk Dusun Dlangu Desa Mondoluku untuk membedakan warga yang benar-benar miskin dan mampu. Sehingga dalam pembagian hak warga berupa perlindungan sosial seperti beras miskin, layanan kesehatan gratis dan lain-lain dapat diberikan kepada orang yang tepat.

Saya punya tantangan ketika warga tidak mau didata. Banyak sekali alasannya, ada yang bersedia tapi ingin diberikan pamrih. Ini menjadi tantangan buat saya untuk terus menerus memberikan pemahaman bahwa pendataan sangat penting, agar kita sebagai penduduk biasa bisa mengawasi pembagian hak sosial yang tepat sasaran”, ujarnya.

Rahayu menyadari kapasitasnya yang hanya menyelesaikan pendidikan formal sampai bangku SMP. Ia tak patah semangat ketika banyak warga yang memandang sebelah mata pada kiprahnya di Sekolah Perempuan dan tugasnya mendata warga. Dengan penuh semangat, Rahayu tetap maju, semua kegiatan pelatihan yang diberikan Program MAMPU terus diikuti, termasuk seminar di luar kota. Ia juga terus meningkatkan wawasan dari segala sumber, tadinya suka sinetron, sekarang lebih tertarik menonton berita dan isu politik. Dan minatnya terhadap berita, membuatnya bergabung menjadi tim redaksi di Koran Gema Perempuan Pedesaan, koran yang diterbitkan dua bulan sekali khusus untuk Sekolah Perempuan.

“Saya senang bisa menulis untuk Koran Gema Perempuan Pedesaan, biasanya saya menulis tokoh-tokoh perempuan di Desa yang inspiratif. Saya langsung mewawancarainya dan menuangkan ke dalam tulisan” , Rahayu menjelaskan.

Aktualisasi diri yang semakin membawa kemajuan bagi kehidupan Rahayu, didukung suaminya, Zainal Arifin. Sebelumnya, suaminya kurang mendukung kegiatannya. Setelah mendapatkan banyak pemahaman dan komunikasi dengan Rahayu, suaminya menjadi tertarik dan ikut membaca setiap modul pelajaran yang didapat dari Sekolah Perempuan. Perubahan berarti pun terjadi dalam kehidupan rumah tangga Rahayu, kini Ia dan suaminya kerap berbagi peran dalam menjalankan tugas rumah tangga.

Ilmu dan wawasan yang didapat selalu dibagikan kembali ke tetangga atau saudara di sekitar tempat tinggalnya, Rahayu berharap agar semua perempuan memperoleh kemajuan dan dapat leluasa menyuarakan pendapatnya.

Penyempurnaan Cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Ira di Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur