Cerita

Murid SMAN di Merangin Sebarkan Kesadaran Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi pada Remaja Sebaya

Aliansi Perempuan Merangin (APM), yang merupakan salah satu anggota Konsorsium PERMAMPU yang didukung oleh Program MAMPU, menggandeng pihak sekolah sebagai target sosialisasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR). Hal ini didorong oleh pentingnya pemberian pemahaman bagi remaja usia sekolah, dan juga pentingnya mengajak mereka untuk berperan aktif dalam mencegah pernikahan dini dan gangguan kesehatan reproduksi pada remaja.

Banyaknya kasus pernikahan dini, yang disebabkan oleh pergaulan seks bebas di kalangan remaja, kurangnya pemahaman terhadap kesehatan reproduksi dan etika sosial dalam pergaulan remaja, serta pengaruh sisi negatif dari teknologi yang semakin mudah diakses, membuat kasus tersebut berkembang cepat tanpa adanya pengendali yang memadai. Selain itu, kehamilan usia muda sangat rawan penyakit karena ketahanan tubuhnya masih kurang. Belum siapnya psikologis saat menjalani rumah tangga dan adanya tuntutan ekonomi, dapat memicu timbulnya KDRT.

Pengawasan orang tua dan guru pun dirasa tidak cukup, sehingga diperlukan kesadaran dari remaja itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman tentang HKSR dan segala hal terkait pergaulan remaja.

APM bersama beberapa sekolah di Merangin, Jambi, membentuk Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R) yang didukung oleh MAMPU. Melalui PIK R, setiap sekolah memilih perwakilan murid yang menjadi duta atau konselor sebaya bagi teman-temannya. Mereka dididik sebagai pengurus PIK R dan diberi latihan khusus (Training on Trainer) serta penyuluhan untuk diberi wawasan tentang HKSR dan segala hal terkait pergaulan remaja. Penyuluhan tersebut menghadirkan narasumber dari APM dan pihak-pihak yang berkompeten seperti pakar kesehatan, dokter, bidan dan tokoh agama.

Dalam pelaksanaannya, PIK R bekerjasama dengan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dan Organisasi Intra Sekolah (OSIS). PIK R juga terintegrasi dengan pihak pemerintah dan institusi lainnya, seperti Bupati, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Polisi, Pengadilan, Tokoh Adat dan Tokoh Agama.

Asa Ayu, Siswi dari SMAN 5 Merangin menjadi pengurus PIK R mewakili sekolahnya. Ia memaparkan bahwa mengikuti kegiatan ini sangat memberi asupan banyak ilmu, khususnya tentang HKSR. Ia memahami seksualitas sebagai wawasan luas, bukan hanya dipahami sebagai hubungan intim saja. Asa merasa pengetahuan tersebut sangat penting untuk dirinya.

“Saya jadi mengenal fungsi alat reproduksi secara detail dan memahami tentang Napza serta Narkoba yang tak boleh disalahgunakan”, kata Asa. Ia menambahkan, “Saya bersyukur dengan adanya program MAMPU melalui APM sehingga saya dapat terlibat dalam upaya memberikan pemahaman tentang HKSR dan berbagai permasalahan remaja. Ilmu dan wawasannya tak saya pendam sendiri, tentu selalu saya bagikan lagi ke teman-teman lain karena itu adalah kewajiban saya.”

Selain Asa, ada pula Supardi dari SMAN 12 Merangin. Ia memiliki kesan yang menyenangkan selama bergabung menjadi tim PIK R. Selain memperoleh wawasan tentang segala permasalahan yang dihadapi remaja, Ia pun bisa berbagi ilmu dengan teman-temannya. Supardi lebih memilih mengakses konten internet yang baik-baik dan menyarankan hal yang sama kepada teman-temannya.

“Dari internet banyak sekali dampak negatifnya jika kita belum siap menyikapi,” kata Supardi.

Ari Surya Febriana (17) dari SMAN 5 Merangin bergabung menjadi pengurus PIK R sejak Januari 2015. Seperti Asa, Ia pun memperoleh pemahaman seksualitas yang sesungguhnya. Sebelumnya, Ia hanya mendapatkan informasi HKSR sepintas saja, dan itu membuat dirinya bingung karena tak diberi penjelasan rinci. Setelah mendapat penyuluhan dan TOT dari APM dan narasumber tentang HKSR, anak perempuan dari tiga bersaudara ini, melakukan pendalaman wawasan HKSR melalui informasi di internet. Selain itu ia juga berbincang dengan bidan, dokter, orang tua dan banyak membaca dari buku-buku.

“Karena saya bertugas sebagai konselor sebaya, maka saya punya tanggung jawab menyampaikan kembali ilmu yang saya dapat. Agar lebih terpercaya dan lebih meyakinkan, saya memperdalam lagi pengetahuan tentang HKSR dari berbagai sumber, agar bisa menjawab konsultasi teman-teman dengan memuaskan,” ujar Ari.

Menurut Ari, bahasan HKSR yang mendetail, disampaikan kepada teman-teman perempuannya. Misalnya, ketika haid harus sering mengganti pembalut agar tak diserang kuman berbahaya. Selain itu, pemakaian pakaian dalam pun harus sering diganti agar kebersihan terjaga.

Adapun Rusydi Amin dari SMPN 13 Merangin, sebagai wakil ketua OSIS di sekolahnya, setiap ada rapat OSIS Rusydi selalu menyinggung bahasan tentang HKSR untuk disampaikan kembali ke murid-murid yang lain. Rusydi sangat senang hati menjadi tim PIK R mewakili sekolahnya. Walau kadang Ia disepelekan sebagian temannya terkait tugas sebagai konselor, Rusydi tetap percaya diri dan tetap bersemangat dalam mensosialisasikan HKSR dan batasan-batasan pergaulan remaja.

Menurut Ani Trihandayani, guru dari SMAN 5 Merangin sekaligus pembimbing PIK R, Program MAMPU yang mendukung PIK R sangat membantu upaya pencegahan kehamilan tak diinginkan dan pergaulan remaja yang tak patut di Merangin.

Budi Handoko, Guru dari MTs Al Khoiriyah juga mengungkapkan bahwa Program PIK R melatih kepemimpinan para siswa yang tergabung sebagai pengurus. Karena mereka dituntut bisa mengelola teman-temannya dalam mengarahkan ke pergaulan yang baik.

Budi menyampaikan kriteria pemilihan pengurus PIK R. “Biasanya yang terpilih menjadi pengurus PIK R adalah murid yang menonjol dari segi pelajaran agar tidak ketinggalan pelajarannya. Selain itu dipilih juga murid yang menjadi idola di sekolah. Karena jika idola yang bicara lebih banyak didengar teman-temannya.” Kata Budi. Ia kemudian menambahkan, “Agar para pengurus PIK R lebih percaya diri dan bersemangat dalam mengemban tugasnya, mereka dikukuhkan sebagai Konselor Sebaya dengan cara dilantik pada suatu upacara.”

Elpi Ediyanti, Guru dari SMP 13 menyampaikan harapannya agar PIK R dapat masuk dalam kurikulum dan muatan lokal. Selain itu, ia berharap adanya ketersediaan buku, brosur dan poster sebagai alat peraga untuk penyuluhan agar diperbanyak, dan pertemuan rutin dilakukan secara lebih massif.