Cerita

PhotoVoice: Menyuarakan Suara Perempuan Melalui Foto

“Sebelum pelatihan ini saya tidak tahu apa itu gambar yang bagus. Saya pikir foto-foto itu tidak menarik, hanya cara untuk mengingat suatu peristiwa. Tapi setelah pelatihan, saya sadar saya bisa menggunakan keterampilan ini untuk komunitas saya.”

Itu adalah ungkapan dari Mistinem, mantan buruh migran setelah pelatihan PhotoVoice.

PhotoVoice adalah alat monitoring dan evaluasi partisipatif yang diperkenalkan oleh MAMPU kepada para mitra. PhotoVoice sendiri merupakan sebuah organisasi yang berkantor pusat di Inggris yang memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk memanfaatkan fotografi sebagai alat untuk menyuarakan dan memperdengarkan isu-isu yang berdampak dalam kehidupan mereka.  Organisasi ini bekerja erat dengan para mitra MAMPU untuk memperkuat kemampuan mereka dalam mendidik, mengadvokasi, dan melakukan dialog tentang isu-isu yang berkaitan dengan pekerja migran dengan memanfaatkan metode fotografi partisipatif.  MigrantCARE memilih untuk mengikuti pelatihan tersebut karena mereka menganggap menerapkan metode tersebut relevan dalam programnya.

Pelatihan selama 3 minggu tersebut berlangsung di Lembata (Nusa  Tenggara Timur) dan  Lombok  (Nusa Tenggara Barat) sejak tanggal 2 sampai dengan 20 Maret 2015. 12 ekspekerja migran dari masing-masing provinsi hadir dalam pelatihan tersebut.

Pelatihan dibagi menjadi 2 tahap.  Tahap pertama lebih terfokus pada dasar-dasar fotografi dan literasi visual (melek visual), teori dan praktik fotografi partisipatif untuk para staf mitra lokal, yang mencakup pe-manfaatan fotografi untuk monitoring dan evaluasi.  Tahap ini juga berfokus pada perencanaan implementasi fotografi partisipatif masa depan.

Tahap kedua berfokus pada pelatihan untuk perempuan ekspekerja migran terkait cara menggunakan kamera digital, konsep dasar fotografi dan literasi visual dan juga cara berbagi cerita tentang isu-isu pekerja migran dan dampaknya.  Kelompok ini kemudian menjadi Community Watchers (Pengawas Komunitas).  Setelah itu dilakukan kunjungan lapangan ke komunitas oleh para pengawas untuk memperkenalkan isu-isu tentang pekerja migran kepada komunitas sehingga pihak lain dapat memahami dan bekerja sama memecahkan permasalahan tersebut.

Langkah terakhir adalah dengan menunjukkan foto-foto yang diambil oleh para peserta kepada komunitas mereka.  Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarkan isu-isu tentang pekerja migran kepada semua anggota komunitas sambil merayakan berakhirnya pelatihan.  Semua anggota komunitas, termasuk pada pejabat desa dan jurnalis lokal menghadiri pameran tersebut.

Wakil bupati Lembata, Viktor Mado Watun yang hadir dalam pameran umum tersebut berharap agar kegiatan itu dapat menjangkau lebih banyak desa di  Lembata.

Di samping itu, Petrus  Demong Sekretaris Kelurahan mengakui bahwa kemitraan diperlukan untuk memecahkan permasalahan dalam masyarakat.

Kami (pemerintah kabupaten) tidak dapat mengelola masyarakat kami sendirian.  Masih banyak kekurangan dalam hal sumber daya manusia dan pendanaan.  Oleh sebab itu, kami sangat menghargai kemitraan untuk pembangunan daerah pedesaan seperti ini.  Kemitraan ini sesuai dengan peran pemerintah yaitu untuk memfasilitasi dan mengkoordinasikan kabupaten.”

– kata Petrus sembari menjanjikan adanya keterbukaan untuk berdiskusi dan berbagi informasi di antara para pemangku kepentingan.   

Berbeda dari komentar-komentar sebelumnya, Yogi Makin, seorang jurnalis dari  Flores Bangkit, sebuah portal berita online, terkesan dengan foto-foto yang diambil oleh para peserta perempuan tersebut.

“Hari ini mereka menunjukkan kepada saya bahwa kita tidak memerlukan kamera mahal untuk membuat foto yang baik.  Kamera sederhana dapat menghasilkan gambar-gambar yang bermakna dan kuat.  Gambar memberi kita 1001 makna,”ujarnya menutup wawancara.