Cerita

Pelatihan Sistem Pertanian Alami BaKTI di Sulawesi Selatan

Pada 31 Oktober hingga 2 November 2016, BaKTI mengadakan Pelatihan Sistem Pertanian Alami di Lembang (Desa), Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Pelatihan yang diikuti oleh 23 peserta ini menghadirkan praktisi Pertanian Alami dari Desa Salassae, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Armin Salassa.

Pelatihan ini muncul sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian petani di Salassae. Dengan pertanian alami, jumlah produk yang dihasilkan dan kualitas hasil tanam pun dapat meningkat. Biaya produksi pada pertanian alami sangat rendah.  Diharapkan pertanian alami dapat mendorong perbaikan perekonomian petani di Sulwesi Selatan seperti yang telah dialami oleh para petani di Bulukumba salah satunya petani yang tergabung dalam Komunitas Swabina Pedesaan Salassae (KSPS).

Peserta Pelatihan adalah Kelompok Konstituen (KK), kelompok yang difasilitasi oleh Yayasan Kombongan Situru (YKS) dan merupakan bagian dari kerjasama Yayasan BaKTI dalam Program MAMPU.

Pelatihan tiga hari ini ini memperkenalkan sistem pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta menghasilkan produk pangan yang berkualitas, tanpa residu dari bahan-bahan kimia. Dimulai dengan pengenalan sistem pertanian alami dan prinsip-prinsip kerjanya di hari pertama, sedangkan pada hari kedua dan ketiga peserta melakukan praktek teori yang telah dipelajari. Peserta dilatih membuat bahan untuk menutrisi lahan dengan menggunakan bahan-bahan alami yang mudah diperoleh, seperti ikan segar, pisang mentah, pisang masak, papaya masak, papaya mentah, nenas mentah/muda, nenas masak, jantung pisang, batang pisang, kangkung, mangga masak, jahe, bawang putih, lengkuas, dan gula merah.

Salah satu peserta, Yoseph Mangguali merasa bahwa pelatihan kali ini mengusung tema yang sangat penting.

“Baru kali ini saya mengikuti pertemuan dari awal hingga akhir. Biasanya, saya jarang ikut sampai akhir. Ini karena saya merasakan manfaatnya. Saya juga sangat mebutuhkan ilmunya,” ujar Yoseph.

Edita Upa, salah satu peserta pelatihan lainnya mengatakan, “Saya baru mengetahui bahwa nitrogen belum dibutuhkan pada awal pertumbuhan. Banyak praktek yang keliru di masyarakat. Dulu, kami menaburkan urea terlebih dahulu. Sekarang kami lebih memahami metode yang benar.”

Diharapkan, bahwa petani subsisten dapat mengubah cara-cara bertani yang mengandalkan bahan-bahan kimia dan merusak tanah. Melalui inovasi seperti Pelatihan Pertanian Alami masyarakat berharap dapat meningkatkan produksi pertanian.

 

Dilaporkan oleh: Matias Tanan dan M. Ghufran H. Kordi K (BaKTI)