Cerita

Pelatihan Media Handling Skills untuk Forum Pengada Layanan

Upaya mengurangi kekerasan dan dampak kekerasan terhadap perempuan merupakan isu yang sangat penting dan akhir-akhir ini banyak menjadi sorotan media. Akan tetapi, kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang Kekerasan terhadap Perempuan masih terbatas, sehingga diperlukan penyebaran informasi yang benar dan masif melalui dukungan media. Untuk itu, Program MAMPU mengadakan pelatihan “Media Handling Skills” bagi Forum Pengada Layanan, agar mitra dapat menyampaikan pesan inti kepada wartawan dan media dengan baik.

Pelatihan satu hari pada 2 Juni 2017 ini, diikuti oleh 11 orang perwakilan dari Forum Pengada Layanan yang ada di berbagai daerah. Adapun fasilitator dan narasumber dalam pelatihan ini merupakan para wartawan senior dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Febrina Siahaan, wartawan senior dan penggiat AJI, adalah narasumber utama dalam pelatihan media handling skills ini. Salah satu topik yang dibahas adalah kesalahan-kesalahan para juru bicara saat menghadapi media. Untuk memahami topik ini, peserta diajak untuk menganalisis dan mengevaluasi video konferensi pers dari dua juru bicara yang berbeda, dan menilai apa yang sudah baik maupun yang salah.

“Dalam sebuah wawancara atau konferensi pers, selain pesan inti yang disampaikan, yang terpenting adalah bahasa tubuh/ gesture. Juru bicara atau spokeperson merupakan representasi dari sebuah institusi, sehingga bahasa tubuh dan pesan inti yang disampaikan menjadi sangat penting. Juru bicara diharapkan memiliki kepekaan terhadap konteks peristiwa yang terjadi”, papar Feby, sapaan akrab Febrina Siahaan.

Feby menambahkan, juru bicara juga harus memahami bagaimana cara kerja media, seperti framing, nilai berita, dan wawancara, serta memiliki keterampilan relasi media (media relation skills) yang baik. Selain itu dipaparkan juga seputar tips menulis berita yang layak muat dan bagaimana mengembangkan pesan utama (key message).

Dalam sesi kedua pelatihan, para peserta diajak untuk berlatih dalam menghadapi media. Masing-masing peserta diminta untuk membuat key message dan berlatih langsung wawancara bersama wartawan dengan berbagai metode. Salah satu metode yang dipraktekkan adalah “Door Stop”.Door stop interview termasuk wawancara dengan kategori paling sulit bagi narasumber atau juru bicara, karena dilakukan secara mendadak oleh wartawan. Resiko dari door stop interview adalah ketidaksiapan juru bicara dalam menjawab pertanyaan wartawan, kemungkinan tergiring besar, dan emosi gampang tersulut.

Setiap peserta direkam dan diambil gambarnya dalam latihan wawancara ini. Kemudian, hasil wawancara ditayangkan untuk kemudian dievaluasi, apa yang sudah bagus, mana yang perlu diperbaiki, tips bagaimana memasukkan key message saat wawancara, serta tips mengatur bahasa tubuh.

Sebagai penutup, para peserta diminta untuk menyampaikan pembelajaran yang didapat (lesson learned) dari pelatihan ini.

“Selama ini saya kurang percaya diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wartawan dan media. Sekarang saya lebih memiliki percaya diri itu”, ujar Rosita dari Sanggar Suara Perempuan (SSP) Soe, NTT.

Adapun Leli dari Serikat Perempuan Independen (SPI) Labuhan Batu, Sumatera Utara menyebutkan, “Saya jadi tahu pentingnya key message dan gesture kita saat berhadapan dengan media. Mulai sekarang saya akan tulis key message sebelum wawancara.”

Nancy dari Gasira Maluku menyampaikan, “Selama ini hubungan kami dengan media hanya mengandalkan hubungan pertemanan tanpa tahu apa yang media butuhkan. Hari ini saya menjadi tahu apa yang dibutuhkan”.