Cerita

Nurlina: Pejuang Pulau dari Pulau Sabangko, Sulawesi Selatan

LEBIH dari sepuluh kali, fotokopi KTP Nurlina—seorang nelayan perempuan dari Pulau Sabangko, Sulawesi Selatan ditolak oleh Dinas Perikanan di wilayahnya. Fotokopi KTP ini diperlukan untuk melengkapi dokumen program bantuan yang hendak diajukan Nurlina, demi mendapatkan sebuah perahu.

“Kamu tidak bisa dapat, kamu kan perempuan,” demikian jawaban yang kerap didapatkan Nurlina ketika fotokopi KTP-nya tidak diambil oleh petugas. Padahal, meski perempuan, Nurlina adalah seorang nelayan—sama dengan nelayan-nelayan lelaki lainnya yang berhak mendapatkan bantuan perahu.

“Saya kesal sekali waktu itu. Saya ini kan juga nelayan, saya tidak punya perahu, dan saya tulang punggung keluarga. Kenapa susah sekali saya dapat bantuan hanya karena saya perempuan?” Nurlina bercerita.

Sejak kecil, Nurlina memang sudah akrab dengan kehidupan nelayan. Dulu, ia biasa menemani ayahnya yang sakit-sakitan pergi melaut setiap hari. Ketika sang ayah akhirnya meninggal dunia, kakak lelaki Nurlina menjual perahu sang ayah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tetapi Nurlina sadar, uang yang didapatkan dari hasil penjualan perahu itu tak akan bisa menghidupi mereka selamanya.

Maka anak perempuan satu-satunya dalam keluarga ini memutuskan untuk pergi melaut dan menjadi nelayan. Setiap pukul 6 hingga pukul 8 pagi, Nurlina pergi melaut dan menebar jaring. Siang atau sore hari, ia akan kembali ke laut mengumpulkan hasil yang didapatkannya. “Kalau tak kuat panasnya matahari, saya berangkat pukul 5 sore,” kata Nurlina.

Selain menjadi nelayan, Nurlina pun biasa bekerja sebagai pengikat rumput laut dan penjahit jaring kepiting. Apapun akan ia kerjakan agar ia bisa mendapatkan cukup uang, sehingga ibunya tak perlu bekerja. “Kasihan, Mama kan sudah tua. Mama bilang Mama mau bekerja, saya bilang jangan, kalaupun mau bekerja ya di rumah saja, merawat-rawat rumah. Biar saya saja yang kerja,” Nurlina sesekali merangkul sang Ibu dengan sayang.

Setelah menikah, kakak lelaki Nurlina keluar dari rumah—sehingga Nurlina mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia sendiri mengaku belum terpikir untuk menikah meskipun sudah menginjak usia matang 26 tahun. “Saya mau membahagiakan orang tua dulu,” katanya serius. “Rasanya pengabdian orang tua selama ini belum terbayar, jadi saya mau bahagiakan Mama dulu.”

Kehidupan Nurlina mulai menemukan titik terang ketika ia diajak kawannya, Saidah, mengikuti pertemuan desa di Pulau Salemo. “Saya tidak tahu itu pertemuan apa. Saya juga tidak tanya. Saat sampai di Salemo, lutut saya gemetaran, karena baru pertama kali saya ikut pertemuan semacam ini. Ketika disuruh memperkenalkan diri juga saya takut sekali,” kenang Nurlina sambil tertawa. “Apalagi lalu saya disuruh menggambar peta pulau saya, Pulau Sabangko. Saya pun bingung, sampai saya kepanasan, seperti apa pula bentuknya Pulau Sabangko?”

Pertemuan inilah yang kemudian memperkenalkan Nurlina para fasilitator Sekolah Perempuan dari Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM). YKPM adalah salah satu mitra kerja MAMPU yang berjejaring dengan Institut KAPAL Perempuan. Nurlina pun ikut aktif di Sekolah Perempuan di Pulau Sabangko, Sulawesi Selatan yang didukung Program MAMPU.

Di Sekolah Perempuan, Nurlina belajar mengenai keadilan gender, kepemimpinan, dan isu-isu perlindungan sosial bersama perempuan-perempuan pulau lainnya. Dari sinilah Nurlina menyadari bahwa perempuan dan laki-laki sesungguhnya memiliki hak yang sama—termasuk memahami haknya untuk mendapatkan bantuan perahu meskipun ia seorang perempuan.

“Awalnya dulu kalau disuruh untuk bicara di depan, kaki rasanya berat sekali untuk berdiri,” Nurlina bercerita. “Tapi saya yakinkan diri bahwa saya harus bisa, dan harus menjalani ini. Sekarang saya juga melatih teman-teman Sekolah Perempuan di sini supaya bisa bicara seperti saya, walau sedikit demi sedikit.“

Seiring kepercayaan dirinya yang semakin bertumbuh, Nurlina semakin berani dalam memperjuangkan hak-haknya. Ketika bertemu dengan Bupati Pangkajene & Kepulauan, ia pun angkat bicara mengenai kendala yang ia hadapi sebagai nelayan perempuan: tak bisa mendapatkan bantuan perahu karena ia seorang perempuan.

Nurlina mengaku, dulu ia takut sekali berbicara dengan pejabat. “Jangankan bicara, lihat orang pakai baju dinas saja lutut saya sudah gemetaran,” katanya sambil tertawa. Namun hasil pelatihan Sekolah Perempuan, membuat Nurlina sanggup menyampaikan keluhannya dengan lancar di hadapan Pak Bupati. Bupati menyarankan agar Nurlina mengajukan lagi permohonan bantuan perahu dan menjamin Nurlina akan mendapatkannya. Tidak lama dari kejadian itu, Nurlina mendapatkan perahu yang sekarang menjadi sumber kehidupannya dan keluarganya.

Sejak saat itulah, Nurlina menyadari pentingnya keberanian berbicara—terutama bagi perempuan, untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Nurlina sekarang sangat aktif membantu teman-temannya di Sekolah Perempuan untuk bisa berkomunikasi dengan baik dengan berbagai pemangku kepentingan, terutama dengan pemerintah tentang semua permasalahan yang terkait kehidupan masyarakat di pulaunya.

Ketika Nurlina mendapatkan perahunya, Ia berjanji pada dirinya, dengan adanya perahu itu ia akan membantu menyeberangkan siapapun yang membutuhkan jasanya, tanpa perlu membayar. Ia paham sekali bahwa transportasi masih menjadi kendala besar untuk mengakses layanan dasar bagi penduduk pulaunya.

Saat ini, di pinggiran dermaga Pulau Sabangko, Sulawesi Selatan sudah bisa ditemui sebuah perahu berwarna merah muda bertuliskan GADIS PEMBERANI di antara perahu-perahu nelayan lainnya. Itulah perahu bantuan yang berhasil didapatkan Nurlina. Nurlina membantu penduduk pulaunya untuk mengakses layanan dasar, seperti kesehatan dan pendidikan.

Untuk mengakses layanan kesehatan, masyarakat Desa Sabangko harus menyeberang ke Pulau Salemo, sekitar setengah jam dari desa tersebut. Akses untuk proses persalinan biasanya kasus yang paling sering dijumpai. Tenaga kesehatan seperti bidan harus dijemput dari pulau sebelah. Nurlina tidak segan menolong penduduk pulaunya untuk menyebrang.

Selain itu para siswa sekolah juga harus menyeberang dengan perahu untuk mengakses sekolah mereka. Sekali menyeberang, siswa ini harus mengeluarkan uang sebesar Rp.2000. Seringkali ketika ombak besar, mereka tidak pergi sekolah karena takut terhanyut ombak. Nurlina pun selalu siap sedia mengantarkan para siswa untuk bersekolah.

Selain membantu penduduk pulaunya untuk transportasi, Nurlina juga masih berjuang bersama perempuan-perempuan di pulaunya untuk mengatasi masalah ketersediaan air bersih dan pasokan listrik. Saat ini, pasokan listrik Pulau Sabangko memang masih dikelola anggota masyarakat yang memiliki generator. Sekarang Nurlina bersama dengan teman-teman Sekolah Perempuan sudah berani bicara langsung memberikan usulan pada pemerintah setempat agar kebutuhan dasar masyarakat setempat lebih baik.

Walau fokus membantu komunitas dan keluarganya, Nurlina mempunyai tekad untuk menuntut ilmu. Meski telah putus sekolah sejak kelas 6 SD, Nurlina masih menyimpan keinginan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Baru-baru ini ia telah menamatkan Kejar Paket B—setara SMP, dan berencana mengambil Kejar Paket C. Ia ingin punya ijazah, agar nantinya tidak susah mencari kerja.

Saat ini program MAMPU mendukung lebih dari 260 Sekolah Perempuan merangkul lebih dari 4200 perempuan yang tersebar di 6 propinsi di Indonesia melalui Institut KAPAL Perempuan. Institut KAPAL Perempuan bermitra dengan 5 mitra LSM lokal lain, yaitu Kelompok Perempuan dan Sumber – Sumber Kehidupan (KP2SK) di Jawa Timur, Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia (LPSDM) di Nusa Tenggara Barat, Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) di Sulawesi Selatan, Pembangkik Batang Tarandam di Sumatera Barat, Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat “Alfa Omega” (YAO) di Nusa Tenggara Timur.

Diharapkan melalui Sekolah Perempuan akan muncul pemimpin-pemimpin baru seperti Nurlina yang tidak letih berjuang demi kesejahteraan bersama.