Cerita

Aliansi Perempuan Merangin Memerangi Tabu Pendidikan Seksual di Jambi

Nama lengkap saya Nurhasanah. Biasanya orang memanggil saya “Nur”. Saya lahir di Kampung Tengah pada tanggal 10 Juni 1965. Saat ini, saya tinggal di Kelurahan Pematang Kandis, Kecamatan Bangko, Kabupaten Merangin. Saya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil dan duduk di posisi kepala bidang Pemberdayaan Perempuan di kantor Badan Pemberdayaan Perempuan Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak (BPPKBPA) Kabupaten Merangin, Jambi.

Sudah banyak perubahan positif yang saya alami setelah terlibat dan mengikuti program Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) dari Aliansi Perempuan Merangin (APM). Perubahan yang paling mendasar yang saya alami adalah kesadaran dan pemahaman saya mengenai pendidikan seks yang dulu tabu untuk dibicarakan.

Ternyata pendidikan kesehatan reproduksi penting diberikan kepada seluruh elemen masyarakat secara gamblang agar tidak salah dalam menafsirkan masalah pendidikan seks. Bahkan pendidikan ini juga perlu diberikan kepada anak sejak usia dini, tentunya disesuaikan dengan tingkat usia dan kebutuhannya.

Saya sudah mengenal lembaga APM sejak tahun 2007 karena sering bersama-sama dalam mendampingi perempuan korban tindak kekerasan dan mendorong adanya Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kabupaten Merangin.

Sejak tahun 2015, saya mengikuti kegiatan dan terlibat dalam program HKSR yang diadakan APM, baik kegiatan pendidikan maupun dalam diskusi reguler Forum Multi Stakeholders (FMS) dan Forum Perempuan Pejabat Publik. Saya juga pernah mendapat kesempatan untuk menjadi peserta kegiatan Lokakarya Penguatan Forum Multi Stakeholder (FMS) di Pematang Siantar, Sumatera Utara pada tanggal 22-23 Desember 2016 yang diadakan oleh PERMAMPU.

Saya merasakan bahwa APM berbeda dengan lembaga lainnya karena kerja-kerjanya konsisten dengan isu pemberdayaan perempuan. Mulai dari pendampingan perempuan dan anak korban tindak kekerasan, sampai mengentaskan perempuan dari kemiskinan serta upaya pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi.

Melalui diskusi reguler di forum perempuan pejabat publik dan forum multi-stakeholders, banyak pengetahuan dan pemahaman baru yang saya peroleh. Sekarang saya sudah mulai terbiasa dengan istilah seks, seksualitas, gender, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), dan organ reproduksi laki-laki dan perempuan.

Melalui forum yang diinisiasi APM ini, saya bersama para pemangku kepentingan lainnya bertemu, berkomunikasi dan membicarakan serta menanggapi sesuatu sebagai upaya untuk mencapai tujuan bersama, yaitu berperan dalam upaya peningkatan efektifitas pelayanan publik, terutama pelayanan terhadap perempuan korban tindak kekerasan dan kesehatan reproduksi yang berbasis pada Hak.

Dulu ketika menjabat di kantor camat sebagai sekretaris Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), saya sering turun ke kecamatan dan desa – desa untuk memberikan penyuluhan program kesehatan. Saat itu saya belum berani untuk berbicara hal yang berkaitan dengan seks dan organ reproduksi meskipun materinya tentang alat reproduksi, KB, dan Kesahatan Ibu dan Anak (KIA).

Saat itu, saya masih beranggapan bahwa itu tabu dan tidak pantas untuk dibicarakan di depan umum. Namun setelah saya bergabung di APM dengan program HKSR ini, saya menjadi sadar dan paham kalau pendidikan kesehatan reproduksi penting diberikan kepada seluruh elemen masyarakat.

Selain itu, setelah terlibat dalam pelatihan penyadaran gender dan HKSR yang diadakan APM, ada proses yang terjadi dalam diri saya. Pandangan saya terhadap persoalan-persoalan HKSR Perempuan serta fakta-fakta di lapangan terkait dengan kekerasan seksual dan pernikahan pada usia anak semakin objektif. Ternyata kita sebagai orang tua tidak hanya cukup memberi nafkah secara materi, namun ada hal yang lebih penting yaitu mendampingi dan menjadi teman bagi anak.

Sangat penting membangun komunikasi yang baik sehingga jika anak memiliki masalah terkait kehidupan seksual dan reproduksinya, dia akan merasa nyaman dan terbuka dengan kita orang tuanya. Pengetahuan ini saya praktikkan pada diri saya di keluarga dan di lingkungan tempat saya bekerja (kantor).

Harapan saya, para perempuan perlu mempersiapkan diri dari sekarang dalam menghadapi hari tua, baik dari segi materi maupun fisik untuk tetap merasa bahagia. Adapun kepada APM, saya berharap agar APM mengembangkan Program HKSR ini ke lebih banyak desa dan wilayah kota lain. Agar informasi tentang kesehatan seksual dan reproduksi lebih banyak membawa manfaat baik bagi perempuan.

“Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Sri Lestari”