Cerita Perubahan

Mengajarkan Kesetaraan Gender pada Anak lewat PAUD

8 Mei 2018
Penulis: admin

Dilaporkan oleh Marie Astrid Wijaya – Partner Engagement Officer, MAMPU

Pengetahuan dasar tentang kesetaraan jender dapat diberikan kepada anak laki-laki dan perempuan di sekolah.  PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) KEPAL atau Kesatuan Perempuan Lampung Utara, telah melakukan hal ini selama dua tahun terakhir.  KEPAL merupakan lembaga dampingan Damar, mitra daerah PERMAMPU.

Para guru di PAUD ini, mengajarkan tentang kesetaraan jender kepada murid-muridnya melalui permainan dan warna.  Sebagai contoh:  anak-anak diajarkan kalau warna merah muda bukan hanya untuk anak perempuan, atau memasak bukan hanya dilakukan oleh perempuan, dan sebagainya.

PAUD ini dibentuk tahun 2014 oleh ibu-ibu anggota KEPAL di Kelurahan Kuta Alam, Lampung Utara, Sumatera.  Mereka sudah lulus mengikuti pelatihan-pelatihan seperti pelatihan tentang kesetaraan jender, analisa sosial dengan perspektif feminis, anti kekerasan, kepemimpinan perempuan dan organisasi.  Pada awalnya, PAUD ini memiliki 28 murid dan empat guru.  Mereka telah memberikan pengetahuan dasar kesetaraan jender ini sejak PAUD dibentuk.  Anak laki-laki dan perempuan diajarkan untuk menghindari stereotip jender melalui warna (misalnya, warna merah mudah hanya untuk anak perempuan), atau mainan (mobil-mobilan untuk anak laki-laki dan boneka untuk anak perempuan) dan pembagian peran (memasak hanya dilakukan oleh anak perempuan).

Materi kesetaraan jender disisipkan dalam kurikulum PAUD yang sudah disediakan oleh Dinas Pendidikan.  Materi tersebut disusun berdasarkan pengetahuan yang mereka dapat dari pelatihan-pelatihan yang mereka terima sebelumnya, kemudian disesuaikan dengan metode pendidikan untuk anak-anak. Agar anak-anak tertarik, penyampaian materi kesetaraan jender dilakukan dalam bentuk permainan.

Sampai saat ini, menurut ibu-ibu anggota PAUD KEPAL, tidak ada orang tua yang mengeluh karena anaknya diberikan pengetahuan tentang kesetaraan jender ini. Sebaliknya, orang tua merasa, pengetahuan ini akan memberikan bekal kepada anak-anak mereka untuk bisa menghargai pembagian peran antara laki-laki dan perempuan ketika mereka dewasa.