Cerita

Kelompok Konstituen Bahagia Pastikan Warga Miskin Terima Jaminan Kesehatan dari BPJS di Sulawesi Selatan

Nurjannah (45) adalah seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Parepare, Sulawesi Selatan. Selain mengurus suami dan anaknya, Nurjannah juga aktif sebagai anggota Kelompok Konstituen Bahagia.

Sejak terbentuknya Kelompok Konstituen Bahagia di Kelurahan Watang Soreang, ia telah mengikuti berbagai pertemuan penguatan yang dimotori oleh MAMPU yang bermitra dengan YLP2EM Parepare. Kegiatan ini memberikan kesadaran kritis kepada Nurjannah, terutama pada saat Mentoring dan technical assistance penguatan KK terhadap BPJS Kesehatan.

Ia menyadari bahwa di lingkungan tempatnya tinggal, ternyata masih banyak masyarakat yang belum terintegrasi ke dalam penerima BPJS – Penerima Bantuan Iuran (PBI) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Hal ini diperkuat dengan pengaduan yang masuk ke Kelompok Konstituen, yangkebanyakan adalah tentang BPJS kesehatan PBI-APBD.

Nurjannah menyadari bahwa pemerintah berkewajiban memberikan jaminan sosial kepada warga miskin. Pada saat keresahan masyarakat muncul terkait dengan informasi-informasi yang tidak jelas, seperti pendaftaran kepesertaan Jaminan Kesehatan integrasi Penerima Bantuan Iuran akan berakhir, kuota di Dinas Kesehatan sudah penuh, atau Jamkesda tidak akan diberlakukan lagi, di sinilah ia dan Kelompok Konstituen Bahagia mengambil peranan penting untuk bagaimana memediasi masyarakat untuk menjawab semua keresahan tersebut.

Pada tanggal 28 Maret 2016, Nurjannah dan anggota seksi data dan informasi, berinisiatif mengumpulkan data warga miskin yang belum terdaftar sebagai peserta BPJS (PBI). Dari pendataan tersebut, didapati bahwa di RW 02 terdapat 35 Kepala Keluarga (KK), RW 03 terdapat 37 KK, RW 04 terdapat 56 KK, RW 05 terdapat 41 KK yang belum terdaftar. Kelengkapan data dari warga miskin ini kemudian diserahkan kepada Dinas Kesehatan.

Hal ini sesuai dengan panduan yang diterima Nurjannah dan Kelompok Konstituen dari pendamping dan hasil kesepakatan dengan Dinas Kesehatan pada saat Workshop Advokasi Kebijakan tentang BPJS dan JKN, serta pengelolaan dan penanganan pengaduan masyarakat. Namun jawaban yang diterima, kuota Parepare untuk kepesertaan Jaminan Kesehatan Integrasi Penerima Bantuan Iuran sudah penuh. Hal ini menjadi tantangan bagi Kelompok Konstituen Bahagia karena ternyata masih banyak warga miskin yang belum terintegrasi.

Pada awal bulan Oktober 2016, terbit kartu KIS tahap pertama sebanyak 410 penerima dan tahap kedua sebanyak 1580 di Kelurahan Watang Soreang. Selanjutnya kartu BPJS Jaminan Kesehatan Integrasi Penerima Bantuan Iuran sebanyak 3.904 penerima.

Nurjannah melihat banyak warga yang memiliki dua kartu kepesertaan. Oleh karena itu, ia mencoba menemui Dinas Kesehatan, PKM Cempae,dan BPJS Kesehatan untuk membicarakan banyaknya warga yang mempunyai kartu ganda, sementara masih ada warga miskin yang semestinya berhak mendapatkan Kartu BPJS (PBI), tetapi belum terdaftar.

Dinas Kesehatan dan BPJS Kesehatan bagian pengaduan menyampaikan bahwa bagi warga yang mempunyai Kartu KIS, BPJS-PBI APBD cukup memakai Kartu KIS saja. Kartu BPJS selanjutnya ditarik, kemudian dialihkan kepada warga yang belum terdaftar terutama bagi warga miskin. Mendengar pernyataan dari Dinas Kesehatan dan BPJS Kesehatan, Nurjannah dan KK Bahagia mengumpulkan kartu kepesertaan ganda untuk dikonversi dengan penerima BPJS PBI-APBD dari data yang telah mereka serahkan kepada pihak Dinas Kesehatan. Saat ini jumlah warga miskin yang telah mendapatkan kartu BPJS Kesehatan PBI-APBD sebanyak 169 peserta.

Dampak dari apa yang Nurjannah dan Kelompok Konstituen kerjakan sangatlah membantu perempuan miskin, karena mereka tidak lagi dibebani biaya pengobatan pada saat berobat di puskesmas maupun dirujuk di rumah sakit untuk mendapatkan pelayanan lanjutan.

Saat ini Kelompok Konstituen Bahagia di Kelurahan Watang Soreang cukup dikenal masyarakat dan menjadi media pengaduan bagi warga miskin yang ada di Kelurahan Watang Soreang. Pengurus Kelompok Konstituen Bahagia selalu cepat dan tidak pernah berkata dalam menindaklanjuti pengaduan masyarakat. Hal ini menjadikan masyarakat di sekitar Kelompok Konstituen Bahagia Kelurahan Watang Soreang sangat merasakan manfaatnya.

“Harapan saya, Program MAMPU tetap selalu ada untuk memberikan penguatan bagi kami para perempuan agar dapat memotivasi perempuan lainnya untuk lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar kita. Progam MAMPU ini kami harapkan dapat mendekatkan para wakil-wakil kami yang ada di DPRD untuk lebih memperhatikan perempuan miskin”, ujar Nurjannah.

Nurjannah berharap apa yang ia lakukan melalui Kelompok Konstituen ini dapat menjadi virus baik bagi perempuan-perempuan lainnya untuk menjadi lebih peka dan kritis dalam melihat permasalahan warga miskin, khususnya perempuan yang mempunyai beban ganda dalam keluarga.

Ditulis oleh: Nurjannah (Kelompok Konstituen Bahagia)