Cerita Perubahan

Arisan Pangan Lembata Bantu Desa di NTT Cukupi Kebutuhan Ekonomi

9 Mei 2018
Penulis: admin

Memperkuat misi ketahanan pangan di Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan wilayah kerja PEKKA, diimplementasikan dengan memperkuat perekonomian masyarakat melalui ketahanan pangan dan kedaulatan lahan.

Bernadete Deram (45), Koordinator Kelompok Basis PEKKA di NTT, mengungkapkan bahwa pergeseran pola makan yang lebih condong ke serba instan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari penyakit, terhambatnya pertumbuhan anak dan meningkatnya pengeluaran untuk membeli pangan tersebut. Terlebih, mengingat jarak yang sangat jauh dan angkutan yang sangat jarang dari pemukiman masyarakat ke pasar dan perkotaan di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, kondisi ini menyulitkan warga untuk memperoleh kebutuhan pokok.

PEKKA yang telah menjalankan program budidaya pangan lokal, diperkuat dengan dukungan program MAMPU, memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami jagung, kacang hijau, singkong, pisang dan lain-lain. Lumbung bersama disediakan sebagai cadangan jika diperlukan. Dengan demikian, penghasilan mereka berputar di desa tersebut dan perempuan kepala keluarga selalu ada solusi untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dengan landasan berpikir bahwa dari desa ke pasar atau pusat perekonomian jarak tempuhnya jauh, hal ini akan memakan biaya transportasi yang tinggi ditambah uang akan terbuang ke luar area desa, yang artinya perekonomian akan terpusat di kota saja.

Akhirnya 30 Kelompok binaan PEKKA yang ada di 26 desa di Kabupaten Lembata melakukan upaya dengan mengoptimalisasikan lahan-lahan yang dimiliki dengan ditanami berbagai bahan kebutuhan pangan. Setiap desa mempunyai potensi kesuburan tanaman pangan, seperti Desa Beutaran di Kecamatan Ile Ape yang merupakan penghasil kacang hijau terbesar di antara desa-desa lainnya.

Setiap Desa punya potensi saling barter atau arisan pangan. Jadi, uang yang mereka punya tak banyak ke luar. Mereka bisa memutar dan memajukan ekonomi di tempatnya sendiri berkat arisan pangan ini. Untuk kebutuhan pangan lainnya, seperti minyak, gula dan beras, mereka mengumpulkan iuran sebesar Rp. 50.000,- per bulan untuk dibelikan sembako yang belum tersedia di lahan mereka. Hasil iuran dibelikan bahan sembako tersebut kemudian didata sesuai keperluan masing-masing. Didahulukan untuk yang paling membutuhkan. Cara ini cukup efektif dan sangat membantu.

Untuk keperluan pupuk, di Desa Lemau Kecamatan Ile Ape Timur, Kelompok Peduli Anak membuat program pengolahan sampah daur ulang yang hasilnya dijadikan pupuk untuk kebun mereka. Menurut Rubia Lela, salah satu anggota Kelompok Peduli Anak, sebelumnya masyarakat suka membeli pupuk dari luar yang harganya mahal dan memerlukan ongkos tinggi. Sejak adanya pembuatan pupuk sendiri, sangat membantu.

“Program MAMPU sangat membantu kami dalam memberikan pemahaman dalam pemberdayaan ekonomi di desa kami,” kata Rubia Lela.

Di Desa Lemau, selain ada arisan sembako, dikatakan Agnes Peni selaku Ketua Kelompok, ada juga program Arisan Kayu Bakar. Setiap anggota kelompok mengumpulkan ranting-ranting kering dari kebun atau hutan dan hasilnya digilir ke setiap anggota yang membutuhkan.

“Kayu yang kami ambil bukan hasil tebangan dengan sengaja. Kami hanya memungut ranting-ranting kering yang sudah jatuh jadi tak merusak lingkungan,” Agnes menjelaskan.

Sementara di Desa Tanjung Batu, Kecamatan ile Ape, Mariam Mahmud, ketua Kelompok Kasih Ibu menyatakan bahwa untuk mengantisipasi musim paceklik dimana bahan pangan berkurang dan panen tidak bagus, mereka mempunyai alternatif lain, yakni kegiatan menenun dan lumbung tenun untuk kelompok. Karya Tenun Ikat yang mereka buat semua dari bahan alami, mulai dari bahan dasar, berupa kapas murni dan pewarnanya dari akar dan kulit pohon mengkudu. Pusat kegiatan menenun ada di Desa Lamawara, Kecamatan Ile Ape Timur. Beberapa kelompok seperti Kelompok Bunga Muda dan lain-lain, juga mengadakan Lumbung Air sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air bersih. Arisan air ini rutin diadakan sehingga persediaan air tercukupi dalam setiap keluarga.

Arisan pangan ini menganut asas gotong royong dan menghidupkan lagi filosofi kerjasama dalam hal apapun. Forum diskusi yang diadakan MAMPU di wilayah kerja PEKKA, sangat membantu dalam memberikan wadah diskusi untuk memberikan banyak pemahaman dalam pemberdayaan ekonomi di sana. Dalam setiap diskusi sering diselingi dengan acara masak dan makan bersama sehingga kekompakan mereka bertambah kuat dan pemahaman lebih cepat masuk.