Cerita Perubahan

Berbagi Pengalaman Menghadapi Kanker Payudara Bersama Kelompok Konstituen Pancor di NTB

8 Mei 2018
Penulis: admin

Namanya Masiah, umurnya 33 tahun. Ia adalah salah satu warga Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Orangnya sangat gesit dan bertipe mandiri. Perempuan berperawakan mungil ini lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan menikah di usia 18 tahun. Masiah menikah untuk kedua kalinya di usia 20 tahun, setelah pernikahan pertamanya hanya bertahan sekitar 1 bulan.

Sekilas, tidak ada yang menyangka kalau Masiah sudah 6 tahun mengidap kanker payudara stadium 4 great B. Kanker payudara stadium 4 merupakan fase dimana sel kanker sudah sangat parah dan ganas. Pada stadium ini, sel kanker mengalami metastasis yaitu penyebaran sel kanker ke jaringan tubuh yang semakin luas.

Pada mulanya, tahun 2010 Masiah merasakan ada benjolan aneh di sekitar payudaranya. Ia pun memberanikan diri untuk memeriksakan ke Rumah Sakit (RS) Soedjono, Selong, Lombok Timur. Setelah diperiksa, dokter menyarankan pengambilan sampel untuk cek laboratorium. Mendengar hal ini, Masiah merasa sangat cemas, terlebih karena ia memiliki seorang anak perempuan yang masih berusia 4 tahun dan suaminya sedang merantau sebagai buruh migran di Malaysia. Orang tua dan mertuanya sudah meninggal, sehingga ia menghadapi ini seorang diri.

Akhirnya, Masiah mendapatkan hasil tes laboratorium tersebut. Dokter menyampaikan bahwa ia terkena kanker payudara. Walaupun merasa sangat kaget dan sedih, Masiah bertekad untuk sembuh dengan cara apapun. Awalnya ia merasa sulit menyampaikan penyakitnya kepada suaminya di Malaysia. Namun, akhirnya ia berani bercerita dan suaminya menganjurkan agar ia melanjutkan pengobatan.

Masiah pergi ke RSU provinsi yang ada di Mataram untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Hasil dari pemeriksaan tersebut menyarankan bahwa ia harus melakukan pengobatan lebih lanjut di RS Sanglah, Denpasar Bali. Untuk pengobatannya, ia menggunakan Jamkesmas (Jaminan kesehatan masyarakat) yang dimilikinya. Untuk mendapatkan pengobatan yang lebih lengkap di RS Sanglah Denpasar, Masiah menghadapi berbagai tantangan dan harus berjuang karenanya. Dengan dana terbatas pemberian suaminya, Masiah mencoba untuk mencukupkan segala kebutuhannya selama pengobatan dan transportasi dari rumahnya di Lombok Timur ke Denpasar, Bali.

“Untuk menyiasati biaya hidup selama berobat di Denpasar, saya kerap menjadi relawan bagi teman-teman yang sedang mengalami hal serupa. Saya menyampaikan informasi tentang bagaimana cara mengakses layanan dan juga berbagi cerita. Beruntung, saya mendapatkan berbagai bantuan dari teman-teman baru”, ungkap Masiah.

Akhirnya pada 9 Februari 2015, Masiah harus merelakan payudaranya dan menjalani 12 kali kemoterapi, serta bolak-balik Lombok Timur-Sanglah Denpasar sebanyak 8 kali. Walaupun begitu, Masiah sangat bersyukur karena ia bisa sembuh.

“Tekad saya menjalani pengobatan yang tidak mudah itu, membuat saya masih bisa bertahan dan dapat bertemu kembali dengan suami dalam keadaan hidup”, ucap Masiah penuh kesyukuran.

***

Masiah adalah salah seorang penyintas (survivor) kanker payudara. Mulanya, Masiah hanyalah warga biasa, namun kemudian ia diajak bergabung ke Kelompok Konstituen (KK) Pancor untuk ikut dalam berbagai kegiatan. Setelah bergabung, Masiah mengalami banyak perubahan, salah satunya ia semakin bersemangat dan tanpa ragu atau malu membagikan pengalamannya sebagai penderita kanker payudara. Masiah selalu mengadvokasi perempuan-perempuan lain untuk melakukan tindakan pencegahan kanker dengan pemeriksaan rutin secara dini. Di KK Pancor, Ia sering berkumpul dan berbagi pengalaman dan motivasi dalam menghadapi kanker. Dari pengalaman hidupnya tersebut, Masiah mencoba untuk menebarkan semangat hidup bagi perempuan penderita kanker payudara lainnya. Ia tidak meratapi penderitaannya, namun sebaliknya Ia menjadi contoh dan teladan bagi perempuan-perempuan lain untuk selalu kuat dan bangkit. Masiah selalu yakin bahwa harapan hidup sekecil apapun kemungkinannya, layak untuk diperjuangkan.

Sebagai kelompok yang didorong pembentukannya oleh Sub Office BaKTI NTB untuk Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan), Kelompok Konstituen telah menjadi lembaga yang mengadvokasi kepentingan perempuan sekaligus menjadi tempat belajar bagi perempuan. Kelompok Konstituen adalah wadah gerakan advokasi warga yang berfungsi sebagai tempat pengaduan warga, tempat diskusi, pusat pembelajaran, pusat informasi warga serta sebagai lumbung data penyeimbang bagi Dewan Perwakilan dalam kerja-kerja jaring aspirasi.

Dilaporkan oleh: Nur Janah dan M. Ghufran H. Kordi K.