Cerita Perubahan

Perempuan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Bangkit dengan Koperasi Kredit

9 Mei 2018
Penulis: admin

Marta, ibu rumah tangga beranak 7 ini berhasil bangkit dari pengalaman buruknya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Marta sudah menikah lebih dari 20 tahun. Selama menikah, Ia kerap mendapatkan kekerasan psikis dari suaminya. Anak-anak mereka pun juga kerap menjadi korban kekerasan fisik oleh suaminya yang pemabuk dan tidak menafkahi rumah tangga. Belum selesai kasus tersebut, dua anak perempuannya menjadi korban penganiayaan dan kekerasan seksual dari tetangganya.

Pada tahun 2012, Marta dipertemukan dengan Women’s Crisis Center (WCC) Sinceritas – Perkumpulan Sada Ahmo (PESADA), salah satu mitra PERMAMPU di Sumatera Utara. Melalui dampingan PESADA, korban belajar melihat benang merah dari masalah yang dihadapinya, belajar mengenai haknya sebagai perempuan dan belajar mengenai posisi perempuan di masyarakat hingga akhirnya dia bangkit.

“Saat itu aku merasa adat istiadat membuat masyarakat hanya diam dan tidak bertindak saat aku mendapat kekerasan atau membantu saat di mengalami kesulitan. Aku harus melawan, melompati budaya yang telah mengungkungku selama 20 tahun,” ujar Martha.

Marta menjadi pelopor bagi perempuan lain untuk bangkit. Marta memilih keluar dari rumah suaminya. Tindakannya ini banyak dicemooh oleh masyarakat sekitarnya yang merasa Ia melanggar adat dan budaya setempat. Perlahan, dengan bantuan ketujuh anaknya Ia membangun rumah tempat tinggal mereka. Ia pantang menyerah, menghidupi keluarga dengan bekerja sebagai buruh di ladang orang lain.

Untuk menyiasati pemenuhan kebutuhan hidupnya, Ia pun kemudian membentuk kelompok Koperasi Kredit yang didamping oleh PESADA di dusun tempat Ia tinggal. Perempuan-perempuan lain yang senasib dengannya, turut serta menjadi anggota Koperasi Kredit ini. Di dalam pertemuan-pertemuan Koperasi Kredit ini, banyak pertukaran informasi yang terjadi. PESADA mendampingi kelompok Koperasi Kredit di dusun Marta untuk memahami pentingnya kesehatan seksual dan reproduksi, gender, Undang-undang PKDRT (Pelaku Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan Undang-undang Perlindungan Anak, serta pentingnya perempuan memiliki tabungan. Martha dan perempuan-perempuan di kelompoknya menjadi lebih percaya diri dan mandiri karena memiliki tabungan di Koperasi Kredit dan pengetahuan tentang hak sosial dan posisi perempuan.

“Melalui pengalamanku, aku berusaha menjelaskan mengenai posisi dan hak sosial perempuan untuk perempuan-perempuan di dusunku. Beberapa pertemuan yang kuikuti, membuatku belajar pentingnya berorganisasi serta bertemu dan berdiskusi dengan perempuan dari kabupaten lainnya,” ujarnya.

Mengimplementasikan pengetahuan yang dimilikinya Martha menerapkan pembagian peran di rumahnya sendiri. Dia tidak membedakan pekerjaan yang harus dilakukan anak laki‐laki dan anak perempuan, anak laki‐laki harus juga bisa mencuci piring, memasak, dan mengasuh adik demikian juga anak perempuan. Ia berharap melalui pembagian peran yang dijalankan baik di komunitas dan di dalam keluarga dapat menimbulkan rasa saling menghormati, yang diharapkan bisa menekan angka kekerasan terhadap perempuan.

* Penyempurnaan cerita dari Most Significant Changes yang ditulis oleh Dewi Hairani