Cerita

MAMPU Dukung Jambore Nasional Buruh Migran 2015 di Jawa Timur

MAMPU mendukung pelaksanaan Jambore Nasional Buruh Migran 2015 yang diselenggarakan oleh Migrant CARE di Jember, Jawa Timur mulai dari 23 November hingga 25 November 2015. Kegiatan ini berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan dalam tata kelola perlindungan buruh migran yaitu BNP2TKI dan Universitas Jember untuk merumuskan road map perlindungan buruh migran Indonesia. Seluruh kegiatan jambore terpusat di Gedung Soetardjo Universitas Jember.

Dengan mengambil tema: Negara Hadir, Buruh Migran Terlindungi, kegiatan Jambore Nasional Buruh Migran Indonesia ini ingin memastikan bahwa visi misi Nawacita terkait kehadiran negara dalam perlindungan buruh migran Indonesia tidak benar diejawantahkan dalam tindakan konkrit dalam bentuk kebijakan migrasi aman dan tidak kontraproduktif dengan hak konstitusional setiap warga negara untuk bekerja secara layak.

Rombongan komunitas buruh migran datang berbondong-bondong ke kota Jember sejak tanggal 22 November 2015, mereka berasal dari berbagai wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat serta berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Korea Selatan, Taiwan, Saudi Arabia dan Belanda. Peserta pun tidak hanya para buruh migran dan mantan buruh migran, namun dari berbagai kalangan seperti akademisi, LSM, pemerintah (eksekutif dan legislatif) pusat dan daerah, media, mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan. Hingga akhir acara, hamper 1700 orang terdaftar sebagai peserta jambore ini.

Jambore Nasional 3 hari ini diisi dengan berbagai kegiatan positif diantaranya, dialog kebijakan, diskusi isu-isu krusial seperti revisi UU No.39/2004, hukuman mati, perlindungan PRT migran, perlindungan buruh migran yang tidak berdokumen resmi, komitmen pemerintah daerah, keberpihakan pendidikan tinggi untuk perlindungan buruh migran, ASEAN dan buruh migran, pendidikan adil gender bagi calon buruh migran, pengembangan ekonomi, peran akademisi dalam perlindungan buruh migran, SDGs, RPJMN dan buruh migran, advokasi buruh migran berbasis teknologi, mengakhiri praktek korupsi dalam penempatan buruh migran, peran media dalam perlindungan buruh migran, menuju pembiayaan migrasi yang ideal, serta problem agrarian dan problem migrasi. Tema-tema ini diharapkan akan menjadi kerangka dalam memperbaharui tata kelola migrasi menjadi migrasi aman yang berbasis pada penegakan HAM dan keadilan gender.

Menteri Ketenagakerjaan, Moh. Hanif Dhakiri hadir di hari terakhir untuk menutup jambore. Beliau menegaskan keseriusan pemerintah untuk menyelesaikan isu-isu buruh migran Indonesia. Setelah itu, jambore diakhiri dengan launching “Deklarasi Tegalboto untuk Perlindungan Buruh Migran” yang merupakan hasil dari keseluruhan jambore.

Beliau pun hadir di desa Sumbersalah Kec. Ledokombo Jember untuk meresmikan program Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI) didampingi oleh Migrant CARE, Tanoker dan MAMPU. DESBUMI merupakan sebuah inisiatif yang dibangun untuk penyediaan layanan tingkat pertama bagi buruh migran di tingkat desa untuk menghindarkan buruh migran dari calo atau agen illegal penyalur tenaga kerja. Layanan yang tersedia di DESBUMI adalah informasi dengan pusat informasi terpadu, pengurusan dokumen, pendataan, pengaduan serta pemberdayaan ekonomi di bawah payung hukum Peraturan Desa (Perdes).

Selain diskusi terkait buruh migran, disediakan pula panggung seni dan budaya yang akan diisi oleh Melanie Subono, Ridho Slank, Adjis Doa Ibu dan Wali Band pada 25 November 2015.

Foto-foto hasil dari perempuan-perempuan mantan buruh migran dari Lembata dan Lombok yang sudah mengikuti pelatihan PhotoVoice yang didukung oleh MAMPU pun dipamerkan di aula Universitas Jember. Selain itu juga ada pameran hasil karya buruh migran dan komunitasnya, klinik bantuan hukum, klinik kesehatan dan klinik media.