Cerita

 

LPP Bone Bantu Petani Rumput Laut Sulawesi Selatan Pahami Isu Buruh Migran

9 Mei 2018
Penulis: admin

Kali pertama Ibu Sabe’ina ‘menyeberang’ ke Malaysia, pabrik tempatnya bekerja diserbu pasukan polisi. Siang itu, ada sekitar 40 buruh migran perempuan yang ditangkap—termasuk Ibu Sabe’ina.

“Ada yang berasal dari Bone, Kendari, Pinrang… mereka menangis karena ingat anak, ingat suami. Dikira mereka tidak akan pulang, tidak bisa lagi ketemu orang-orang tersayang,” kisah Ibu Sabe’ina dari teras rumahnya di Dusun Cempalagi, Desa Mallari, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Ketika Ibu Sabe’ina dan kawan-kawan berangkat ke Malaysia, paspor mereka memang dikumpulkan oleh sang ‘bos besar’. Kabarnya, bos besar sebenarnya sudah menjamin mereka semua untuk bekerja di sana. Namun, saat penangkapan terjadi, paspor mereka belum kembali ke tangan masing-masing.

“Pasrah saja, kami dibentak-bentak dan dibui,” ujar Ibu Sabe’ina sambil tertawa mengingat pengalamannya itu. “Ketika sudah malam, saya dan kawan-kawan lapar karena belum makan seharian. Yang lain takut minta makan, maka saya teriak: Pak, kami lapar ini! Perut sudah minta diisi! Lalu saya dibentak oleh polisi dan disuruh duduk. Tapi tak lama polisi itu menelepon bos besar, bilang: heh, ini buruh kamu 40 orang lapar semua! Lalu tidak lama kemudian kami diantarkan nasi dan ayam goreng!”

Dengan sosoknya yang sigap dan cekatan, suaranya yang keras, juga gaya bicaranya yang cepat dan ceplas-ceplos, tak sulit membayangkan Ibu Sabe’ina yang berani meminta makan malam kepada petugas polisi Malaysia dari balik jeruji. Inilah salah satu momen yang juga membuat Ibu Sabe’ina memahami pentingnya memiliki keberanian untuk berbicara.

Dusun Cempalagi dan daerah-daerah sekitarnya memang terkenal sebagai pemasok buruh migran. Kesulitan mendapatkan pekerjaan dan penghasilan di dusun sendiri membuat penduduk berlomba-lomba untuk mengadu peruntungan mereka di negeri tetangga. Tak semuanya berangkat lewat jalur resmi dengan dokumen yang lengkap.

“Ya, biasanya kita tergoda janji-janji manisnya,” Ibu Sabe’ina mengakui. “Dan kita kan banyak yang tidak tahu cara-cara yang benar seperti apa. Tidak tahu kalau surat-surat itu semuanya harus lengkap.”

Maka ketika suatu hari Ibu Kepala Desa mengabarkan bahwa akan ada pelatihan buruh migran yang dilangsungkan di desa, Ibu Sabe’ina tak ragu-ragu untuk ikut serta. Inilah kegiatan pertama yang membuat Ibu Sabe’ina mengenal LPP Bone, salah satu mitra BaKTI yang didukung oleh Program MAMPU.

“Kebetulan waktu itu saya sedang pulang, jadi saya ikut pelatihan itu. Yang memberi pelatihan Pak Rasyid dari LPP. Sebelum bergabung di LPP, saya tidak pernah kemana-mana. Tinggal saja di rumah, hanya kerja rumput laut,” kata Ibu Sabe’ina sambil tertawa ketika mengenang masa-masa itu. “Sekarang, begitu sudah bergabung, saya sering dipanggil Ibu Desa untuk Musrenbang*!”

Kini, Ibu Sabe’ina memang sudah nyaman menjalani pekerjaannya sebagai pengikat rumput laut di dusunnya. Ia mengaku tak ingin lagi bekerja di Malaysia. “Kalau cepat mengikat rumput laut, satu hari bisa dapat 25ribu. Paling sedikit dapat 15ribu. Memang tidak seberapa besar, tapi enak di sini, dekat anak-anak. Anak-anak bisa sekolah. Di Malaysia anak-anak tidak bisa sekolah karena tidak ada surat-suratnya, dan bukan warga negara. Suami pun yang dulu jadi buruh migran di sana, sekarang sudah pulang. Sama-sama kami kerja rumput laut. Lebih enak begini,” ujar ibu dua anak ini seraya tersenyum.

Rumput laut memang membawa berkah tersendiri bagi penduduk Dusun Cempalagi. Perempuan-perempuan dusun yang menganggur karena tak punya sawah atau hendak berangkat menjadi buruh migran, kini bisa bekerja sebagai pengikat rumput laut. Bibit rumput laut biasanya diikatkan pada tali dengan panjang 10, 12, atau 15 meter, kemudian hari itu juga, para lelaki membawanya ke tengah laut untuk ditanam.

“Lumayan, kalau petani kan kami cuma panen sekali setahun, kalau rumput laut setiap dua bulan sudah bisa panen,” kata Ibu Sabe’ina bersemangat.

Saat ini, Ibu Sabe’ina gencar mengajak para perempuan di dekat tempat tinggalnya untuk membantu suami-suami mereka memperbaiki ekonomi keluarga. Salah satunya, lewat usaha simpan-pinjam di Credit Union (CU) Pammase yang dikelola LPP Bone. Awalnya, CU Pammase Bone merupakan koperasi simpan-pinjam yang dikhususkan untuk buruh migran, namun belakangan dikembangkan untuk membantu nelayan, petani, serta usaha-usaha mikro di pedesaan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kalau di CU kan kita bisa pinjam uang untuk beli bibit, satunya dua ribu,” ujar Ibu Sabe’ina. “Kalau ada banyak usaha rumput laut, kita menggebu-gebu, senang karena akan dapat banyak uang. Kalau di sini terlalu banyak rumput lautnya, kita cari lagi dari desa lain siapa yang bisa bantu kita mengikat, supaya cepat!”

Karena kerap terlibat dalam berbagai kegiatan dan pelatihan dari LPP Bone, kini Ibu Sabe’ina menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh penduduk dusun yang membutuhkan bantuan. “Kalau ada orang sakit yang tidak ada uang dan surat-surat biasanya saya antar untuk berobat, kalau ada yang melaporkan perselingkuhan juga nanti saya bantu sampaikan kepada Ibu Desa untuk diselesaikan. Banyak kan di antara mereka yang tidak berani atau minta ditemani, jadi saya antar.”

Sepak terjangnya yang tanpa pamrih ini pun ternyata tak lepas dari perhatian Ibu Kepala Desa. Ia telah berbicara dengan Ibu Sabe’ina secara pribadi, dan menawarinya kesempatan untuk menjadi Kepala Dusun.

“Saya bilang saya belum sanggup,” ujarnya malu-malu. “Tapi Ibu Desa bilang, kamu saja yang bisa diandalkan, karena kalau disuruh apapun cepat melakukannya. Tapi kan saya pikir, saya juga masih banyak kekurangan, tapi Ibu Desa bilang, dicoba saja.”

Ibu Sabe’ina sebenarnya juga sudah memiliki pengalaman dalam mewakili desanya di pertemuan-pertemuan kecamatan. Salah satunya adalah pada Desember 2014 pada pertemuan Kecamatan Awangpone, Kabupaten Bone. Saat itu, Ibu Sabe’ina dan sembilan rekannya untuk pertama kalinya terlibat mewakili Desa Mallari untuk mengusulkan adanya jamban di setiap rumah warga—baik yang didirikan dengan bantuan pemerintah, swadaya, maupun mandiri.

“Ya, itu kan sosialisasi serentak, kita bergerak sama-sama dengan Ibu Desa,” ujar Ibu Sabe’ina. “Kan kita sudah dapat pelatihan di Puskesmas, kalau ada jamban nanti tidak banyak penyakit. Dulu kan orang buang air sembarangan saja. Jadi banyak muntaber, tipes, demam berdarah. Jadi waktu itu Ibu Desa juga punya strategi, kalau rumah tidak punya jamban, mereka tidak dikasih raskin! Jadi orang-orang di sini berusaha bagaimana caranya, uang sedikit pun ditabung untuk membuat jamban. Ini kan kami bantu supaya ada gerakan kesehatan yang baik untuk kita juga.”

Saat ini, Ibu Sabe’ina aktif berkegiatan bersama LPP Bone sebagai pengurus Humas di kelompok konstituen Attuddukengnge. Lantas, apakah selanjutnya Ibu Sabe’ina juga akan aktif menjadi Kepala Dusun Cempalagi?

“Ah, saya tidak tahu itu. Saya bisa atau tidak. Masih banyak yang harus dipelajari, nanti tolong dibantu,” ujarnya sedikit gugup.

Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Abdul Rasyiddari BaKTI LPP (Lembaga Pemberdayaan Perempuan) Bone di Provinsi Sulawesi Selatan

—–

*) Musyawarah Perencanaan Pembangunan