Cerita

Kartini di Mata Misiyah

Menyambut Hari Kartini, MAMPU ingin memperlihatkan Kartini di mata perempuan-perempuan hebat masa kini yang berjuang demi kepentingan perempuan.

Salah satunya adalah Misiyah. Misiyah atau yang akrab dipanggil Misi, adalah Direktur Eksekutif Harian Institut KAPAL Perempuan, organisasi yang fokus pada pendidikan, penelitian, publikasi, dan advokasi untuk pendidikan alternatif, pluralisme dan hak-hak perempuan. KAPAL Perempuan adalah salah satu mitra Program MAMPU yang fokus pada meningkatkan akses perempuan ke program-program perlindungan sosial pemerintah.

Berikut hasil duduk bareng MAMPU dengan Misi mengenai Kartini dan nilai-nilai perjuangan Kartini yang beliau ambil untuk perjuangannya bagi perempuan Indonesia.

 

Apa yang biasanya Mba Misi dengar tentang Kartini dan Hari Kartini itu sendiri?

Mendengar Kartini selalu identik dengan perjuangan untuk pembebasan perempuandari kungkungan adat yang feodal di jaman penjajahan kolonial. Kartini adalah perempuan pejuang yang berani dan kritis di jamannya, dan di usianya yang relatif muda.

Hari Kartini diakui sebagai peringatan pahlawan nasional dan diperingati di seluruh Indonesia. Ini sebuah tanda pengakuan, meski kita semua tahu bahwa Kartini bukan satu-satunya pahlawan perempuan karena banyak perempuan pejuang lainnya, baik yang tercatat sebagai pahlawan nasional maupun yang tidak terekam oleh sejarah.

 

Apa ada perubahan peringatan Hari Kartini saat ini dengan sebelumnya?

Peringatan hari Kartini akhir-akhir ini menunjukkan banyak perubahan. Nuansa peringatannya mulai mengedepankan karya dan perjuangannya. Mulai menggeser pola-pola lama yaitu peringatan yang hanya sebatas simbolik kebaya, konde dan lomba-lomba-lomba memasak tanpa dibarengi dengan mengangkat emansipasi yang diperjuangkannya.

Hari Kartini telah menjadi topik utama dalam media massa misalnya dimuatnya tulisan khusus dalam majalah TEMPO, bahkan dibuatkan momen khusus sebuah pameran lukisan dan instalasi tentang Kartini.  Peringatan Kartini tahun ini, kita dapat menyaksikan penggalan kisah perjuangannya dalam film Kartini. Dengan tetap mempertimbangkan kritik, film ini mempunyai berhasil memberikan pesan kuat  untuk mengangkat isu sensitive di Indonesia yaitu poligami dan perkawinan anak.

 

Sisi mana yang sebenarnya Mba Misi ingin masyarakat lebih tahu tentang perjuangan Kartini?

Menilai Kartini, kita perlu masuk ke alam jaman penjajahan, bahwa Kartini mampu melintas batas.  Kartini berjuang melalui pikiran-pikiran yang melampaui jamannya. Kartini sosok ningrat yang memiliki kemampuan berempati terhadap kehidupan masyarakat miskin. Kartini yang memiliki hak-hak istimewa telah berani menukarnya dengan mendedikasikan dirinya untuk mendirikan sekolah bagi anak perempuan dari rakyat jelata.

Kartini memilih pendidikan menjadi jalan keluar untuk perempuan masa itu. Oleh karena itu, arti pendidikan yang diperjuangkan Kartini adalah pendidikan untuk pembebasan perempuan. Saya pikir penting bagi kita untuk memaknai pendidikan yang diperjuangkan Kartini bukan semata-mata untuk formalitas dan mengejar strata jenjang pendidikan, namun lebih jauh dari itu yaitu pendidikan untuk membongkar belenggu penindasan perempuan, melawan perkawinan anak, melawan poligami dan membebaskan perempuan agar setara di seluruh aspek kehidupan.

 

Apa nilai-nilai dari perjuangan Kartini yang Mba Misi ambil dan tuangkan dalam perjuangan yang sekarang Mba Misi lakukan dengan teman-teman lewat Institut KAPAL Perempuan?

Yang paling utama adalah perjuangannya dalam memecah kebisuan perempuandengan menggugah kesadaran perempuan agar mampu menyadari ketertindasan diri perempuan itu sendiri. Contoh-contoh yang Kartini lakukan antara lain dengan menentang poligami dan perkawinan anak. Perempuan mesti menyadari bahwa praktik-praktik ini merupakan bentuk penindasan perempuan. Dengan kesadaran ini, perempuan akan mempunyai keberanian menolak dan itu artinya perempuan telah melakukan perubahan.

Perjuangan ini yang kami terjemahkan dengan Pendidikan Feminis atau pendidikan perempuan, sebuah proses pembelajaran untuk membangun kesadaran kritis perempuan. Kartini memberikan inspirasi pendidikan ini hingga masa sekarang.  Meski diakui berbagai kemajuan telah dimiliki oleh perempuan Indonesia, namun masih menyisakan relatif banyak perempuan yang miskin, perempuan yang tidak mendapatkan akses pembelajaran, dan secara formal tidak dapat mencapai pendidikan SLTA.

Bagaimana melakukan penguatan kepada mereka, perempuan miskin, berpendidikan rendah dan berada dalam lingkup budaya patriarki dan fundamentalisme yang semakin menguat. Pendidikan perempuan untuk pembebasan perempuan merupakan alternatif jawabannya. Sebuah proses pembelajaran sepanjang hayat bagi perempuan yang berada di barisan kelompok rentan ini. Mereka membutuhkan wadah-wadah yang dapat membuat mereka percaya diri, mempunyai posisi tawar, otonom terhadap tubuh dan pikirannya.

Bagi Indonesia, pemenuhan hak atas pendidikan bagi semua, pendidikan yang mampu mengubah karakter, menjadikan perempuan otonom sudah mendesak untuk dilakukan. Apalagi Indonesia telah mendeklarasikan diri sebagai pemerintah yang melakukan revolusi mental, dan salah satu bagian pentingnya adalah melakukan revolusi mental masyarakat dan pejabat publik yang mendiskriminasi perempuan.

Kebijakan terbaru Indonesia adalah menandatangani SDGs, dan didalamnya tertera secara jelas pada goal 4 SDGs yaitu memandatkan negara untuk “Memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang”. Kami berharap Indonesia bisa mencapainya.