Cerita

Kartini di Mata Dina Lumbantobing

Menyambut Hari Kartini, MAMPU ingin memperlihatkan Kartini di mata perempuan-perempuan hebat masa kini yang berjuang demi kepentingan perempuan.

Salah satunya adalah Dina Lumbantobing. Akrab dipanggil Dina, beliau adalah seorang aktivis wanita dan spesialis gender dan pemberdayaan perempuan pada pengembangan dan organisasi LSM pengarusutamaan gender. Selama lebih dari 30 tahun, Dia telah bekerja di berbagai proyek yang berkaitan dengan isu-isu di seluruh wilayah Indonesia dan Asia Tenggara.

Bergelar Master Gender & Development Studies dari Sussex University, Inggris, Dina berpengalaman luas bekerja dengan LSM di Indonesia dan Asia Tenggara telah dilakukannya. Antara lain, mengepalai penelitian dan kapasitas divisi pembangunan pesada dan orang yang bertanggung jawab untuk Women Crisis Center “Sinceritas” di Medan pada tahun 2004, menjadi Anggota Dewan Eksekutif untuk Asia Tenggara, koordinator Jaringan Aktivis Perempuan Sumatera Utara dan berfungsi sebagai Anggota Dewan Eksekutif untuk Asia Tenggara, Asosiasi Asia Pasifik Selatan untuk Pendidikan Dasar dan Dewasa (ASPBAE) antara Tahun 2007-2008.

Bersama MAMPU beliau Koordinator Tim Kerja PERMAMPU, sebuah konsorsium 8 organisasi perempuan yang tersebar di Sumatera.

Ini hasil duduk bersama dengan Dina tentang Kartini dan nilai-nilai perjuangannya.

 

Apa yang biasanya Kak Dina dengar tentang Kartini dan Hari Kartini?

Kartini yang selalu identik dengan kata persamaan hak, emansipasi, yang diartikan perjuangan untuk persamaan hak atas pendidikan bagi perempuan. Tidak banyak yang melihat betapa berat perjuangannya sebagai perempuan yang sudah tidak bebas sekolah, dipingit, dijodohkan dengan laki-laki yang tidak dikenal dan juga harus bersedia dimadu, dan secara ironis berisiko berpulang saat melahirkan.

 

Sisi mana yang sebenarnya Kak Dina ingin masyarakat lebih tahu tentang perjuangan Kartini?

Aku ingin orang lain tahu kalau pandangan Kartini jauh lebih luas dan dalam daripada sekedar ‘agar perempuan menikmati pendidikan’ atau sebagai ‘Ibu kita.

Di dalam surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda, Rosa dan Stella Zeehandelaar. Kartini berbicara banyak hal mengenai sosial, budaya, agama bahkan korupsi. Dia mempunyai pemikiran mengenai isu klas sosial dan cara-cara pikir saat itu yang merendahkan perempuan.

Dua kutipan surat-surat Kartini ini yang membuat aku kagum:

·       Bagi saya ada dua macam bangsawan, ialah bangsawan fikiran dan bangsawan budi. Tidaklah yang lebih gila dan bodoh menurut pendapat saya dari pada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya. (Suratnya kepada Stella, 18 Agustus 1899)

·       Bagi saya hanya ada dua macam keningratan : keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Ini kemudian menjadi bukti nyata betapa besarnya keinginan dari perempuan bernama Kartini untuk melepaskan perempuan dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya. Serta memperlihatkan betapa beratnya menjadi seorang pejuang yang bergerak di bidang hak kelompok yang selalu dianggap lebih rendah, baik karena jenis kelamin, maupun karena klasnya.

 

Apa nilai-nilai dari perjuangan Kartini yang Kak Dina ambil dan tuangkan dalam perjuangan yang Kak Dina lakukan?

Banyak, soal kesetaraan, bahwa perempuan setara dengan laki-laki. Bahwa salah satu inti dari penguatan perempuan adalah pendidikan yang membuat perempuan berpikir kritis, mempertanyakan apakah pengalaman dan hidupnya adalah kodrat atau ada sistem yang membuatnya diperlakukan lebih rendah dan diskrimininatif.

Ini adalah inti dari penguatan perempuan yang kutuangkan melalui Pesada, lembaga tempat kubernaung, adalah cara berpikir yang mampu berubah secara radikal, agar perempuan mampu bergerak memperjuangkan haknya, mempunyai akses bukan hanya terhadap pendidikan, tetapi juga ke sumberdaya ekonomi dan politik, serta memutuskan untuk diri sendiri bukan untuk orang lain, khususnya untuk TUBUH DAN PIKIRANNYA.

Tidak semua dari Kartini pastinya, tetapi bagiku Kartini adalah nama pejuang perempuan yang pertama kukenal, meski hanya diawali dari cara berpakaian/berpenampilan. Dulu aku pernah jadi juara dua berkebaya waktu kelas 2 SD. Itu  dulu menjadi beban pikiran saya waktu kecil, kenapa harus membawa sanggul sebesar itu dan sarung seketat itu?

 

Adakah capaian yang Kak Dina rasa paling membanggakan yang kakak raih melalui organisasi kakak dalam memperjuangkan kepentingan perempuan Indonesia?

Sesuai dengan pendekatan Pesada, yang paling membanggakan adalah berkembangnya Credit Union Perempuan atau Koperasi Perempuan sebagai organisasi perempuan independen dan mempunyai kekuatan ekonomi sekaligus kesadaran kritis perempuan.

Walau diawali dengan kecurigaan perempuan pedesaan maupun penolakan para penguasa atas upaya pengorganisasian, Pesada menjadi organisasi yang kuat dan menjadi ‘rumah’ bagi perempuan-perempuan akar rumput. Organisasi ini tidak hanya dikenal sebagai Koperasi beranggotakan perempuan-perempuan yang mempunyai modal uang dan cerdas, para anggota juga menjadi perempuan yang berpotensi untuk menjadi pemimpin di lembaga-lembaga lokal, serta kader-kader Pesada yang juga bergerak untuk menghapuskan Kekerasan Terhadap Perempuan, khususnya Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Kekerasan Seksual.