Cerita

Jublina Saduk: Memotivasi Produktivitas Perempuan

Nama saya Jublina Saduk usia 51 tahun. Saya adalah seorang guru SD dan juga merupakan Ketua PKK Desa Oesao dan Ketua Kelompok Esasue. Suami saya adalah Kepala Desa Oesao, Kupang Timur, Kota Kupang, NTT.

Sebelum suami saya menjadi kepala desa, saya sudah aktif dalam berbagai kegiatan di kecamatan. Jika ada kegiatan di tingkat kecamatan, desa bahkan ke kabupaten pun saya selalu diikutkan sebagai perwakilan perempuan.

Saat suami saya terpilih menjadi kepala desa, saya berusaha agar mama-mama di Desa Oesao keluar dari kebiasaan yang kurang produktif. Banyak mama-mama yang lebih suka duduk-duduk di rumah tetangga hingga lupa untuk memasak, hingga akhirnya saat pulang membuat suami marah.

Saya berupaya memotivasi mereka dengan cara menjadikan diri saya sebagai contoh dan berupaya meminta dukungan dari pemerintah, seperti meminta bantuan di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Propinsi. Dari sana, saya mendapatkan bantuan 20 unit mesin jahit.

Tidak lama kemudian, kelompok kami juga mendapatkan dukungan berupa pendampingan dan pelatihan menjahit dari Yayasan Satu Karya Karsa (YSKK). Secara kebetulan, saya bertemu dengan ibu Ana dari YSKK di Disnakertrans. Melalui obrolan dengan beliau, akhirnya kami membentuk kelompok menjahit yang diberi nama kelompok ESASUE.

Dengan anggota berjumlah 20 orang yang tidak bisa menjahit, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya agar kelompok ini bisa produktif. Latar belakang anggota yang tidak bisa menjahit dan karakter yang sedikit sulit diatur, membuat saya berusaha memberikan kesadaran kepada mereka serta memotivasi mereka agar bisa maju: jangan hanya menjadi istri yang duduk diam di rumah, suka bergosip, atau hanya menjaga suami saat makan.

Di sisi lain, saya juga memberi pengertian kepada suami mereka agar tidak membatasi aktivitas para istri. Dari pelatihan dan pendampingan yang diberikan YSKK, pola pikir mama-mama dan keluarga, khususnya para suami, mulai berubah. Hal ini dikarenakan istri mereka sekarang bisa mendapatkan keterampilan dan penghasilan tambahan yang membantu ekonomi keluarga.

Salah satu contohnya adalah Mama Maria Seubelan. Suaminya dulu sangat mengekang dan melarang Mama Seubelan mengikuti kegiatan-kegiatan di desa. Namun sekarang Mama Maria sudah bisa menjahit tas dan dijual di keluarganya sendiri. Bahkan dia mengumpulkan kain-kain sisa untuk kemudian ia jahit menjadi dompet handphone, seperti yang YSKK ajarkan ketika pelatihan.

Walaupun sedikit, secara ekonomi sudah ada perubahan. Dari yang dulunya pasif, sekarang sudah bisa produktif dan memiliki penghasilan untuk membeli garam dan gula sendiri tanpa menunggu pemberian suami.

Ditulis oleh: Maria Seubelan diambil dari Most Significant Change Stories