Cerita

Ibu Syamsiah: Kalau Suami Tak Dukung, Ganti Saja!

Siang itu, rumah Ibu Syamsiah di Kampung Kaili, Kelurahan Bonto Lebang penuh sesak. Ibu-ibu duduk berdesakan, mereka ribut berdiskusi sambil bercanda-tawa.

“Dulu itu Ibu Salma sempat saya tanya, kalau terlibat di kegiatan MAMPU ini suami bagaimana, mendukung atau tidak? Lalu kata Ibu Salma, kalau tidak dukung ya, ganti saja (suaminya, red.)!” ,kelakar Ibu Syamsiah, yang langsung disambut tawa terbahak-bahak dari ibu-ibu yang tengah berkumpul hari itu. Lucu rasanya bisa menertawakan kelakar itu, mengingat beberapa tahun lalu, Ibu Syamsiah sendiri pun masih kesulitan untuk berkegiatan di luar rumah, karena sang suami melarang.

Hari itu Ibu Syamsiah memang tengah memimpin pertemuan rutin ibu-ibu MAMPU di desanya.

“Luar biasa sudah kalau kita sedang berkumpul!” celetuknya riang. “Ya, banyak bercandanya, tapi ini juga kegiatan rutin kami. Ini kita akan rapat evaluasi kegiatan yang sudah dilaksanakan, lalu juga memutuskan selanjutnya ada langkah apa yang perlu dilakukan.”

Perempuan yang sudah menginjak usia 41 tahun ini kemudian memimpin pertemuan hari itu dengan tegas. Ia bertanya kepada tiap-tiap kelompok perempuan mengenai hasil kegiatan sosialisasi tes IVA dan Pap Smear untuk deteksi dini kanker serviks yang baru mereka lakukan beberapa waktu lalu.

“Bagaimana dengan Baronang? Ada berapa orang yang sudah tes dan berapa yang belum di kampungmu? Cakalang? Bintang Laut? Bagaimana dengan Pesisir? Apa masih ada lagi yang mau ikut tes?”, ia bertanya sambil mencatat angka PUS (Perempuan Usia Subur) yang diajukan masing-masing kelompok untuk mengikuti tes IVA selanjutnya.

“Karena di sini kami daerah nelayan, jadi nama-nama kelompoknya juga memakai nama-nama yang dekat dengan laut, seperti Baronang, Cakalang, Bintang Laut, dan Pesisir,” Ibu Syamsiah menjelaskan.

“Ayo, dari ibu-ibu adakah yang lainnya yang mau disampaikan kepada kami? Bicara saja, jangan ragu-ragu, apa kesulitannya, adakah rencana yang mau dijalankan? Atau dari kader adakah unek-unek selama menjalankan kegiatan ini?”

Melihat bahasa tubuhnya yang mantap dan ketegasannya memimpin rapat hari itu, sulit membayangkan bahwa awalnya Ibu Syamsiah adalah perempuan yang pemalu.

“Untuk bicara dalam keluarga saja nggak berani, kok,” kata Ibu Syamsiah.

“MAMPU yang mengajari kami lewat pelatihan-pelatihan yang diadakan. Luar biasa, saya dan Ibu Salma sudah masuk kepala empat dan dulu tidak pernah punya kesempatan jadi delegasi untuk Musrenbang*, sekarang alhamdulillah, kami bahkan sudah terkirim ke kabupaten.”

Ibu Syamsiah mengakui bahwa ia perlu belajar banyak untuk bisa berbicara dengan tegas dan percaya diri seperti saat ini.

“Dulu ada pelatihan di hotel, dan kami disuruh berbicara di depan teman-teman, berhadapan, lalu disuruh bergoyang dan bernyanyi,” ia tertawa.

Kegigihan Ibu Syamsiah dalam meningkatkan kemampuannya untuk menyampaikan pemikiran dan pendapatnya membuahkan hasil. Ia kemudian aktif menjadi salah satu motivator MAMPU dan kader ‘Aisyiyah di kampungnya.

“Dulu waktu pertama itu kita masih door to door, datang dari rumah ke rumah, tidak semua juga mau diajak bicara, ada yang tinggal pergi saja,” Ibu Syamsiah berkisah.“Tapi alhamdulillah sekarang setelah sudah banyak yang tahu tentang MAMPU ini, sekarang malah banyak PUS yang minta ingin jadi anggota. Dulu juga kalau mau panggil pertemuan harus kita datangi satu-satu, sekarang sudah kerja sama dengan RT/RW di sini, kita panggil saja melalui mesjid!”

Melihat kiprah Ibu Syamsiah dalam berorganisasi, sang suami pun tak lagi bisa melarang. Apalagi pada Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) tingkat kecamatan pada tahun 2015 ini, Ibu Syamsiah ditunjuk oleh masyarakat di kampungnya untuk menjadi delegasi dari Kelurahan Bonto Lebang. Sang suami pun semakin bersemangat mendukung Ibu Syamsiah untuk aktif di kegiatan-kegiatan MAMPU bersama ‘Aisyiyah.

“Banyak pengetahuan yang kami dapat, misalnya baru-baru ini ada orang mati di Takala. Karena kami sudah pernah mendapat sosialisasi cara perawatan jenazah, kami bisa bantu. Ada juga Bapak yang bicara dengan bangga karena anaknya cepat kawin di usia dini. Sekarang PUS bisa bilang, kalau di kampungku tidak begitu karena sudah ada sosialiasi, kalau nikah dini nanti bisa merusak organ tubuh anak kami. Bapak itu lalu mulai bertanya, kan, organ-organ macam apa?” Ibu Syamsiah menjelaskan.

“Kalau berobat juga para PUS sudah bisa tanya sama dokter, penyakit saya apa, seperti apa, coba jelaskan. Tadinya tidak berani, setelah berobat cuma ambil obat saja lalu pulang, tidak tahu mereka penyakitnya apa.”

Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change yang ditulis oleh Kasma dari ‘Aisyiyah di Kabupaten Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan.