Cerita

Hasanah, Kisah Pekerja Bordir Tingkatkan Taraf Hidup Lewat MWPRI

Uswatun Hasanah bekerja 3-4 pekerjaan pada waktu yang sama. Dia mempunyai warung mie ayam dan bensin di depan rumahnya; dia bekerja sebagai penjahit, menerima pesanan dari tetangga dan pelanggan lainnya; dia bekerja sebagai pekerja rumahan, menghasilkan bordir yang nantinya akan dijahit untuk sepatu; dan dia memberikan layanan katering atas permintaan, biasanya selama musim pesta dan liburan. Suaminya bekerja sebagai sopir truk, tetapi hanya bekerja ketika ada barang yang harus dikirimkan. Hasanah, suaminya, dan dua putri mereka, tinggal di sebuah rumah sederhana di Desa Kedung Rejo di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Dari semua pekerjaan yang Hasanah dan suaminya memiliki, mereka mendapatkan sekitar Rp 1.500.000 (AUD $ 150) per bulan. Ini di bawah upah minimal kabupaten yaitu Rp 1.635.000 (AUD$ 163) dan hampir tidak cukup untuk mendukung keluarga mereka. Anak-anak mereka bersekolah, namun kebutuhan dasar lainnya harus disingkirkan. Keluarga tidak berpartisipasi dalam program perlindungan sosial, termasuk BJPS Kesehatan. Hasanah menjelaskan bahwa biaya berlangganan minimal Rp.25.000 (AUD$ 2.5) per bulan per orang diperlukan untuk biaya makanan dan sekolah.

Dalam pekerjaannya sebagai pekerja rumah, Hasanah melengkapi 20-30 buah bordir (masing-masing untuk sepasang sepatu) per bulan. Pemberi kerja mengirimkan benang pada setiap awal bulan dan sembari mengambil hasil kerjanya dari bulan sebelumnya. Dihargai Rp 8.000 (AUD 80c) per pasang, dia mendapatkan IDR160.000-240.000 (AUD$ 16-24) per bulan. Jika hasil kerja tidak memenuhi standar yang diperlukan, dia harus menggantinya dengan yang baru tanpa ada benang tambahan. Hasanah dan perempuan-perempuan lain yang bekerja, tidak pernah diberikan pelatihan oleh majikan mereka. Mereka diharapkan sudah memiliki keterampilan bordir yang diperlukan.

Hasanah sendiri adalah anggota dari kelompok pekerja rumah diselenggarakan oleh Mitra Wanita Pekerja Rumahan Indonesia (MWPRI), sebuah LSM lokal yang beroperasi di Jawa Timur, salah satu mitra MAMPU.

Ia telah menjadi pekerja rumah di industri garmen selama 8 tahun. Dalam 6 tahun pertama, ia menghasilkan bordir untuk kerudung Muslim dengan bayaran IDR12.000 (AUD$ 1.20) per potong. Sayangnya, pekerjaan ini dihentikan oleh pemberi kerja. Sejak 2012, ia telah menghasilkan bordir untuk sepatu dengan biaya yang lebih rendah. Pada tahun pertama, dia hanya dibayar Rp 6.000 (AUD 60c) per pasang. Memasuki tahun kedua, Hasanah bernegosiasi dengan majikannya untuk biaya yang lebih tinggi.

“Saya meminta kenaikan gaji, dari IDR6.000 (AUD 60c) ke Rp 10.000 (AUD$ 1), menjelaskan bahwa harga kebutuhan dasar secara umum telah meningkat dan saya sudah bekerja selama beberapa tahun. Pada awalnya pemberi kerja menolak, tapi kemudian kita membahas lagi. Akhirnya dia setuju untuk meningkatkan bayaran Rp. 8.000 (AUD 80c) per pasang. Saya melakukannya sendiri. Saya harus berani.”

Hasanah menemukan keberanian untuk melakukan hal ini dengan dukungan MWPRI, dimana dia belajar bahwa bernegosiasi itu adalah hal mungkin terjadi. Tetapi kita harus punya pembenaran dan penjelasan yang baik.

Selain menyetujui kenaikan gaji, pemberi kerja juga bersedia untuk meminjamkan Hasanah Rp. 2juta (AUD$ 200) sebagai modal awal untuk warung, tanpa bunga atau batas waktu, selama Hasanah terus bekerja dengan bordir. Ide membuka usaha kecil datang setelah berpartisipasi dalam kursus kewirausahaan yang diselenggarakan oleh MWPRI.

“Uang dari membuat bordir tidak cukup untuk menghidupi keluarga saya, jadi saya harus melakukan sesuatu yang lain. Saya berpartisipasi dalam kelas kewirausahaan MWPRI dan berpikir bahwa saya bisa menjual sesuatu. Saya beruntung bahwa majikan saya adalah orang yang baik. Saya memintanya untuk pinjaman dan dia bersedia memberikannya kepada saya. Sekarang, saya menjual mie ayam dan bensin. Yah, saya tidak membuat banyak uang dari warung itu, tapi apa yang saya membuat dari itu digunakan untuk memberikan anak-anak saya uang saku. “

Hasanah mungkin memang beruntung memiliki pemberi kerja yang pengertian dan akomodatif, ini situasi langka di antara pekerja rumah.

Hasanah mempunyai banyak impian yang ingin ia capai. Dia berharap untuk mengirim anak sulungnya ke sebuah universitas di Jakarta di mana uang sekolah gratis, tapi biaya hidup akan menjadi mahal. Dia juga berharap dia bisa membuat dan menjual sepatu sendiri di masa depan, tidak hanya memasok bordir. Dalam prosesnya, Hasanah akan terus menjadi aktif terlibat dalam kegiatan peningkatan kapasitas yang diselenggarakan oleh MWPRI.

Dituliskan oleh Hirania Wiryasti (ILO-MAMPU)