Cerita

Fitri: Si Pengemas Blue

Namaku Fitri. Aku tinggal di Mabar, Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara. Suamiku bekerja sebagai supir angkot yang pendapatannya tak tetap.

Hampir satu tahun sudah aku bekerja mengemas blue. Awalnya aku hanya melihat-lihat teman yang mengemas blue, sampai akhirnya aku tertarik untuk mengerjakan sendiri dengan harapan dapat membantu ekonomi dalam rumah tangga.

Setiap orang yang mau menjadi pekerja pengemas blue, harus mengangkat sendiri bahan dari rumah agen. Bahan-bahan tersebut antara lain: blue 1 karung yang beratnya 15 kg, kertas karton dan tali plastik untuk menggantungkan blue yang sudah dihekter ke kertas karton.

Selama proses pengerjaan blue berlangsung, biasanya tangan, wajah bahkan mulut terkena warna blue. Hal ini dikarenakan adanya bungkusan blue yang terbuka sehingga mengenai bagian tubuh. Kami tidak menggunakan sarung tangan dan masker. Pengusaha tidak memberikan alat-alat pelindung tersebut untuk kami.

Selama aku bekerja mengemas blue, aku selalu dibantu oleh anak-anak dan suamiku. Kadang-kadang aku merasa kasihan melihat anak-anak karena waktu bermain mereka tersita untuk membantuku mengemas blue. Tapi, semua ini terpaksa kami lakukan untuk membantu kebutuhan keluarga.

Aku mendapat upah Rp.17.000/ karung dan biasanya dalam satu bulan aku menerima upah Rp.300.000‐Rp 350.000. Upah ini aku gunakan untuk membayar kontrakan rumah tiap bulan atau untuk membayar uang sekolah anak‐anak.

Walaupun sudah satu tahun aku menggeluti pekerjaan ini, namun perhatian pengusaha tidak ada buat kami para pekerjanya. Setiap akhir tahun kami tidak pernah mendapatkan THR (Tunjangan Hari Raya) dan bahkan alat pengemasnya pun harus kami beli sendiri.

Walau begitu, aku sangat bersyukur atas keberadaan si blue ini yang dapat membantu perekonomian rumah tangga kami. Namun terkadang aku merasa sedih karena keberadaan kami sebagai pekerja rumahan tidak pernah diketahui dan diakui oleh negara. Padahal pekerjaan yang kami lakukan adalah bagian dari kegiatan produksi pabrik yang legal.

Oleh karena itu, PERHATIKANLAH kami pekerja rumahan.

Ditulis oleh: Fitri