Cerita

Berkat PIAR NTT, Kini Masyarakat Kupang Sadar Pentingnya Kespro dan Mampu Awasi Pelaksanaan BPJS

Yayasan Perkumpulan Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR), salah satu kelompok dampingan Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP) di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan bahwa 78 perempuan di daratan Pulau Timor meninggal akibat kanker mulut rahim dan kanker payudara. Hal ini yang menimbulkan kekhawatiran masyarakat di Rayon IV, Kelurahan Naikoten, Kota Kupang, NTT. Sayangnya, banyak dari warga di daerah ini tidak berani mencari informasi atau melakukan deteksi dini karena takut akan anggapan bahwa pemeriksaan kanker selalu berujung di ruang operasi.

Kehawatiran ini telah menggugah PIAR NTT untuk melakukan beberapa kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan seksual dan reproduksi (kespro) di Kupang antara lain lewat diskusi komunitas dengan warga dan pengawasan warga terhadap pelayanan Badan Penyelenggaraan Penjaminan Sosial (BPJS).

PIAR NTT dan Ferdy Boling, Koordinator Rayon IV, Kota Kupang mengawali program ini dengan menyelenggarakan sebuah diskusi komunitas pada tanggal 14 Desember 2016 tentang kespro perempuan.

“Pengetahuan tentang kespro sangatlah penting disampaikan tidak hanya untuk perempuan juga tetapi juga oleh seluruh warga,” ungkap Ferdy.

Selain kespro, tantangan tentang program BPJS di Kota Kupang juga kerap dibahas. Mayoritas perempuan yang hadir pada acara diskusi tersebut juga menyampaikan harapannya agar Puskesmas Bakunase dapat dijadikan rujukan untuk pemeriksaan dini kanker.

Berdasarkan diskusi tersebut, diketahui bahwa mayoritas warga belum memahami tentang kanker, cara melakukan deteksi dini kanker serta cara mengakses fasilitas kesehatan menggunakan BPJS. Dengan bantuan Gereja Paulus dan para dokter di Kupang, PIAR NTT berinisiatif untuk melakukan deteksi dini kanker mulut rahim dan payudara bagi 50 orang pada 4 Februari 2017 lalu. Warga menyambut baik program ini. Mereka kini sadar akan pentingnya deteksi dini kanker mulut rahim dan tidak takut untuk datang ke puskemas terdekat untuk memeriksakan diri.

Sebagai salah satu program lanjutan, juga dilaksanakan pengawasan kebijakan dan pelayanan BPJS. Salah seorang warga di Kupang, Ata Taga menyampaikan bahwa kesehatan perempuan perlu lebih diperhatikan.

“Dalam banyak hal, perempuan terus diabaikan, terutama dalam hal pemenuhan pelayanan kesehatan,” ujar Ata.

Salah satu warga lainnya, Lies Dami juga menekankan sulitnya menjangkau pelayanan BPJS di Kota Kupang.

“Tak terbayang bagaimana pelayanan BPJS di daerah terpencil yang sulit terjangkau akibat topografi dan insfratuktur jalan yang buruk tanpa ketersedian transportasi. Di Kota Kupang yang fasilitas pelayanan kesehatannya cukup memadaimasih banyak hal tidak terlayani,” ujar Lies.

Banyaknya laporan akan pelayanan kesehatan tersebut, juga memicu PIAR NTT untuk melakukan pengawasan layanan BPJS dengan dukungan para perwakilan lembaga sosial masyarakat dan 5 perempuan di Kota Kupang. Usaha ini disambut baik oleh warga sekitar. Temuan dari setiap pengawasan selalu dikomunikasikan kembali pada pihak BPJS, Ombusdman dan Dinas Kesehatan untuk dijadikan bahan perbaikan di masa mendatang. Kini pelayanan di rumah sakit dan BPJS sedikit demi sedikit semakin membaik.

 

*Cerita ini diambil dan dituliskan kembali dari Cerita Perubahan (Most Signifcant Change Story) yang dituliskan oleh Sarah Lerry Mboik (PIAR NTT), untuk digunakan sebagai produk komunikasi dan pengelolaan pengetahuan.