Cerita

 

Berbekal Pelatihan MAMPU, Ibu Fitriani: Perjuangkan PAUD di Maros, Sulawesi Selatan

9 Mei 2018
Penulis: admin

Fitriani, atau yang kerap disapa Ibu Fitri, adalah salah satu anggota legislatif perempuan di DPRD Maros periode 2014 – 2019. Ia menjadi anggota Komisi III DPRD Maros yang membawahi bagian KESRA, seperti: kesehatan, pendidikan, pertanian, peternakan dan BKKBD.

Sebelum menjadi anggota DPRD, Ibu Fitri adalah aktivis pendidikan berbasis masyarakat yang menangani PAUD, buta huruf, dan siswa putus sekolah usia SMP SMA. Sejak tahun 2000, Ibu Fitri mengelola PAUD di Maros dan pada tahun 2004, rekan-rekannya menjadikan Ibu Fitri sebagai ketua forum PAUD Maros. Pada tahun yang sama, Ibu Fitri tergabung di partai politik dan menyampaikan aspirasinya terkait PAUD kepada rekan-rekan sesama anggota partai yang duduk di parlemen untuk memperjuangkan anggaran PAUD dalam APBD. Menurutnya, hal ini sangat penting karena PAUD sudah menjadi program nasional, namun honor dan biaya transportasi guru PAUD di Maros belum dimasukkan oleh pemerintah daerah. Akhirnya, usulan anggaran guru PAUD masuk pada tahun anggaran 2005.

Wakil Sekretaris DPD PAN Maros ini, baru pertama kali terpilih sebagai wakil rakyat. Pada pencalonan anggota legislatif tahun 2014, Ibu Fitri diminta DPD untuk menjadi salah satu calon anggota DPRD perempuan mewakili Maros wilayah Dapil III yang meliputi 5 kecamatan, antara lain: Bantimurung, Simbang, Camba, Cenrana, Mallawa. Sejak ia masuk dalam daftar pencalegan, Ibu Fitri rutin turun ke masyarakat dan ia tidak merasa kaku lagi karena ia telah membangun di semua desa di 5 kecamatan itu.

Ketika memasuki ranah parlemen atau menjadi anggota partai, menurut Ibu Fitri persaingan antara perempuan dengan laki-laki sangat ketat. Sebagian masyarakat menganggap bahwa perempuan itu tidak mampu  dan tidak bisa menjadi pemimpin. Perempuan hanya bisa mengurus anak. Namun kemudian Ibu Fitri mencoba meyakinkan masyarakat untuk memberikan kepercayaan kepadanya dan menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menjadi wakil rakyat.

“Cara saya meyakinkkan mereka, dengan lakukan kunjungan rutin setiap hari. Ada 7-10 tempat saya kunjungi setiap hari. Dalam satu tempat, kami kumpulkan beberapa orang. Ada kelompok perempuan yang khusus saya kumpulkan, ada juga kelompok bapak-bapak dan ada kelompok campuran”, kisah Ibu Fitri.

Setelah terpilih dan dilantik, mulanya ia belum mengetahui secara detail tentang tugas dan fungsinya sebagai anggota DPR. Kemudian, dengan hadirnya Program MAMPU di Maros, diadakan berbagai pelatihan salah satunya adalah public speaking.  Dari pelatihan ini, Ibu Fitri mengungkapkan bahwa ia belajar bagaimana bercerita di depan umum, serta mengetahui cara berpidato yang bagus dan bisa menarik konstituen.

Pelatihan lain yang dirasakan manfaatnya bagi Ibu Fitri adalah pelatihan perancangan perda, penganggaran, tugas dan tupoksi mereka sebagai aleg, pengawasan serta legal drafting. Program MAMPU turut melakukan pendampingan dan pelatihan dalam proses pembentukan Pansus PAUD dan Perda PAUD.

Yang lebih penting lagi, setelah mengetahui bahwa Perda PAUD adalah perda inisiatif DPR, dengan pendampingan MAMPU, kami jadi tahu proses dan alur pembuatan produk perda yang ideal. Alur itu kami lalui satu per satu dan kami turun ke lapangan untuk menggali gagasan baik dari pelaku PAUD, anak didik, orang tua bahkan dinas pendidikan”, ucap Ibu Fitri.

Saat melakukan assesment pengumpulan gagasan tersebut, Ibu Fitri bersama anggota DPRD lainnya menemukan bahwa raperda PAUD itu sangat dibutuhkan masyarakat di daerah, karena  PAUD sangat menunjang anak yang akan memasuki jenjang pendidikan dasar.