Cerita

BaKTI: Selaraskan Kemampuan Bertani dan Berorganisasi di Kelompok Konstituen Belu

Pada 26-28 Oktober 2016 bertempat di Kantor Desa Leun Tolu, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur dilaksanakan Pelatihan Pertanian Alami. Desa Leun Tolu merupakan salah satu wilayah dampingan Program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan) -Yayasan BaKTI di Kabupaten Belu. Pelatihan Pertanian Alami ini adalah salah satu bentuk penguatan Kelompok Konstituen (KK) di Kabupaten Belu. Di Kabupaten Belu, Yayasan BaKTI bekerjasama dengan PPSE KA (Panitia Pengembangan Sosial Ekonomi-Keuskupan Atambua) dalam Program MAMPU. Diharapkan nantinya, peserta yang merupakan Kelompok Konstituen Kab. Belu mampu membuat perencanaan pertanian yang matang sehingga mendapatkan manfaat yang maksimal dalam usaha pertanian mereka.

Armin Salassa, pemateri dalam pelatihan tersebut mengatakan bahwa, tujuan dari pelatihan ini agar peserta: (a) mempunyai pengetahuan terkait dengan pertanian alami dalam pembuatan pupuk kompos (b)  memahami siklus tanaman; (c) memberi nutrisi bagi tanaman, (d) peserta juga bisa lebih memperkuat koordinasi internal kelompok konstituen untuk mengelola usaha pertanian di kelompok mereka. serta mempunyai perencanaan yang baik dalam usaha pertanian mereka.

Dalam pelatihan ini ada tiga hal penting  yang peserta pelajari, yaitu: (1) Pertanian Alami, (2) Organisasi, dan (3) Perencanaan Usaha Pertanian. Faktor yang berpangaruh dalam pertanian alami sendri adalah tanah, bibit, perawatan, air, tanaman, hasil panen, harga, dan nutrisi.

Organisasi yang kuat akan menjadi salah satu faktor penting dalam memperkuat posisi petani ketika berhadapan dengan berbagai kondisi, termasuk dalam mengembangan usaha yang kompetitif. Oleh karena itu, selain memberikan materi terkait dengan pertanian alami, kegiatan tiga hari ini juga memberikan pengetahuan mengenai penguatan organisasi dan pengembangan usaha. Sejalan dengan pertanian alami yang diterapkan di dalam suatu komunitas, desa, atau wilayah, organisasi dan perencanaan usaha juga harus diperkuat.

“Dalam bertani kita sendiri yang harus mempelajari keseluruhan proses. Kita sendiri yang menjadi murid dan gurunya. Sedangkan pada aspek organisasi dan perencanaan usaha pertanian harus mempunyai visi-misi, program kerja, kegiatan, partisipasi anggota, dan kerjasama dalam membangun jejaring. Kedua hal tersebut harus dipelajari secara bersamaan,” tambah Armin.

Ketika pemahaman tentang cara bertani yang baik dan cara mengelola usaha pertanian dalam kelompok dapat dilaksanakan beriringan, maka bukan tidak mungkin kesejahteraan Kelompok Konstituen Kab. Belu dapat beranjak naik.

Mari kita bertani selaras alam!

 

Dilaporkan oleh: Siju Moreira dan M. Ghufran H. Kordi K. (BaKTI)