Cerita

Ali Baba: Kini Pak RT Mau Menyapu

Tabu rasanya bagi laki-laki di Pulau Satando jika mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang mereka tahu, mengurus anak dan rumah adalah pekerjaan perempuan.

“Yang kita tahu, perempuan itu ya tempatnya di belakang saja,” kata Pak Ali Baba, Ketua RT Pulau Satando. Bahkan di pulau ini, ketika suami-istri menyantap ikan, kepala ikan harus diberikan kepada suami—karena lelaki adalah kepala rumah tangga, sementara istri mendapat bagian ekor saja.

“Mau keluar rumah pun biasanya dibatasi oleh suami,” ujar Ibu Diana, istri Pak Ali Baba.

Pemahaman Pak Ali Baba mulai bergeser ketika suatu hari istrinya pulang ke rumah setelah mengikuti sosialisasi program kesetaraan gender dari Sekolah Perempuan binaan Yayasan Pengkajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) yang didukung oleh Program MAMPU.

“Di situ Ibu bercerita bahwa tadi diajari mengenai seks dan gender. Dulu saya tidak tahu apa itu gender. Sekarang saya tahu bahwa masyarakat yang buat itu,” ujar Pak Ali Baba sambil tertawa. “Bahwa gender itu bisa berubah karena gender cuma masyarakat saja yang buat. Yang tidak bisa kita ubah adalah alat-alat biologis.”

“Ya, setelah pulang itu kan saya cerita sama suami, oh, ternyata perempuan itu juga bisa kerja,” tambah Ibu Diana.

Pak Ali Baba begitu tertarik mendengarkan cerita Ibu Diana mengenai pelatihan yang baru saja diikutinya. Ia merasa wawasannya telah bertambah sedemikian luas. Maka, ketika Ibu Diana diundang untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan Sekolah Perempuan di Makassar, Pak Ali Baba mendukungnya sepenuh hati.

Walaupun berat, tapi saya dukung, saya mau Ibu bisa maju. Saya juga bangga Ibu bisa punya pendidikan, biasanya Ibu hanya mengurus rumah dan anak,” katanya seraya bertukar pandang dengan sang istri sambil tersenyum.

“Katanya dia juga senang istrinya bisa dapat pengalaman,” Ibu Diana menambahkan sambil tersenyum. “Di pulau kan terbatas, yang Ibu tahu cuma masak, cuci, kita juga bosan.”

Berbekal cerita-cerita yang disampaikan Ibu Diana kepadanya sepulang pelatihan-pelatihan Sekolah Perempuan, Pak Ali Baba pun mengaku mulai mengubah perilakunya sehari-hari. “Karena kan sekarang saya sudah tahu, sudah paham masalah gender ini. Jadi saya juga menyapu sekarang,” kata Pak Ali Baba.

“Dulu biasanya kalau sudah pulang melaut, dia tidur saja! Tidak pikirkan saya yang sedang jemur ikan,” canda Ibu Diana. “Tapi sekarang sudah berubah, sudah bisa kerjasama. Kalau saya sedang pergi pelatihan, Bapak yang urus anak-anak dan masak. Anak kami ada dua: satu lelaki, satu perempuan.”

Sehari-hari, Pak Ali Baba memang berprofesi sebagai nelayan, namun ia juga menjabat sebagai Ketua RT Pulau Satando. Pemahaman yang telah ia dapatkan mengenai kesetaraan gender juga ia terapkan dalam kebijakan pemerintahannya.

“Dulu rapat-rapat kan perempuan tidak ikut,” katanya. “Yang dipentingkan lelaki saja, perempuan di belakang. Sekarang sudah tidak lagi. Bahkan masalah catat-mencatat juga Ibu sekarang sudah bantu saya. Dulu juga kalau ada tamu dari desa, hanya saya sendiri yang temui.”

“Iya, dulu saya di belakang,” Ibu Diana menyambar. “Dulu kan saya tidak penting. Tapi sekarang tidak lagi. Sekarang, kalau Bapak jalan, saya juga ikut. Dulu juga kalau kerja bakti hanya lelaki saja yang bekerja, sekarang perempuan juga bisa ikut.”

Sebagai Ketua RT untuk sekitar 300 orang penduduk, Pak Ali Baba berusaha memberi contoh bagi lelaki-lelaki di pulaunya melalui apa yang ia lakukan dalam keluarga sehari-hari. Masih banyak lelaki yang ‘gengsi’ jika mengambil air, menyapu, mencuci piring, dan membantu-bantu di rumah. Pak Ali Baba berusaha menepis anggapan ini dengan melakukan semua itu. Ia juga selalu berusaha mengikuti kegiatan-kegiatan pelatihan ibu-ibu yang diadakan di rumahnya. Biasanya, tiga kali seminggu, ibu-ibu di pulau menggelar pertemuan dan kumpul-kumpul.

“Sekarang sudah tidak ada ibu-ibu yang dilarang-larang pergi atau berkumpul oleh suaminya. Semua sudah boleh, dan sudah diperingatkan—karena Pak RT juga kan jadi contoh,” ujar Ibu Diana senang. “Biasanya ketika berkumpul kita belajar banyak hal, mulai dari masalah alat reproduksi, pengobatan dan kesehatan gratis, pembedaan gender, dan lain-lain. Lalu kita juga tahu bahwa kekerasan rumah tangga, misalnya, tadinya kita hanya tahu itu kalau dipukul saja. Ternyata kekerasan banyak macamnya. Dikucilkan atau dikata-katai juga kekerasan. Nah, ini saya cerita lagi sama Bapak, jadi Bapak juga tahu.”

Sebagai pasangan suami-istri, Pak Ali Baba dan Ibu Diana sadar bahwa mereka dapat menjadi contoh bagi masyarakat Pulau Satando untuk menujukkan kesetaraan gender dalam berumah tangga.

“Ini juga membuat rumah tangga kami lebih harmonis,” kata Pak Ali Baba sambil tersenyum kepada Ibu Diana.

Penyempurnaan dari cerita Most Significant Change dari KAPAL Perempuan YKPM di Pulau Satando, Provinsi Sulawesi Selatan.