Cerita

Bidan Murni Berkeliling Desa Serukan Deteksi Dini Kanker Serviks

Ada sekitar dua puluh perempuan Desa Bonto Maccini di Kecamatan Sinoa, Bantaeng, Sulawesi Selatan yang berkumpul di teras Posyandu siang itu. Kebanyakan berusia 20 – 30an, namun ada juga beberapa orang yang sudah berusia lanjut, atau justru masih remaja. Mereka serius menonton sebuah video mengenai bahaya kanker serviks: gejala-gejalanya, gaya hidup yang berpotensi memicunya, dan pentingnya melakukan deteksi dini terhadap kanker ini lewat tes IVA dan Pap smear. Sesekali, seorang perempuan paruh baya menekan tombol pause dan menjelaskan isi video yang baru saja mereka tonton dalam Bahasa Makassar. Perempuan itu adalah Bidan Murni.

“Kalau di desa kan beda dengan di kota, di sini lebih banyak tantangannya, terutama dari tingkat pemahaman dan pendidikan masyarakatnya. Kalau sedang dijelaskan, kadang saya tidak tahu mereka mengerti apa tidak. Kalau mengerti diam, kalau tidak mengerti juga diam. Jadi biasanya saya tes, saya tanya dan suruh ulang jawabannya, supaya saya tahu mereka sudah paham atau belum. Jadi ya, harus sabar pendekatannya,” terang Bidan Murni.

“Ada juga yang tidak terlalu paham jika dijelaskan dalam Bahasa Indonesia, jadi biasanya saya selingi juga dengan Bahasa Makassar”, tambahnya.

Di usianya yang sudah mendekati akhir empat puluhan, Bidan Murni masih bersemangat berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memberikan penyuluhan mengenai pentingnya melakukan deteksi dini kanker serviks—terutama bagi para perempuan usia subur. Siang itu, ia sedang menjenguk Posyandu di Desa Bonto Maccine. Ia sendiri sebenarnya bertugas sebagai bidan Poskesdes di Desa Bonto Tiro.

“Dulu kan untuk bisa tes IVA harus ke Makassar dulu, saya juga pernah melakukan tes ini di Makassar. Setelah sekian tahun berjalan, barulah ini diperkenalkan ke desa-desa. Pas, ada kegiatan program MAMPU-‘Aisyiyah untuk melatih bidan-bidan bagaimana cara melakukan tes IVA. Setelah itu kita bisa lakukan sosialisasi dan melakukan tes terhadap ibu-ibu yang ada di desa”, kata Bidan Murni.

Bersama bidan-bidan lain dari berbagai Puskesmas di beberapa desa di Kabupaten Bantaeng, Bidan Murni memang telah mendapatkan pelatihan mengenai cara-cara melakukan tes IVA. Pelatihan dilakukan selama 2 hari penuh.

“Ya, sosialisasi itu di awal-awal banyak tantangannya, karena orang belum tahu apa itu kanker serviks. Ada juga suami-suami yang melarang istrinya ikut tes IVA, karena mereka bilang kamu kan tidak sakit, kenapa harus ikut tes? Saya harus jelaskan bahwa justru tes ini untuk tahu, kamu sakit atau tidak. Karena gejala kanker serviks baru terasa benar ketika dia sudah masuk stadium 2,” Bidan Murni menjelaskan. “Kalau sudah diketahui sejak dini kan lebih bisa cepat diobati.”

Gejala kanker serviks biasanya melibatkan pendarahan di luar haid, nyeri saat berhubungan badan, nyeri panggul, atau pendarahan saat usai melakukan hubungan seks.

“Keputihan yang banyak juga bisa jadi gejala,” kata Bidan Murni. “Nah, seperti keputihan itu kan biasanya kalau orang keputihan malah keputihannya saja yang diobati. Padahal bisa jadi ini gejala.”

Mengetahui bahaya kanker serviks dan pentingnya melakukan deteksi dini ternyata tak lantas membuat perempuan-perempuan desa berbondong-bondong mengikuti tes IVA—walaupun di beberapa desa sasaran, biaya tes ini sepenuhnya gratis.

“Ya, mereka pikir tes IVA itu sakit. Karena dengar ada alat yang dimasukkan ke dalam kelamin. Lalu, karena mereka juga harus buka-bukaan memperlihatkan alat kelamin, mereka malu,” ujar Bidan Murni.

“Ini sama saja ketika misalnya mereka mau pasang KB. Maunya hanya suntik terus. Padahal mereka paham alat KB itu bisa dites, mana yang cocok dengan kita. Kalau tidak cocok kan kita bisa sakit kepala, ada nyeri haid, dan keluhan lainnya. Tapi mereka tidak mau pasang spiral atau IUD salah satunya karena untuk itu kan harus buka-bukaan juga, mereka malu.”

Sejauh ini, sudah ada sekitar 40 orang perempuan usia subur yang mengikuti tes IVA di daerah sasaran Bidan Murni.

“Kalau target dari program itu kan 90 orang,” ujarnya.

Jadi ini sudah hampir 50%-nya.”

Agar lebih banyak lagi perempuan melakukan deteksi dini kanker serviks lewat tes IVA, Bidan Murni pun mendorong perempuan-perempuan yang telah melakukan tes untuk bercerita tentang pengalaman mereka dengan kawan-kawannya.

“Nanti kan yang sudah pernah tes akan cerita, oh ternyata tidak sakit, dan tidak apa-apa buka alat kelamin karena kan yang lihat bidan saja. Jadi dari situ mereka sudah mulai mau tes, walaupun terkadang masih malu kalau datang sendiri, jadi harus berdua-dua, maunya ditemani oleh kawannya.”